Selasa, 13 Januari 2026


BBPP Ketindan Dorong Terbentuknya FK-P4S

04 Okt 2022, 04:38 WIBEditor : Yulianto

Kepala BBPP Ketindan, Sumardi Noor bersama Tarwa Mustofa

TABLOIDSINARTANI.COM, Denpasar---P4S menjadi salah satu kelembagaan petani yang keberadaannya diatur secara khusus dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 33 Tahun 2016. Sebagai lembaga penyuluh swadaya, namun para pengelola P4S ini merasakan masih perlu mendapat bimbingan dari pemerintah, berupa pelatihan.

Kepala BBPP Katindan, Soemardi  Noor mengatakan, sebagai pembina seluruh P4S di Jawa Timur pihaknya sudah membuat perencanaan ke depan. Misalnya, membangun Forum Komuniasi antar P4S. Saat ini baru ada 2 FK-P4S dari yang seharusnya ada 5 FK-P4S.

Saat ini ada sekitar 200 P4S se Jawa Timur. Dari jumlah tersebut ada beberapa yang belum mendapat pembinaan dan ditindaklanjuti. “Kami terus memberikan motivasi untuk menggenjot agar mereka juga tergabung dan membentuk FK-P4,” katanya kepada Tabloid Sinar Tani di sela-sela Fornas P4S di Denpasar Bali, beberapa waktu lalu.

Sumardi mengakui, kendala penumbuhan dan pengembangan P4S, salah satunya adalah dukungan Pemerintah Daerah. Bahkan Dinas Pertanian dengan Bupati harus satu kata. Apalagi setiap kabupaten atau daerah memiliki ciri khas, begitu juga dengan P4S di wilayah tersebut. “Kalau saya kan hanya memberikan pembinaan dan mensupport, tapi semua kembali pembinanya yakni pemerintah kabupaten,” ujarnya.

Sementara itu Tarwa Mustofa, pengelola P4S Agro Utama Mandiri (AUM) mengaku mendapat binaan dari Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang. Bahkan P4S tersebut Tahun 2016 masuk dalam jajaran P4S berprestasi tingkat nasional. Artinya, kegiatan yang dilakukan sudah memiliki standar nasional.

Bagi petani milenial yang mempunyai usaha dan juga ingin berbagi ilmu dengan yang lain., Tarwa pun mengajak untuk membentuk P4S. “Tidak sulit yang penting syaratnya ada usaha, terus nanti mengisi form yang sudah disiapkan pemerintah. Kalau di Jawa Timur lewat BBPP Ketindan,” katanya.

Tarwa menjelaskan,  dalam form tersebut tinggal mengisi profil lembaga dan usahanya. Namun form tersebut, harus ditanda tangani Dinas Pertanian setempat, karena nanti akan berada dibawah binaannya. “Setelah daftar nanti akan kami bantu ajukan ke BBPP Ketindan,” katanya.

Tarwa mengaku, sebagai Sekjen Forum Komunikasi (FK) P4S Jawa Timur, pihaknya menargetkan setiap daerah minimal ada 5 P4S. Sebab dengan 5 P4S nantinya bisa membentuk FK daerah. Saat ini di Jawa Timur sudah ada 14 FK P4S di 14 kabupaten.

“Dengan semakin banyak P4S, kebutuhan pelatihan semakin perlu. Apalagi perkembangan teknologi pertanian semakin  banyak,” kata Tarwa yang saat ini mengembangan Agrowisata Jambu Kristal di Desa Mangunrejo, Kabupaten Kediri. “Saya saat ini hanya menjual bibit dengan konsep edukasi ke masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menilai, peran P4S sebetulnya sama dengan penyuluh. Namun, P4S memiliki kelebihan P4S dari penyuluh biasa. Misalnya, sebagai pelaku utama dan pelaku usaha, pengelola P4S tumbuh dari petani yang terbilang pinter di desa dan adaptif.

“Mereka juga adalah petani yang telah bertranformasi untuk berkarya dan berinovasi, serta memiliki inspirasi. Karena frekuensinya sama, sehingga transformasi informasi dan inovasi teknologi akan lebih mudah disampaikan kepada petani,” katanya saat Fornas P4S di Denpasar, Bali, Minggu (25/9).

Bahkan Dedi melihat, setiap saat mereka sebagai motivator bagi petani sekitar. Paling penting mereka adalah petani champion bagi petani lainnya. Pengelola P4S juga merupakan penyuluh swadaya yang tidak tergantung APBN. Dengan demikian, secara otomatis menurut Dedi, P4S telah meresonansi pembangunan pertanian kepada petani lainnya.

Sebagai pembaharu perdesaan, Dedi berharap P4S dapat berperan dalam mendorong, menggerakkan dan meningkatkan swadaya gotong royong serta untuk menumbuhkan kreatifitas dan otoaktifitas masyarakat.

“P4S juga mengembangkan model pembelajaran melalui percontohan usaha tani, meningkatkan SDM pertanian agar bisa berpikir dinamis dan kreatif yang dapat menumbuhkan prakarsa dan swadaya masyarakat," katanya.

Reporter : Yul/Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018