
Bone ikut menggeber Gerakan Tanam Serentak 70.000 hektare demi mempercepat produksi pangan dan mengejar swasembada nasional.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bone – Bone ikut menggeber Gerakan Tanam Serentak 70.000 hektare demi mempercepat produksi pangan dan mengejar swasembada nasional.
Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ikut ambil bagian dalam Gerakan Tanam Serentak seluas 70.000 hektare yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan) di 25 provinsi.
Petani pun terus didorong mempercepat masa tanam untuk meningkatkan produksi pangan dan mengejar target swasembada.
Gerakan tanam di Kabupaten Bone berlangsung di Kecamatan Dua Boccoe pada Senin (31/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mempercepat musim tanam sekaligus mengoptimalkan lahan pertanian yang telah tersedia.
Sejumlah pihak terlibat dalam kegiatan tersebut, mulai dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa, Dinas Pertanian Kabupaten Bone, pemerintah desa, Babinsa, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Dua Boccoe, Brigade Pangan, penyuluh hingga kelompok tani.
Kolaborasi lintas sektor itu diharapkan mampu mempercepat proses tanam dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian di Kabupaten Bone.
Percepatan tanam menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan indeks pertanaman.
Dengan demikian, lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan memberikan tambahan produksi pangan bagi Bone maupun Sulawesi Selatan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan percepatan tanam menjadi langkah penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
Menurut Amran, lahan yang telah mendapatkan dukungan melalui berbagai program pemerintah harus segera dimanfaatkan secara optimal agar mampu menghasilkan produksi yang berdampak nyata terhadap ketersediaan pangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan Gerakan Tanam Serentak merupakan gerakan nasional yang bertujuan meningkatkan indeks pertanaman, memperluas areal tanam, dan mempercepat produksi pangan.
“Percepatan tanam harus terus dikawal agar lahan yang siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi secara optimal,” ujar Arsanti.
Ia mengatakan pemerintah juga terus mendorong peningkatan indeks pertanaman hingga IP 250 bahkan IP 300, terutama pada lahan program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR).
Peningkatan intensitas tanam tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memperkuat target swasembada pangan nasional.
Gerakan Tanam Serentak 70.000 hektare merupakan pelaksanaan ke-13 sepanjang 2026 dan menjadi target gerakan tanam terbesar yang dicanangkan pemerintah pada tahun ini.
Karena itu, keberhasilan program tersebut membutuhkan pengawalan hingga tingkat lapangan.
Peran pemerintah daerah, penyuluh, Brigade Pangan, hingga kelompok tani dinilai menjadi faktor penting agar lahan yang telah siap bisa segera ditanami.
Di sisi lain, Kementan juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi El Nino yang dapat mengganggu sektor pertanian.
Pompanisasi dan irigasi perpompaan terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian.
Pemerintah juga menyiapkan dukungan benih serta optimalisasi sistem pengairan guna mengurangi risiko penurunan produktivitas akibat kekeringan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Muhammad Amin, menilai gerakan tanam serentak menunjukkan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam meningkatkan produksi pangan.
“Gerakan tanam serempak ini menunjukkan bahwa pembangunan pertanian membutuhkan kolaborasi seluruh pihak,” katanya.
Menurutnya, pendidikan vokasi pertanian juga memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu mendukung percepatan produksi melalui penerapan teknologi dan inovasi di lapangan.
Keterlibatan Polbangtan Gowa dalam gerakan tanam di Bone menjadi salah satu bentuk dukungan pendidikan vokasi terhadap program strategis pemerintah.
Direktur Polbangtan Gowa, Ismaya Nita Rianti Parawansa, mengatakan pihaknya mendukung pelaksanaan Gerakan Tanam Serentak sebagai bagian dari komitmen perguruan tinggi vokasi dalam memperkuat pembangunan pertanian.
Di lapangan, Brigade Pangan, penyuluh, dan kelompok tani menjadi ujung tombak percepatan kegiatan budidaya.
Sinergi tersebut diharapkan mampu membuat proses tanam berjalan lebih cepat sekaligus mendorong pengelolaan pertanian yang lebih produktif dan modern.
Melalui gerakan tanam ini, Bone menjadi salah satu daerah yang ikut bergerak dalam target besar peningkatan produksi pangan nasional.
Kolaborasi pemerintah, petani, penyuluh, perguruan tinggi, TNI, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan menjadi kekuatan untuk mempercepat jalan menuju swasembada pangan.