Wednesday, 21 October 2026


Ibarat Tamu Tak Diundang, Kendalikan OPT Sejak Dini

30 May 2024, 13:03 WIBEditor : Yulianto

Gerakkan pengendalian hama penyakit tanaman

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Serangan hama dan penyakit tanaman memang ibarat tamu tak diundang yang selalu datang saat musim tanam tiba. Jika tidak dikendalikan, maka gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tersebut bisa merontokkan produksi pangan.

Karena itu Kementerian Pertanian mengingatkan petani untuk mewaspadai serangan hama dan penyakit sedini mungkin. Salah satunya adalah melihat gejala munculnya hama penyakit saat tanaman masih dipesemaian. Dengan mengantisipasi sejak awal, diharapkan petani lebih mudah mengendalikan gangguan serangan OPT tersebut.

Pesan tersebut disampaikan saat Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi saat melakukan percepatan tanam di Kecamatan Karang Mojo, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Hal yang sama juga ketika melakukan gerakkan pertanaman di Desa Karakan, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu, (25/5).

Suwandi mengingatakan kepada petani dan penyuluh pertanian agar menjaga pertanaman padi dari potensi serangan hama dan penyakit harus sudah dimulai dari persemaian. Jika tanaman yang dipersemaian kondisinya baik dan sehat, maka selanjutnya petani menjaga saat pertanaman. “Jangan sampai kita memindahkan hama dan penyakit dari persemaian ke sawah,” ujarnya.

Karena itu setiap kunjungan ke lapangan, dirinya selalu mengecek kondisi persemaian. ”Saya cek persemaian yang dilakukan petani ternyata sudah cukup bagi dan layak untuk pertanaman. Tinggal bagaimana nanti menjaganya sampai panen. Jangan sampai ada gangguan hama dan penyakit,” katanya.

Kementerian Pertanian saat ini terus mendorong peningkatan produksi pangan. Untuk keberhasilan tanam harus dimulai saat pengolahan tanah dan persemaian, termasuk mencegah secara dini gangguan hama penyakit kerap mengganggu tanaman petani.

Kunci Keberhasilan Tanam

Suwandi memberikan tips untuk keberhasilan tanam. Untuk pengolahan lahan, petani harus membalikkan tanah (singkal) secara sempurna. Kemudian mengatasi serangan hama dan penyakit sejak dini. Misalnya, Suwandi mencontohkan, untuk mengendalikan hama tikus, sebaiknya pengandalian dilakukan saat olah tanah atau sebelum mulai tanam.

”Jadi saat olah tanah, jika ditemukan lubang tikus, maka harus dicermati. Jangan sampai saat sudah tanam baru dikendalikan. Ini akan percuma. Karena jika ada sepasang tikus, maka akan melahirkan sebanyak lima pasang tikus. Artinya akan ada 10 tikus,” tuturnya.

Suwandi mengatakan, setelah pengolahan tanah selesai dan membersihkan jerami yang ada di lahan, petani mesti memperhatikan tahap persemaian, khususnya dalam penggunaan benih. Untuk itu, ia menyarakan agar petani menggunakan varietas padi unggul yang tahan hama penyakit dan tahan kekeringan, serta  lakukan pergantian varietas.

“Dengan pergantian varietas, kita dapat memotong siklus hama dan penyakit, serta dapat meningkatkan produksi  “Jangan yang ditanam itu-itu terus. Paling tidak 3 musim harus ganti,” tegasnya.

Kemudian, dalam waktu tiga hari sekali, Suwandi meminta petani mengecek kondisi persemaian. Jika ada tanda-tanda serangan hama, maka  harus segera diatasi. “Jangan kita memindahkan hama yang dipersemaikan ke persawahan,” ujarnya.

Saat ini OPT utama yang sering menyerang tanaman padi adalah wereng dan penggerek batang padi. Untuk itu, Suwandi mengingatkan petani dalam pengendalian hama penyakit tersebut sebaiknya menggunakan Agensia Pengendali Hayati (APH). Dengan pestisida nabati tersebut, petani bisa lebih hemat.

“Jangan sampai keluar biaya. Gunakan bahan-bahan alami yang lebih ramah lingkungan. Bagaimana cara membuat APH, nanti Petupas POPT yang akan mengajari,” ujar Suwandi.

Kementerian Pertanian menurunkan tim pengendali. Baca Halaman selanjutnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018