Sunday, 09 May 2021


Teknik Imam Qoerdi Membibitkan Tanaman Buah Tin

27 Apr 2021, 09:28 WIBEditor : Ahmad Soim

Cara membibitkan tanaman buah tin | Sumber Foto:Soleman

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang -- Tanaman Tin yang sering kita kenal berasal dari daerah Arab, juga  sudah tersebar ke seluruh dunia. Tanaman ini sudah banyak disilang-silangkan sehingga tumbuh beberapa varietas baru seperti Konadria, Panake dan lainnya.

 Imam Qoerdi M.Oe membudidayakan pembibitan tanaman Tin sejak tahun 2014, selama 1 tahun bergerak secara sendiri. Ternyata tanaman tersebut laku dijual, Kemudian dia mencari teman-teman yang ada di daerah sekitar Malang,  kurang lebih ada 20 yang budidaya tanaman Tin. “Saya kumpulkan, kemudian saya membentuk group tanaman Tin untuk wilayah Malang, selanjuttnya secara struktur ada sampai tingkat se-Indonesia, selama 3-4 tahun ini saya masih koordinatornya wilayah Malang,”katanya.

Untuk pembibitan sebagian dilakukan di rumah, sebagian di lahan, bersama teman-teman di daerah Poncokusumo Tumpang. Varietasnya yang dikembangkan  ada buah warna hijau, buah warna kuning, hitam, doreng, merah, serta jenis lainnya.

“Awalnya teman-teman itu impor, kemudian dikembangkan di Indonesia, macam-macam, kalau Brown Turki yang dari Turki, Blue Giant dari Amerika, TGF Jumbo dari Thailand, Jihong dari China, sebenarnya sudah dikembangkan sejak dulu, sampai disilang-silangkan,”imbuhnya.

Menurutnya, uniknya untuk menyilangkan tanaman Tin adalah dengan bunganya karena bunganya itu ada di dalam buah, buahnya  ada didalam lagi, buahnya itu banyak, ada yang kecil-kecil, ada benang sari dan bakal buah, itu diserbukkan, disuntik,”katanya.

“Secara umum penyerbukan tanaman Tin dengan bantuan hewan, kalau tidak ada hewan, dengan cara menotong buahnya terus dengan cara diinjeksikan,”imbuhnya.

Perkembangbiakan dengan cara stek batang kemungkinannya kecil untuk hidup, cara ini bisa dilakukan dengan catatan batangnya tua dan besar selanjutnya  ditancapkan ke dalam tanah yang lembab.

Teknik yang paling umum adalah dengan mencangkok, “kami semua pakai cangkok, setelah dicangkok kalau kita ingin bibit yang bagus kita okulasi atau menempelkan untuk perbaikan varietas,”jelasnya.

BACA JUGA:

Waktu yang diperlukan untuk mencangkok kurang lebih 3 minggu sampai 1 bulan, media yang digunakan kompos dari  daun-daun bambu kering, media cocofit tidak baik kalau digunakan waktu musim hujan karena menyerap air, sedangkan pada musim kemarau  media ini bagus untuk dimanfaatkan, bisa juga dengan tanah saja, kemungkinan juga akan berhasil.

Hasil setelah pencangkokan dapat ditanam ke dalam polibag, kira-kira perlu waktu 5 - 6 bulan sudah berbuah, sedangkan kalau ditanam langsung di tanah waktunya bisa mencapai 1 tahun baru berbuah, hal ini karena kalau ditanam di tanah pertumbuhan vegetatifnya lebih besar, sedang di polibag banyak tertekannya jadi mudah berbuah.

“Kalau kami ingin mengeluti sesuatu perlu teman banyak, pengetahuan banyak, maka informasi lewat WA, IG bisa Kopdar untuk yang bikin semangat,”katanya.

“Kalau saya program untuk penghijauan di lingkungan, sambil mengembangkan dan tahu tanaman Tin, supaya bisa berkembang saya harus menjual, otomatis dikenal, 

kalau kita mengembangkan tanpa menjual maka kita mengeluarkan biaya terus,”imbuhnya.

Imam, yang berprofesi sebagai guru ini telah mengembangkan hampir 60 macam varietas, pada awalnya menanam di belakang rumah, kemudian dibeberapa jalan dan di rumah kakaknya ditanami bauh Tin semua. Pada saat itu sudah berbuah lantas rumahnya sudah ditempati, akhirnya ditaruh di jalan semua, kemudian yang di dalam digunakan menanam tanaman aglonema.

“Kalau orang-orang di sini kan sudah bosan, supaya tidak ada yang bermaksud mengambilnya saya membuat penghijauan tanaman Tin, jadi orang di sini dengan tanaman Tin sudah biasa, kalau sudah tahu masak mau mengambil, kan ngak mungkin,”katanya.

“Teknik saya seperti itu, walaupun tanaman saya taruh di luar tidak akan ada yang mengambil, tanaman harga 250 tidak ada yang mengambil, kalau warga terus terang saya kasih harga biasa, jenis-jenis tertenttu, saya kasih tanamannya saja, kalau tidak begitu akan habis disambungkan,”imbuhnya.

Menurut Iman, kendala utama tanaman buah Tin yang pertama  adalah pada waktu musim hujan banyak jamur, pada buahnya, juga batangnya, solusinya batang bawah itu harus bebas dari daun tanaman-tanaman liar sehingga sinar matahari masuk secara langsung, yang kedua adalah jamur karat daun, jadi warna karat, solusinya dikasih fungisida, tapi kalau difungisida tidak bisa dimanfaatkan daunnya sebagai bahan pembuatan Teh.

Imam menyarankan apabila ingin mengembangkan tanaman Tin mengunakan sistem Green house diusahakan harus tinggi minimal 3 meter karena tanaman bisa tinggi, untuk mengatasinya harus di potong pendek atau prouning, 

Tanaman Tin sendiri pada musim hujan masih bisa tetap berbauh, akan tetapi hamanya pasti ada, seperti hewan semacam Kepik, dimana yang makan banyak itu biasanya anak-anaknya yang masih larva, dimakan daunnya, kalau sudah habis daunnya buahnya akan dimakan juga.

Menanam di lahan pertanian hamanya banyak terutama penggerek batang, menyerang batang dari bawah sehingga bisa putus, biasanya penanganannya batang dibor untuk dikeluarkan hamanya, bila tidak terkendali batang akan berlubang-lubang dan akhirnya bisa menyebabkan batang menjadi patah.

Imam berharap tanaman Tin bisa dikembangkan di daerah Malang dan sekitarnya, tentunya adanya campur tangan pemerintah sangat diharapkan untuk bisa berkembang, misalnya dibantu masalah lahan serta teori-teorinya.

Hasil pembibitannya biasanya dijual dengan harga bervariasi antara  45 ribu sampai 90 ribu, untuk tanaman yang sudah besar dijualnya dengan harga 250 ribu, sedangkan harga bauhnya berkisar 100 ribu sampai 250 ribu untuk setiap kilonya. Buah Tin sendiri dikenal mempunyai banyak manfaat diantaranya meningkatkan kesuburan bagi wanita dan disarankan bagi yang baru menjalani operasi.

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018