Friday, 07 May 2021


Bedol Akan Bagi Seribu Sarang Madu Kelulut untuk Milenial

27 Apr 2021, 10:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Madu Kekulut di Aceh | Sumber Foto:Dok Pribadi

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Abdul Muin alias Bedol, Ketua Kelompok Tani Desa Pahlawan Karang Baru, Aceh Tamiang. Selain giat menanam cabai merah dan sayuran organik di pekarangan rumahnya, ia juga ada menanam padi organik di lahan sawah seluas 1 hektar. Selain itu dia juga menambah usaha sampingan dengan beternak madu kelulut (Trigona) di pekarangan.

Pertama kali tertarik dalam budidaya madu kelulut pada tahun 2017. Awalnya dirinya sempat menjadi bahan ledekan tetangga karena bentuk sarang/stupa yang dibuatnya seperti mainan anak-anak.

Namun seiring berjalan nya waktu dia merasa mantap dan semakin yakin untuk menjalankan bisnis tersebut. Karena memiliki khasiat dan sejuta manfaat untuk kesehatan.

Dia juga sudah melakukan testimoni untuk kalangan keluarga sendiri. "Jawaban mereka tak meleset, ternyata benar ada manfaat yang luar biasa mantap", ujarnya. 

Mulai dari situlah Bedol mengajak teman-teman yang belum bekerja, untuk beternak serta membudidayakan madu kelulut dengan serius, tujuannya hanya ingin menambah ekonomi keluarga.

BACA JUGA:

Informasi terkait madu kelulut diperoleh dari temannya di Julok, Aceh Timur. Kemudian Bedol membentuk tim kerja mencari sarang madu di kampung, pedalaman desa hingga keluar masuk hutan.

Waktu itu sarangnya dibeli dengan harga Rp 100.000, namun sekarang harganya mencapai Rp 400.000. Biasanya sarang madu tersebut didapat pada pepohonan Rambung, Durian, Rambutan dan pohon lainnya yang umurnya sudah menua berkisar 20 - 25 tahun. Ditandai kondisi tanamannya yang sudah rapuh dan lapuk sehingga kelulut mudah membentuk sarang. 

Pada tahun 2017, di pekarangan rumahnya hanya ada 10 stupa, namun seiring dengan banyaknya permintaan dan terus meningkat, maka sekarang ini sudah mencapai 40 sarang madu yang dibudidayakannya.

Menurut pengakuan beberapa konsumen yang menderita penyakit lambung (kecemasan) dan diabetes katanya merasakan khasiat dan manfaat dari madu kelulut ini. Bahkan ada konsumen yang memesan khusus untuk keharmonisan keluarga. "Khasiatnya selain ampuh juga lebih dahsyat dari madu biasa", jawabnya sambil promosi.

Secara normal, budidaya madu kelulut memasuki masa panen per musimnya selama 4 bulan pemeliharaan dan  menghasilkan madunya sekitar 5 - 6 liter.

Namun ketika musim berbunga pada beberapa tanaman durian dan rambutan, panennya bisa lebih cepat karena kelulut akan mengeluarkan madu dalam jumlah banyak setiap minggunya. Dari musim berbunga, jumlah madu yang bisa di panen per minggu dari 40 sarang yaitu sebanyak 20 liter.

Karena khasiat dan manfaatnya, harga di pasaran termasuk tinggi, per liternya antara Rp 500.000 - Rp 600.000. Terkait pembelinya sudah ada konsumen tetap yang berlangganan. "Bahkan, ada pembeli yang minta dikirim langsung ke alamatnya baik dari Medan maupun Banda Aceh", katanya.

Untuk eceran 250 ml harganya Rp 150.000. Umumnya begitu panen biasanya madu habis terjual. Namun kalaupun ada sisa akan disimpan untuk stok saat madu tidak berproduksi. 

Kalau tidak ada musim bunga biasa panennya butuh waktu  selama 1 hingga 4 bulan. Untuk mengantisipasinya lanjut Bedol, dia sengaja menanam bunga bunga di sekitar lokasi budidaya, sehingga dapat berproduksi secara berkelanjutan.

Dalam mendukung kelancaran usahanya, Bedol menyerap tenaga kerja yang dibayar Rp 50.000 per liternya. Keuntungan yang diperolehnya per minggu lumayan besar sekitar Rp 12  juta.

Dalam memperbanyak sarang budidaya, selama ini Bedol membentuk tim khusus terdiri empat orang yang dibiayai lengkap dengan perbekalan selama berada di hutan.

Jika saat panen Bedol menyediakan peralatan dan pakaian khusus untuk petugasnya. Waktu pemanenan hanya 15 - 20 menit per liter. Jadi untuk jumlah madu 20 liter katanya, dibutuhkan waktu 5 jam dan mendapat upah Rp 1 juta.

Karena prospeknya secara ekonomi sangat menjanjikan, kini Bedol juga membina para peminat usaha kelulut. Sekarang di desa Pahlawan di enam tempat dalam kecamatan Karang Baru ada 200 sarang, di Gunung Pandan kecamatan Tamiang Hulu 50 sarang serta 50 sarang  lagi di Biren Bayen, Aceh Timur, totalnya ada 300 sarang madu kelulut.

Dengan banyaknya peminat budidaya madu kelulut, tugasnya sekarang ikut memberikan pendampingan secara teknis budidaya hingga panen.

Selain itu lanjutnya, para peternak madu sudah tergabung dalam Inspirator Lebah Madu Indonesia (ILMI). Wadah tersebut sebagai ajang sosialisasi dan memberikan solusi ketika ada permasalahan yang muncul. Setelah mengikuti diklat, kini kapasitas Bedol adalah sebagai pembina. Anggotanya kata dia lagi, semua sudah tercatat dan terdaftar jadi tidak ada yang liar.

Jika panen mereka boleh menjual sendiri madunya. Namun dia juga bersedia untuk menampung dan membelinya. Jadi tidak perlu ragu dan khawatir dalam hal pemasaran.

Yang perlu kita perhatikan katanya, dalam budidaya kelulut harus terhindar dari serangga (semut) ataupun cecak di sekitar lokasi sarang. Hal ini penting agar koloninya tidak lari dan berpindah.

Pengalamannya dimasa awal membudidayakan kelulut tahun 2017 - 2018 sempat gagal. Karena belum mengetahui bahwa keberadaan semut dan cecak dapat mengganggu sarang. Untuk itu, perlu dioleskan oli dan menjaga kebersihan disekitar sarang.

Terkait izin edar dan BPOM masih dalam pengurusan, namun kalau dari Kemenkesnya sudah ada.

Keseharian Bedol selain sebagai ketua kelompok tani Serasi desa Pahlawan kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang juga sebagai instalateur listrik.

Ketika Sinar Tani menghubungi, dirinya tengah mempersiapkan pembentukan koperasi bersama Kadistanbunnak Aceh Tamiang, mendukung program pertanian organik yang dicanangkan Bupati.

Kedepan Bedol ingin membuat program untuk budidaya madu kelulut ini. "Rencana saya akan memberdayakan milenial dengan  membagikan 1000 sarang untuk yang ingin bergabung", tantangnya.

Dengan begitu dapat mengatasi angka pengangguran dan tingkat kesejahteraan masyarakatpun semakin meningkat, apalagi dengan sistem bagi hasil. "Jadi tidak ada istilah rugi, malah kita dapat meraup keuntungan bersama", pungkasnya.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018