
Kedelai menjadi komoditas pangan nomor tiga setelah padi dan jagung
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kedelai menjadi komoditas pangan nomor tiga setelah padi dan jagung. Namun ‘nasibnya’ kerap terpinggirkan karena kalah bersaing dengan dua komoditas utama lainnya. Bahkan kemudian muncul istilah Teori Sarung. Jika produksi padi dan jagung dinaikkan, maka produksi kedelai akan turun. Begitu sebaliknya.
Mirisnya nasib komoditas kedelai, terlihat dari hanya sedikit petani yang mau terjun membudidayakan tanaman tersebut. Salah satu faktornya adalah harga kedelai lokal yang kalah bersaing dengan produk impor. Meski pemerintah telah menetapkan harga acuan pembelian kedelai sebesar Rp 10.775/kg, tapi kenyataannya harga di petani masih jauh dibawah harga acuan yaitu Rp 9.850/kg.
“Sekarang ini produksi kedelai kita masih rendah. Kenapa? Karena kedelai impor luar biasa murahnya dibandingkan produksi dalam negeri. Harga kedelai di dalam negeri juga sering tidak stabil,” kata Guru Besar IPB University, Rachmat Pambudy saat Webinar Peningkatan Kualitas SDM Pertanian dalam Mendayagunakan Kedelai di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Selain itu menurutnya, persaingan dengan komoditas lain (padi dan jagung) juga luar biasa besarnya. Bahkan sering kualitas dan kualitas, serta produktivitas kedelai lokal juga rendah. Kondisi tersebut akhirnya membuat kedelai impor membanjir di dalam negeri.
Meski sempat mencapai puncak produksi dan berhasil swasembada, pada tahun 1992 dengan produksi mencapai 1,8 juta ton, tapi setelah itu krisis moneter tahun 1998 menyebabkan produksi kedelai anjlok dan Indonesia kembali bergantung pada impor. “Saat ini Indonesia masih bergantung pada kedelai impor. Produksi nasional hanya mencakup 20?ri kebutuhan nasional,” ujarnya.
Data proyeksi neraca pangan nasional periode Januari - Desember 2024 yang dihimpun Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 24 Juni 2024, tercatat realisasi impor kedelai Januari - Maret 2024 mencapai 880.215 ton. Sementara itu, rencana impor periode April - Desember 2024 diperkirakan sebanyak 1,43 juta ton.
“Bagaimana kita mengatasi persoalan itu? Kita harus punya strategi baru. Apa strategi barunya? Pertama-tama kita harus tahu persis bagaimana mengatasi persoalan ini. Jadi kita mulai dari hilirisasi. Kita tahu hilirisasi kedelai tidak hanya tempe. Ada produk olahan lainnya,” tuturnya.
SDM Kedelai
Dalam upaya meningkatkan produksi kedelai, Dirjen Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menilai SDM Pertanian memegang peranan kunci, tidak hanya aspek budidaya kedelai, tapi juga proses hilirisasi yang melibatkan pengolahan kedelai menjadi produk bernilai tambah seperti tempe, tahu, dan minyak kedelai. ”Keberhasilan hilirisasi, sangat bergantung pada keterampilan dan pengetahuan petani, serta pelaku industri pertanian,” katanya.
Hilirisasi kedelai menurut Yudi, adalah langkah strategis yang dirancang untuk meningkatkan nilai ekonomi dari komoditas ini. Proses ini tidak hanya melibatkan perubahan biji kedelai menjadi produk olahan, tetapi juga mencakup berbagai tahapan mulai dari budidaya hingga pengolahan akhir. ”Setiap tahap memerlukan keterampilan khusus dan pengetahuan mendalam. Hal ini hanya bisa dicapai melalui SDM yang terampil dan berpengalaman,” ujarnya.
Menurut Kepala Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Yuris Tiyanto, kebutuhan hiliriasasi kedelai di Tanah Air masih besar hingga saat ini. Sayangnya petani yang berbudidaya kedelai semakin berkurang selama lima tahun terakhir. “Belum tertariknya petani membudidayakan kedelai terlihat dari luas tanam kedelai yang mengalami penurunan,” katanya.
Selama ini Yuris melihat, petani kedelai hanya dibiarkan jalan sendiri, tanpa pendampingan teknologi budidaya, tanpa pendampingan peningkatan mutu di pascapanen dan bahkan pendampingan penjaminan pasar. “Akhirnya, mutu kedelai yang dihasilkan jelek dan tidak laku di pasar,” tukasnya.
Sementara itu Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Atris Suyantohadi melihat di lapangan ternyata terjadi ketimpangan yang cukup signifikan. Di satu sisi, di akasemisi dan pemerintah mengembangkan IOT dan smart system. Tapi di sisi lain, petaninya sudah tua di atas 60 tahun dan kurang bermartabat, karena teknologi masih tradisional.
”Kondisi itu akhirnya membawakan sebuah gagasan. Kami beri nama SAE atau Smart Agro Entrepreneurship kedelai. Sae itu kan artinya baik. Jadi SAE adalah budidaya kedelai yang baik. Jadi bagaimana nantinya di-support dengan teknologi,” katanya.
Atris berharap, Program SAE dapat menjawab masalah di lapangan, khususnya petani. Saat ini permasalahan kedelai dalam negeri sangat kompleks, sehingga untuk menyelesaikan tidak mudah. Saat panen petani masih secara tradisional, petaninya juga sudah berumur tua-tua, cara budidaya juga tanpa SOP yang jelas, sehingga produktivitas dan mutunya rendah.
“Kalau seperti ini bagaimana kita bisa berharap mutu kedelai petani bisa baik. Ini menjadi sebuah tantangan, apalagi gambaran secara umum tanaman kedelai menjadi tidak menarik,” kata Atris. Dampaknya menurutnya, produksi kedelai dalam negeri yang dulu sempat mencapai 1,8 juta ton dan kini diperkirakan tidak sampai 1 juta ton.
Sebagai jalan keluar, Atris mengatakan, pihaknya menawarkan sistem yang terukur dan terencana yakni Program SAE yakni mengembangkan dari hulu. Dengan memberikan asupan teknologi, SOP, peralatan alat ukur, kemudian monitoring system sampai dengan decision support system yang kita buat dalam skema SAE Kedele.com.
“Platform teknologi berbasis smart kita harapkan bisa menjadi integrated partner system dalam sinergi pentahelik, sehingga nanti dari hulu sampai standar mutu akan terpenuhi. Ujungnya adalah hiliriasi di agroindustri,” katanya. Dengan program ini, Atris berharap dapat mengangkat kembali martabat dan kejayaan kedelai nasional.