Wednesday, 21 October 2026


Singkong Naik Kelas dengan Kreativitas KWT Amanah

08 Jun 2020, 08:40 WIBEditor : Gesha

Singkong naik kelas dengan olahan dari KWT Amanah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jambi --- Banyak cara yang bisa dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pangan lokal yang dikonsumsi masyarakat. Melihat potensi ini, salah satu Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi, KWT Amanah berusaha meningkatkan olahan pangan lokal yang berbahan dasar singkong atau ubi kayu. 

Singkong yang tadinya hanya dikonsumsi biasa dan tidak mempunyai nilai tambah, diolah menjadi panganan yang berkelas dan bernilai. "Singkong mudah ditanam dan diperoleh, sehingga hal inilah yang dapat dijadikan potensi sebagai ladang bisnis yang menjanjikan", ungkap Ico Ordiana, Ketua KWT Amanah kepada tabloidsinartani.com.

Kreativitas Ico dan KWT Amanah ini berawal setelah mengikuti pelatihan pengolahan ikan menjadi produk pangan lokal seperti abon dan keripik pada tahun 2006, Ico Ordiana atau yang biasa dipanggil Diana ini telah melakukan diversifikasi produk baik berupa frozen food maupun produk makanan kering. Hingga saat ini produk yang dihasilkan diantaranya keripik ikan, bakso ikan, mpek – mpek, singkong frozen, rengginang ubi ungu bahkan tepung mocaf.

Produk olahan ini sudah bersertifikat halal dan PIRT sehingga bisa menjadi nilai tambah terhadap produk olahan yang dihasilkan. “Dalam 1 bulan kami membutuhkan singkong sebanyak 100 kg yang kami dapatkan dari petani di Kerinci dan petani di pasar. Singkong inilah yang kami olah menjadi beragam panganan khas,” ujar Diana. 

Untuk pemasaran, KWT ini sangat hebat lantaran olahan singkong dengan merk dagang "IWA-QU" telah menjangkau  swalayan, retail terbesar di Kota Jambi, Mall, toko makanan, kantin – kantin perkantoran dan penjualan online melalui media sosial facebook dan Instagram serta direct selling dengan memberdayakan ojek online.

Untuk mempromosikan produknya serta menambah pengalaman, beberapa kali Diana mengikuti pameran dan lomba produk pangan lokal baik tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Provinsi bahkan tingkat nasional. Inovasi Diana pun mendapat dukungan dari berbagai pihak dan dinas terkait (Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi). 

Diana merupakan salah  satu dari sederet dari enterpreneur pertanian yang sukses melakukan diversifikasi produk pangan. Dimana target pencapaian program pengolahan pangan lokal di Indonesia adalah percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dengan cara memfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman.

Semangat dan kreativitas seperti inilah yang diharapkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam setiap kesempatan. “Di masa pandemi Covid-19 seperti ini ayo kita tingkatkan pemanfaatan setiap lahan untuk produksi sumber pangan. Bahkan di pekarangan rumah bisa ditanami tanaman pangan pengganti beras. Diversifikasi pangan agar masyarakat memiliki ketahanan pangan selain beras”, ungkap Mentan Syahrul.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof. Dedi Nursyamsi mengungkapkan salah satu upaya yang dilakukan  untuk mencapai target ini adalah dengan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah, provinsi dan pihak lain seperti start up untuk mendekatkan petani sebagai produsen dengan masyarakat sebagai konsumen sehingga nilai tambah produk semakin meningkat.

“Penekanan pengolahan pangan lokal ini dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah (value added) melalui kreatifitas usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan kelompok tani. Paradigma pertanian dulu yakni tanam-petik-jual, sekarang setelah dipetik harus diolah dahulu (pascapanen atau pengolahan pascapanen) harus diproses terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai jual.” ucap Prof. Dedi

Reporter : Lely
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018