
Panen jagung di Minahasa
BPP Sebagai Inti Pengembangan Korporasi?
Apabila lensa mata kita arahkan pada tahun 2045, bersamaan dengan usia se-abad (100 tahun) usia bangsa dan negara kita: ”Apakah sudah siap generasi milenial pertanian kita mewujudkan kedaulatan pertanian?. Kedaulatan itu mencakup kedaulatan pangan dan kedaulatan ekonomi pedesaan. Jika ini tidak diperhatikan secara serius akan terjadi krisis demi krisis entah sampai kapan?
Kalau kita melihat fungsi dan peran Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang cukup banyak, maka BPP dapat diusulkan sebagai inti atau ”core” untuk pengembangan korporasi pertanian di pedesaan. Untuk itu, saya usulkan transformasi BPP mengemban fungsi dan perannya sebagai (1) ADC/ATDC (Agricultural Technical Development center/Agricultural Technical Development Center), (2) Laboratorium Agribisnis industrial pedesaan(AIP), (3) Laboratorium lapangan terpadu berbasis usahatani terpadu, (4) Pusat informasi dan pertukaran informasi pembangunsan /pertanian, (5) Rumah bersama penyuluh, peneliti, dan petani dan pelaku AIP), (6) Kantor Pusat/usaha pertanian (KPUP), (7) Show window display untuk produk olahan pertanian setempat, (8) Pusat informasi digitasl pertanian, (9) pusat perbengkelan dan rehabilitasi peralatan pertanian di pedesaan.
Pengembangan korporasi pertanian adalah bagian dari membangun peradaban pertanian Indonesia, Oleh sebab itu, pengembangan korporsasi pertanian ini sekaligus sebagai pengembangan wawasan kebangsaan yang digerakkan oleh semangat ideologi dan identitas bangsa Indonesia.
Korprasi, pertanian di pedesaan merupakan langkah kecil menuju peradaban pertanian Indonesia modern, berdaya saing, dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, ini perlu dijadikan gerakan semesta menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, ekonomi, budaya, dan agraria.