Wednesday, 21 October 2026


Musim Kemarau Basah, Awas Serangan OPT

30 May 2024, 12:54 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang melakukan pengendalian hama penyakit

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--Musim kemarau tahun ini diprediksi akan lebih basah dibandingkan tahun lalu. Kondisi tersebut wajib diwaspadai petani, karena dikhawatirkan akan ada peningkatan hama penyakit tanaman. Saat ini di beberapa sentra produksi padi, petani mulai mengeluhkan serangan organisme pengganggu tumbuhan.

Kondisi iklim kini memang sulit ditebak. Misalnya, pada tahun 2023 lalu, di seluruh wilayah tanah air dilanda musim kemarau berkepanjangan (El Nino). Bagaimana dengan tahun ini? Berdasarkan data curah hujan dari BMKG, kondisi curah hujan di Indonesia pada triwulan pertama 2024 (Januari, Februari, Maret) rata-rata basah dan sangat basah.

Lebih dari 82% luas sawah baku di Indonesia kondisi curah hujannya basah dan sangat basah. Dengan sifatnya normal 42 ?n 39% diatas normal. Kondisi iklim yang lembab tersebut ternyata berdampak pada meningkatkan hama dan penyakit tanaman. Peneliti Ahli Utama BRIN, Aris Pramudia mengatakan, kondisi La Nina di musim kemarau berdampak positif maupun negatif. 

Positifnya ada peluang peningkatan area tanam dan produksi, namun ada konsekuensi lain yaitu berkembangnya hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

Berdasarkan data historis bila terjadi La Nina akan ada peningkatan OPT. Seperti tahun 1998-1999 salah satu OPT  yang meningkatan cukup signifikan pada saat La Nina adalah Wereng Batang Cokelat (WBC). Begitu juga di tahun 2010-2011 dam pada tahun 2017 yang lalu, serangan WBC meningkat.

“Kapan ketika La Nina peningkatan OPT terjadi? Kalau dilihat dari grafik dan terjadi di tahun 1998-1999 peningkatan WBC terjadi di akhir musim kemarau atau di musim tanam gadu. Ini yang mungkin akan kita hadapi dan kita perlu wasapada dan persiapan pengendalian OPT di akhir MK di 2024,” tuturnya.

Keluhan terhadap adanya serangan hama penyakit diungkapkan, Trisna Gunawan, Kepala UPTD Pertanian  Kecamatan Jayakerta, Karawang. Kepada Tabloid Sinar Tani, Trisna mengakui, pada musim rendeng kalinini  banyak pertanaman padi di Kecamatan Jayakerta terkena serangan penggerek batang. OPT yang menyebabkan sundep ini menyerang pada masa vegetatif.

“Hama sundep ini juga banyak menyerang pertanian padi sawah kecamatan lain di Kabupaten Karawang,” ujarnya. Trisna memperkirakan, lahan sawah di Kecamatan Jayakerta yang terserang sundep mencapai sekitar 140 ha. Pihaknya kini terus melakukan pengamatan bersama petugas POPT ke desa yang dilaporkan terkena serangan sundep.

Untuk mengantisipasi atau penanggulangan, UPTD Kecamatan Jayakerta telah melakukan langkah mulai dari melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) bersama para petani. Pihaknya mengumpulkan petani dan melakukan penyemprotan massal untuk pengendalian penggerek batang tersebut.

Guna mencegah serangan OPT lagi, Trisna mengaku pihaknya terus mengedukasi petani untuk penanggulangan hama penggerek batang secepat mungkin karena serangannya cukup sporadis.

“Dalam 1 kelompok telur berjumlah 100-150 butir, 1 kupu-kupu bisa bertelur 2-3 kali sebelum hama itu mati. Kalau bertelur 2 kelompok telur, maka bisa jadi kurang lebih akan ada 300 ulat. Kalau 1 ulat bisa menyerang 2-3 batang tanaman padi maka akan terjadi kerusakan yang cukup luas,” tuturnya.

Karena itu, Trisna mengaku penggerek batang atau sundep ini harus di antisipasi secara tepat dan cepat. Bila tidak maka dikhawatirkan akan merusak kondisi pertanaman dan makin meluas di pertanaman lainnya.

Selain penggerek batang padi, hama wereng juga menjadi tamu langganan petani. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018