Friday, 07 May 2021


Lima Standar untuk Aplikasi Pertanian Singkong Berkelanjutan dari Amerika

27 Apr 2021, 08:31 WIBEditor : Ahmad Soim

Dalbo dan pertanian singkong berkelanjutan | Sumber Foto:Suroyo

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Serang, Pertanian berkelanjutan merupakan pertanian yang selaras dengan alam. Dengan perlakuan yang sangat ramah dan baik lewat komitmen pertanian yang sehat dan berdampak baik bagi lingkungan maka pertanian akan menjadi berkelanjutan. Jika pertanian berkelanjutan diterapkan akan berdampak baik juga bagi para petani dan para konsumen.

M Irfan Oktiyan Alumni Program Studi Agroekoteknologi Faperta Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Banten, berkesempatan belajar bagaimana mengelola kebun Singkong agar lolos sertifikasi pertanian berkelanjutan. Sertifikasi ini bertujuan agar bahan baku yang dihasilkan berasal dari kebun yang sehat dan menyejahterakan petaninya dengan menerapkan sistem pertanian berkelanjutan.

Dalbo sapaan akrab M Irfan Oktiyan menyampaikan bahwa standar pertanian berkelanjutan yang digunakan yaitu berdasarkan standar Sertifikasi Rainforest Alliance. “Rainforest Alliance merupakan Badan Sertifikasi Pertanian yang bermarkas di Amerika Serikat dan Belanda serta memiliki kantor cabang di beberapa negara termasuk Indonesia. Badan Sertifikasi ini mengusung konsep pertanian lestari dengan menjaga keseimbangan alam dan pertanian yang berkelanjutan serta peningkatan penghidupan dan kesejahteraan petani,” terang Dalbo.

BACA JUGA:

Menurut Dalbo, Rainforest Alliance ini adalah langkah nyata dalam menerapkan pertanian berkelanjutan karena apabila seorang/kelompok/perusahaan ingin mendapatkan lisesnsinya maka harus mematuhi semua kriteria/standar yang ada di Sertifikasi Rainforest Alliance. Berikut beberapa point kriteria Rainforest Alliance:

Pertama, tanaman yang ditanami tidak termodifikasi secara genetika (GMO). Pangan hasil rekayasa genetika memang bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas serta nilai ekonomi produk. Namun harus kita perhatikan juga bahwa dampak dari produk GMO, yaitu bisa mengganggu keseimbangan ekosistem akibat dominasi GMO atas varietas alami. Hal ini pula yang akan mengancam keanekaragaman hayati. Selain itu, adanya monopoli hak kekayaan intelektual pada produk-produk GMO telah membawa dampak negatif pada masyarakat kecil khususnya para petani kecil

Kedua, melindungi keanekaragaman hayati dengan mengurangi penggunaan bahan kimia. Dalam hal ini, Rainforest Alliance mempunyai daftar bahan kimia mana saja yang dapat digunakan. Tidak sembarang bahan kimia aktif dalam pestisida/herbisida dapat digunakan. Hal ini dikarenakan agar bahan-bahan yang dapat membahayakan ekosistem atau kehidupan mikroorganisme yang baik dalam tanah atau hewan penyerbuk tidak digunakan dalam proses produksi. Apabila pengelola kebun menggunakan bahan kimia yang dilarang oleh Rainforest Alliance maka kebun tidak akan dapat lisensi.

Ketiga, menjaga vegetasi alami. Banyak sekali hutan lindung atau hutan alami yang dikonversi menjadi lahan pertanian. Dalam hal ini, Rainforest Alliance mempunyai ketentuan bahwa lahan yang ingin dilisensi bukan merupakan hutan alami/konservasi dalam 5 tahun kebelakang atau tidak ada sejarah alih fungsi wilayah konservasi pada lahan tersebut. Selain itu apabila di kebun terdapat vegetasi alami sangat dilarang untuk ditebang dan menganjurkan tiap pinggir kebun terdapat pembatas vegetasi untuk mencegah bahan kimia yang tercecer kebawa angin ketika penyemprotan.

Keempat, menjaga Ekosistem. Seringkali kita melihat bahwa banyak petani yang melakukan penyemprotan bahan agrokimia dekat dengan sumber air/ekosistem air. Rainforest Alliance sangat melarang hal itu, bahkan kebun/lahan dianjurkan harus memiliki jarak kurang lebih 15 meter dari ekosistem air agar ekosistem tidak tercemar. Selain itu, di areal kebun tidak boleh ada aktivitas pemburuan.

Kelima, peningkatan penghidupan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka mewajibkan para produsen/individu/kelompok untuk memberikan upah yang layak kepada petani sesuai peraturan daerah setempat dan harus memberikan pelayanan kepada petani berupa pelatihan. Selain itu, keselamatan para petani pun sangat diprioritaskan, segala bentuk alat pelindung diri harus disediakan agar para petani dapar bekerja dengan aman dan nyaman.

Dalbo yang merupakan pemuda asal Tangerang ini menekankan bahwa apabila poin-poin kriteria Rainforest Alliance kita terapkan dalam melakukan aktivitas pertanian maka akan berdampak baik bagi lingkungan juga sosial. “Namun yang sangat disayangkan adalah mengapa lembaga sertifikasi pertanian berkelanjutan yang bermarkas di luar negeri bisa begitu relevan untuk memperbaiki pertanian di Indonesia namun pemerintah sendiri selama ini belum terlihat tegas dalam menjalankan program-program pertanian berkelanjutan. Jangankan menerapkan poin-poin kriteria Rainforest Alliance, terkadang menjaga lahan yang sudah ada pun tak mampu” pungkas Dalbo yang merupakan mantan Ketua BEM Fakultas Pertanian Untirta.

Dalbo berharap agar pertanian di Indonesia dapat menerapkan pertanian berkelanjutan, “kita harus bisa menerapkan pertanian berkelanjutan agar suburnya tanah Indonesia masih bisa dirasakan anak cucu kita. Jika anda bukan petani paling tidak anda berkenan juga menyampaikan kepada suadara anda yang petani agar dapat menerapkan pertanian berkelanjutan sehingga produk yang kita konsumsi dapat aman” ujur Dalbo kepada tabloid sinar tani.

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

 

 

Reporter : Suroyo
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018