Wednesday, 04 November 2026


Swasembada Pangan di Mata Nitizen, Ini Hasil Survey INDEF

04 Nov 2026, 12:53 WIBEditor : Yulianto

Pengadaan beras Bulog capai 5 juta ton

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Program swasembada pangan menjadi salah satu kebijakan pemerintahan yang paling mendapat sorotan masyarakat. Untuk mengetahui sejauh mana pendapat nitizen, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mencoba melakukan survei.

Bagaimana hasilnya? Lembaga riset independen dan otonom yang berdiri pada Agustus 1995 di Jakarta menyebutkan, berdasarkan analisis big data media sosial yang dilakukan Continuum INDEF, swasembada pangan mencatat sentimen positif sebesar 73,4 persen, tertinggi dibandingkan tujuh program utama pemerintah lainnya.

Temuan tersebut tertuang dalam kajian 2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo di Mata Netizen yang dipaparkan dalam Diskusi Publik INDEF di Jakarta, 20 Oktober 2026. Dari delapan program utama yang dianalisis, swasembada pangan menempati posisi teratas dalam proporsi sentimen positif, mengungguli Cek Kesehatan Gratis sebesar 67,8 persen dan Sekolah Rakyat sebesar 54,9 persen.

Apresiasi masyarakat terhadap program swasembada pangan juga tercermin dari 58 ribu perbincangan di media sosial sepanjang 1 Januari hingga 30 September 2026. Dalam analisis tersebut, netizen memberikan dukungan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, termasuk melalui ungkapan terima kasih atas kerja nyata pemerintah.

Selain itu juga nitizen memberikan apresiasi terhadap stok pangan nasional yang dinilai aman, serta sorotan positif terhadap ketersediaan beras Bulog dan keterlibatan TNI/Polri dalam menjaga ketahanan pangan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa swasembada pangan bukan hanya menjadi agenda strategis pemerintah, tetapi juga program yang memperoleh pengakuan publik karena manfaatnya dinilai langsung berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Di tengah berbagai perbincangan kritis terhadap program pemerintah lainnya, swasembada pangan justru konsisten memperoleh apresiasi positif.

Capaian persepsi publik tersebut sejalan dengan perkembangan produksi pangan nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi Indonesia pada Januari-Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 0,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Luas panen juga mencapai 8,32 juta hektare atau tumbuh 0,11 persen. Sementara produksi beras untuk konsumsi masyarakat mencapai 25,29 juta ton, naik 0,07 persen dibandingkan Januari-Agustus 2025.

Angka tersebut telah berstatus angka tetap karena penghitungan luas panen dan produktivitas pada periode tersebut telah menggunakan data final. Capaian ini menjadi penting karena sektor pertanian menghadapi tantangan perubahan iklim dan potensi El Nino. Kementan terus memperkuat mitigasi melalui optimalisasi pompanisasi, pengelolaan sumber daya air, serta dukungan sarana produksi untuk menjaga keberlanjutan aktivitas pertanian.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018