Senin, 04 Maret 2024


El Nino, Waspadai OPT

25 Sep 2023, 12:44 WIBEditor : Yulianto

Acara Ngobras di Karawang bersama Kepala BPPSDMP, Prof. Dedi Nursyamsi | Sumber Foto:Sinta

Sementara itu, petani Kabupaten Karawang, Mulyono Machmur mengatakan, dari pengalamannya menghadapi El Nino, permasalahan yang selalu hadir saat kemarau panjang ialah serangan OPT yang menyerang area persawahan. Untuk menanggulangi serangan tersebut, pria yang juga Pemimpin Perusahaan Tabloid Sinar Tani ini lebih menekankan pada penanganan dengan cara nabati yang memanfaatkan kearifan lokal.

“Penanggulangan OPT lebih baik dilakukan dengan nabati yang memanfaatkan kearifan lokal yang telah terbukti bagus karena tidak merusak lingkungan. Kalau terpaksa karena serangan sudah sangat masif maka baru menggunakan pestisida itu pun tidak boleh berlebihan,” ujar Mulyono yang kini menanami lahan seluas 5 ha dengan padi.

Namun demikian, mantan Kepala Pusat Penyuluhan Mulyono mengatakan para petani harus terus bersemangat ditengah El Nino yang menyerang, karena profesi sebagai petani adalah mulia untuk menyediakan pangan pada Masyarakat. “Untuk penyuluh juga jangan menyerah terhadap suatu keadaan, kita sama-sama bergandengan tangan dengan petani.untuk melewati keadaan ini. Hidup jangan kendor, dan terus menatap masadepan,” pesanya.

Sementara itu, guna mengantisipasi kekeringan pada lahan pertanian, Kementerian Pertanian telah meluncurkan Gerakan Nasional Antipasi El Nino. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Mulai dari memanfaatkan sumber irigasi alternatif selain air hujan, mulai dari sungai, air tanah dan lain sebagainya.

”Tidak kalah penting ialah harus mengefisiensikan penggunaan air dengan berbagai metode seperti irigasi tetes, sistem irigasi berselang atau intermittent irrigation yang merupakan suatu konsep penghematan penggunaan air melalui pengaturan kondisi air di lahan,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi.

Selain itu ada metode AWD atau pengairan basah-kering yang merupakan pengairan dengan penggenangan air terputus. Dengan demikian, menurut Dedi, air yang ada harus efisiensi agar tidak terlalu banyak air yang terbuang. “Tidak kalah penting juga dengan menggunakan biocar. Biocarini dapat mengurangi keluarnya air, sehingga pada saat kemarau pun air tidak terbuang,” ungkapnya.

 

Langkah lain dari Kementerian Pertanian, ungkap Dedi adalah diversifikasi pangan dengan mengganti sumber pangan utama selain padi. Seperti petani Jawa Tengah yang beralih ke kacang hijau. “Intinya di musim tanam ketiga setelah padi-padi, petani bisa tanamkacang hijau. Bahkan produksinya luar biasa, padahal tidak dikasih apa-apa. Karena produksi bagus dan berlimpah kita bisa ekspor kacang hijau,” ujarnya.

Reporter : Tim Sinta
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018