
Di tengah gempuran teknologi dan digitalisasi pertanian, penyuluh dituntut beradaptasi cepat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Di tengah gempuran teknologi dan digitalisasi pertanian, penyuluh dituntut beradaptasi cepat. Strategi peningkatan kompetensi dan konsistensi kinerja jadi kunci mengangkat kembali marwah profesi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan teknologi pertanian, upaya mengangkat kembali marwah penyuluh menjadi agenda mendesak.
Tekanan kerja yang meningkat, perubahan sistem kerja, hingga hadirnya teknologi berbasis digital membuat posisi penyuluh pertanian semakin teruji.
Sejumlah langkah strategis dinilai perlu dilakukan agar penyuluh tetap relevan dan mampu menjalankan perannya sebagai ujung tombak pembangunan pertanian.
Lektor Kepala Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, Momon Rusmono, menyebut bahwa kunci utama dalam mengembalikan marwah penyuluh adalah kemampuan beradaptasi dengan perubahan.
Menurutnya, penyuluh tidak bisa lagi bertahan dengan pola lama. Perubahan teknologi, kebijakan, hingga dinamika sosial di lapangan menuntut penyuluh untuk terus menyesuaikan diri.
“Dunia sudah berubah, penyuluh juga harus ikut berubah,” ujarnya.
Saat ini, perangkat kerja penyuluh tidak lagi terbatas pada sarana konvensional. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi kebutuhan utama.
Smartphone, laptop, hingga platform digital kini menjadi alat penting dalam mengakses dan menyebarkan informasi kepada petani.
Namun, adaptasi saja tidak cukup. Strategi kedua yang dinilai krusial adalah konsistensi dalam menunjukkan kinerja. Penyuluh harus mampu membuktikan bahwa perannya masih sangat dibutuhkan melalui hasil nyata di lapangan.
Keberhasilan penyuluh tidak cukup disampaikan dalam laporan, tetapi harus dirasakan langsung oleh petani. Ketika petani merasakan manfaat, kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya.
“Dari situlah marwah penyuluh akan kembali,” kata Momon.
Selain itu, peningkatan kompetensi menjadi faktor penentu. Di tengah perkembangan teknologi yang cepat, penyuluh dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
Pelatihan, sertifikasi, hingga pendidikan lanjutan menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas penyuluh. Tidak hanya dalam aspek teknis pertanian, tetapi juga dalam bidang agribisnis, manajemen, dan pemanfaatan teknologi digital.
Menurut Momon, tanpa kompetensi yang memadai, penyuluh akan sulit bersaing dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Ia juga menekankan bahwa membangun kembali kepercayaan petani tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan konsistensi, kedekatan, serta kehadiran nyata di lapangan.
Penyuluh harus tetap menjadi sosok yang bisa diandalkan, bukan hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai mitra petani dalam menghadapi berbagai tantangan usaha tani.
Lebih lanjut, upaya mengangkat marwah penyuluh tidak bisa hanya dibebankan pada individu.
Diperlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga institusi terkait lainnya.
Penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan fasilitas menjadi faktor penting dalam mendukung kinerja penyuluh.
Namun demikian, perubahan yang paling mendasar tetap berasal dari dalam diri penyuluh itu sendiri.
Kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan berkembang menjadi kunci utama dalam menghadapi era disrupsi.
Di tengah gempuran teknologi yang semakin masif, sektor pertanian tetap membutuhkan sentuhan manusia. Dalam konteks ini, penyuluh memiliki peran yang tidak tergantikan sebagai penghubung antara inovasi dan praktik di lapangan.
Dengan strategi yang tepat dan dukungan yang memadai, marwah penyuluh pertanian diyakini dapat kembali terangkat, sekaligus memperkuat peran mereka dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.