
Panen jagung di Minahasa
Oleh: Dr Ir Tri Pranadji, MSi, APU
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -Mendengar kata korporasi pertanian pikiran saya melayang pada VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), suatu serikat dagang Belanda yang dibangun di bumi Nusantara untuk melakukan aktivitas ekonomi yang menguntungkan dengan mempraktekkan prinsip monopoli usaha di sektor usaha dan dagang di sektor pertanian.
Saking penting dan strategisnya VOC ini pemerintah Kerajaan Belanda sangat mendukung keberadaan dan pengembangan VOC ini. Korporasi dan peradaban masyarakat seakan akan dua muka dari sekeping koin uang. Tanpa peranan ekonomi korporasi peradaban akan mati. Dengan kata lain tanpa korporasi, peradaban tidak bisa tumbuh dan Sepertinya Ketika Heeren XVII datang ke Indonesia melihat bahwa di Indonesis belum ada serikat dagang internasional yang cukup kuat. Hal itu menimbulkan syahwat dagang mereka melonjak tajam. Yang akhirnya mereka bersepakat membangun VOC di Indonesis. Akhirnya pada 1602-1800 berdiri di Batavia. Negara-negara maju seperti Inggris, Amrerika, Jerman, Perancis dan Italia telah membangun berbagai sistem operasinya.
Membangun sistem korporasi bukanlah perkara mudah dan sederhana. Mengapa? Sistem korporasi merupakan salah satu elemen peradaban masyarakat. Usaha membangun peradaban suatu komunitas atau masyarakat bangsa merupakan hal esensial. Dengan kata lain jika ingin menghancurkan suatu korporasi masyarakat, hancurkan saja peradaban atau elemen yang mrendukung sistem masyarakast dimaksud.
Munculnya generasi milenial adalah terkait dengan peristiwa sosio demografi. Kebetulan pada saat yang hampir sama kita memperoleh bonus demografi, yakni jumlah usia penduduk usia produktif lebih besar ketimbang usia penduduk yang tidak berusia produkitif. Ini yang kemudian dikenal sebagai bonus demografi, yang ujung tombaknya adalah generasi milenial pertanian di pedesaan.
Dalam menghadapi perubahan atau transisi generasi, bukan saja Kementerian Pertanian yang menunjukkan kegamangan, melainkan generasi milenial sendiri yang juga menunjukan gejala ragu-ragu. Bagaimana tidak!? Sudah sekian lama (ratusan tahun), keragaan pertanian Indonesia belum menjanjikan. Tentulah tidak mudah membalik citra pertanian kita, dari citra ‘butut’ menjadi pemilik citra ‘cemerlang’ dan mempunyai manfaat besar bagi kehidupan bangsa dan negara. Sepertinya transisi atau pergantian generasi di sektor pertanian ini belum dipersiapkan dengan baik dan terukur.
Perkembangan demi perkembangan terjadi akhirnya sampailah pada pergantian Orde Lama ke Orde Baru. Ketika pemerintahan Orde Baru yang baru berdiri mengadapi sebuah dilema besar bahwa untuk penyelenggaraan kekuasaan politik dibutuhkan biaya tidak kecil dalam interval jangka panjang.
BPP Sebagai Inti Pengembangan Korporasi?