Wednesday, 21 October 2026


Bulog Gandeng Banyak Pihak

11 Apr 2025, 15:56 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang merontokkan gabah

Dengan jangka waktu yang pendek tersebut memang tak mudah bagi Bulog dan perusahaan penggilingan bisa menyerap gabah petani dalam jumlah sebanyak itu.  Sebagai BUMN yang diamanahkan menjaga Cadangan Pangan Pemerintah, Bulog kini semakin gencar penyerapan gabah/beras dari petani.

Bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pertanian di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, TNI-POLRI, kelompok tani, dan penggilingan padi, Bulog memastikan proses penyerapan dapat berjalan dengan baik. Data Perum Bulog, hingga Maret 2025 telah tercatat penyerapan gabah petani sebanyak 725.000 ton setara beras.

Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Mayor Jenderal TNI, Marga Taufiq mengatakan, sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto, pihaknya ingin memastikan harga gabah yang dibeli Bulog sesuai dengan ketetapan pemerintah Rp 6.500/kg. ”Kita ingin petani tersenyum. Jadi kami berusaha hadir di tengah-tengah petani,” ujarnya singkat.

Di sisi lain, Marga meminta petani agar dalam menjual gabah ke Bulog menjaga kualitas. Misalnya, jangan mencampur gabah dengan rumput atau yang lain-lain untuk menambah berat timbangan. 

”Saya meminta Babinsa dan Babinkamtibnas untuk membantu mengawai penjualan gabah petani ke Bulog. Jangan sampai petani membasahi gabahnya atau panen sebelum waktunya, lalu menjual ke Bulog,” tuturnya.

Dengan banyaknya petani yang mulai panen, Bulog terus menggenjot penyeralan gabah. Secara nasional Bulog mendapat target dari pemerintah sebanyak 3 juta ton setara beras. Penyerapan gabah petani tersebut nantinya menjadi bagian dari CBP. 

Saat acara Panen dan Serap Gabah di Klaten, beberapa waktu lalu, Juru Bicara dan Tenaga Ahli Utama Presiden Comunicatioan Office, Prita Laura mengatakan, pemerintah telah memberikan anggaran tambahan untuk Bulog sebanyak Rp 16,6 triliun.

Anggaran tersebut untuk dua hal. Pertama, memastikan ada bahan pangan di masyarakat, karena akan sangat terkait keamanan. Kedua, memastikan harga yang mudah dijangkau masyarakat dan mensejahterakan petanda.

Dengan harga tinggi, Prita berharap dapat memotong praktek yang selama ini dapat memiskinkan petani. "Kami ingin melihat bagaimana kebijakan tersebut dilaksanan dapat memperkuat pertanian dan mendorong kemandirian pangan. Beras menjadi salah satu prioritas. Karena itu, Pemerintah memberikan investasi ke Bulog sebanyak Rp 16,6 triliun," tuturnya.

Ada beberapa hal yang menuru Prita, perlu dikaliberasi dalam kebijakan pemerintah saat ini, khususnya upaya edukasi petani. Jadi bagaimana petani bisa berkomitmen menjual gabah yang berkualitas baik.

Dengan gabah berkualitas baik, beras yang akan dihasilkan Bulog akan baik juga. Begitu juga sebaliknya, jika petani menjual gabah kualitasnya jelek, maka beras yang Bulog hasilkan juga akan tidak baik.

"Disini kita perlu edukasi petani untuk meningkatkan kualitas gabah. Misalnya, jangan terburu-buru menjual kalau belum waktu panen," katanya. Satu catata, ketika pemerintah telah memberikan kemudahan untuk petani dalam menjual gabah ke Bulog, maka sudah seharusnya petani juga menjaga kualitas produknya. 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018