Kamis, 30 Mei 2024


Kepala BPPSDMP: SDM Profesional Kunci Hadapi Persoalan Pertanian

27 Jan 2023, 06:59 WIBEditor : Yulianto

Kepala BPPSDMP, Prof. Dedi Nursyamsi saat memberikan arahan rapat kerja penyuluh pertanian | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Tantangan pembangunan pertanian kini semakin berat. Bahkan tahun lalu sudah diprediksi tahun 2023 dampak climate change kian terasa. Untuk menghadapi tantangan tersebut, SDM pertanian profesional menjadi kunci mengatasi segala persoalan pertanian ke depan.

”Kita perlu antisipasi, bahkan sejak tahun lalu hingga saat ini. Dampak climate change sudah terbukti pelan, tapi pasti meluluhlantahkan perekonomian,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi saat Rapat Koordinasi Penyuluhan Pertanian Nasional Tahun 2023 di Jakarta, Kamis (26/1).  

Menurut Dedi, tantangan lain adalah pandemi Covid 19 yang tidak hanya merontokkan nyawa manusia, tapi seluruh sistem ekonomi dan sistem distribusi, termasuk logistik. Belum lagi krisis perang Rusia dan Ukraina yang berlangsung sejak tahun belum menunjukkan tanda berhenti.

Dampak perang Rusia-Ukraina, ekspor komoditas pertanian Indonesia, khususnya perkebunan terganggu. Begitu juga impor dari dua negara tersebut, terutama gandum terhambat. Namun ada dampak positif terhambat impor gandum, sehingga memaksa masyarakat mengonsumsi pangan lokal.

Perang Rusia-Ukraina juga menyebabkan bahan baku pupuk KCL dari Rusia terhambat, termasuk ke Indonesia. Begitu juga bahan baku pupuk urea yang bahan bakunya dari gas alam, sehingga menyebabkan harga pupuk urea meningkat. “Sekarang ini harga pupuk dan pestisida melejit, harga pangan meningkat. Siapa yang bisa kendalikan harga pupuk dan pangan di dunia?” tegasnya.

Meski harga pupuk mahal yang menyebabkan petani menjadi semakin sulit, karena biaya produksi usaha tani makin tinggi, pertanian tidak boleh berhenti. Bangsa Indonesia harus tetap eksis, karena pangan menjadi masalah pokok.  ”Jadi apapun yang terjadi, kita harus kerja keras untuk genjot produksi. Kita harus mencari solusi,” katanya.

Untuk antisipasi kondisi tersebut, BPPSDMP terus berupaya membangun SDM agar menjadi profesional, mandiri dan berdaya saing. Bahkan memiliki sikap entreprenuership agar mampu menggejot produksi pertanian dan meningkatkan kualitas, serta menjamin kontribusi terhadap produk pertanian.

“Ke depan produk pertanian kita, tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga mampu memproduksi produk yang berdaya saing dan bisa menembus pasar ekspor,” ujarnya.

Bagaimana SDM mencapai hal itu? Dedi mengatakan, pihaknya akan memberdayakan Balai Penyuluh Pertanian (BPP), termasuk pemberdayaan penyuluh, petani, poktan, gapoktan, P4S, duta petani andalan dan duta petani milenial sebagai pelaku utama.

Untuk itu, Dedi berharap dukungan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota agar membina dan mendamping petani agar lebih profesional dalam budidaya, olahan, pengemasan dan pemasaran. Melalui pemberdayaan BPP dengan memanfaatkan IoT akan meningkatkan kapasitas penyuluh pertanian.

”Saya berterima kasih kepada Pemda yang mendukung pemberdyaan BPP dan pelaksanaan pelatihan sejuta petani dan penyuluh. Tanpa dukungan dinas pertanian, kami tidak mungkin mampu melakukan pelatihan sejuta petani dan penyuluh,” katanya.

Selain itu, ungkap Dedi, proses regenerasi petani dari petani kolotnial menjadi milenial. Saat ini persentase petani kolotnial lebih dari 70 persen, sedangkan petani milenial kurang dari 30 persen.  

”Bagaimana 10-20 tahun mendatang petani kolotnial akan memasuki usia tidak produktif atau pensiun. Bagaiaman kalau pensiun semua? Siapa yang meneruskan pertanian. Untuk itu petani milenial harus didorong menggantikan yang kolotnial,” tuturnya.

Pekerjaan BPPSDMP lainnya pada tahun 2023 adalah bagaimana mengubah persepsi pertanian. Maksudnya, ke depan pertanian bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan keluarga, tapi  pertanian dapat meningkatkan pendapatan dan menghasilkan uang.  

”Untuk itu, petani harus membangun agribisnis. Dengan agribisnis, petani bisa mendapat penghasilan yang lebih besar dari saat ini biasa,” katanya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018