Wednesday, 21 October 2026


Gertam PM-AAS Dimulai, Petani Alor Bidik Panen Dua Kali Setahun

21 Aug 2026, 14:51 WIBEditor : Herman

Gerakan Tanam (Gertam) padi dengan metode Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), Kelompok Tani Savok di Desa Fanating, Kecamatan Teluk Mutiara Alor

TABLOIDSINARTANI.COM, Alor — Semangat memperkuat swasembada pangan terus tumbuh di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Melalui Gerakan Tanam (Gertam) padi dengan metode Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS), Kelompok Tani Savok di Desa Fanating, Kecamatan Teluk Mutiara, mulai menggarap potensi lahan sawah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Gertam perdana PM-AAS di Kabupaten Alor ini menjadi langkah awal untuk mendorong peningkatan produktivitas sekaligus memperluas areal tanam padi. Kegiatan penanaman berlangsung pada Agustus 2026 dengan melibatkan petani, penyuluh, pemerintah desa, serta unsur pemerintah daerah.

Kelompok Tani Savok, yang berarti “sawah besar” atau sawah voka, merupakan salah satu kelompok tani di Kabupaten Alor. Kelompok ini beranggotakan 18 orang, terdiri atas 12 laki-laki dan enam perempuan. Sebagian besar anggotanya merupakan pemuda yang mulai mengambil peran dalam pengembangan pertanian.

“Ini bukan sekadar kegiatan tanam padi. Kami ingin menunjukkan bahwa anak muda juga bisa menjadi penggerak pertanian dan ikut membangun ketahanan pangan di daerah,” ujar Penyuluh Pertanian, Setia Wati Lapenangga, SP

Pada tahap awal, lahan yang telah diolah baru sekitar 0,7 hektare dari total potensi lahan kurang lebih 10 hektare. Kelompok tani menargetkan seluruh lahan dapat dibuka secara bertahap tahun ini dengan dukungan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah.

“Potensi lahannya cukup besar. Dari sekitar 10 hektare, baru 0,7 hektare yang sudah diolah. Harapannya seluruh lahan bisa dibuka dan dimanfaatkan secara bertahap,” katanya.

Pemanfaatan lahan tersebut sekaligus menjadi upaya menangkap peluang curah hujan tahun ini. Namun, ketersediaan air tetap menjadi tantangan utama agar lahan dapat ditanami secara berkelanjutan.

Pada musim tanam kali ini, petani memanfaatkan sumber air dari sumur gali yang dibangun secara swadaya masyarakat. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya semangat petani untuk tetap berproduksi meski dukungan infrastruktur pengairan masih terbatas.

“Kami sangat berharap ada dukungan untuk penataan irigasi, pemanfaatan sumber air tanah, dan bantuan alsintan. Kalau air tersedia dan sarana pertanian mendukung, lahan ini bisa lebih produktif,” ungkapnya.

Dukungan infrastruktur air menjadi penting karena kelompok tani tidak ingin kegiatan tanam berhenti pada satu musim. Dengan ketersediaan air yang memadai, lahan sawah di Desa Fanating diharapkan dapat ditanami hingga dua kali dalam setahun.

“Targetnya bukan hanya satu kali tanam. Kalau ketersediaan air memungkinkan, kami ingin mendorong dua kali tanam sehingga lahan bisa memberikan hasil yang lebih besar bagi petani,” tambahnya.

Pendampingan penyuluh menjadi bagian penting dalam proses pengembangan tersebut. Penyuluh Kementerian Pertanian Martha F. Ay, SST, bersama Koordinator Penyuluh BPP Kecamatan Teluk Mutiara Roshaty Dopu, SP, serta Penyuluh Paruh Waktu Yanor Manilape, SP, aktif mendampingi petani.

Yanor Manilape juga dikenal aktif menggerakkan pembukaan lahan sawah, tidak hanya di Desa Fanating, tetapi juga di Desa Pintumas, wilayah BPP Kecamatan Alor Barat Daya. Di Desa Pintumas, kegiatan pengembangan pertanian bahkan telah memasuki tahap panen pada bulan yang sama.

“Kami terus mendorong petani agar lahan yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal. Yang penting air dan sarana pendukungnya tersedia, sehingga petani dapat meningkatkan indeks pertanaman,” ujar Yanor.

Menurutnya, penerapan PM-AAS menjadi peluang untuk memperkenalkan cara bertani yang lebih efektif sekaligus meningkatkan minat generasi muda.

“Pertanian harus dibuat menarik bagi anak muda. Mereka tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi harus menjadi pelaku utama yang mengelola pertanian dengan teknologi dan cara yang lebih modern,” katanya.

Kegiatan Gertam di Desa Fanating turut dihadiri Kepala Desa Fanating Joni Manilani, Kepala Bidang PSP Novan Lapailaka, SP, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Alor Yermias Karbeka, SH, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa pengembangan pertanian membutuhkan kerja bersama. Petani menjadi pelaku utama, penyuluh memberikan pendampingan, sementara pemerintah berperan memperkuat dukungan sarana, prasarana, teknologi, dan kebijakan.

Gertam PM-AAS di Desa Fanating pun bukan sekadar kegiatan tanam padi. Di balik 0,7 hektare lahan yang mulai diolah, terdapat potensi sekitar 10 hektare yang menunggu untuk dikembangkan.

“Semangatnya adalah membuka lahan, menanam, memanen, lalu mengulanginya kembali. Kalau semua pihak bergerak bersama, kami yakin Desa Fanating bisa menjadi salah satu sentra pangan di Kabupaten Alor,” ujarnya.

Dengan dukungan pemerintah, penyuluh, petani, dan masyarakat, pengembangan sawah di Desa Fanating diharapkan terus berkembang. Dari lahan yang mulai dibuka, PM-AAS diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas kesempatan generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Gertam PM-AAS di Kabupaten Alor akhirnya menjadi lebih dari sekadar gerakan menanam. Ini adalah langkah nyata membangun kemandirian pangan dari desa, memanfaatkan lahan yang tersedia, dan menumbuhkan optimisme bahwa masa depan pertanian juga berada di tangan generasi muda.

“Dari Fanating, kami ingin ikut berkontribusi mewujudkan swasembada pangan. Jayalah pertanian Indonesia,” pungkasnya.

 

Reporter : Setia Wati Lapenangga
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018