Minggu, 25 Januari 2026


Transformasi, RMU Tani Subur Siap Tingkatkan Produksi

20 Peb 2025, 16:22 WIBEditor : Herman

RMU Tani Subur

TABLOIDSINARTANI.COM, Semarang --- Sambut program optimalisasi penyerapan gabah dan beras pemerintah, RMU Gapoktan Tani Subur siap berperan sebagai satuan tugas atau mitra kerja Dolog.

Usaha penggilingan padi yang berlokasi di Kalurahan Tambakboyo, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang ini telah melengkapi diri dengan peralatan mesin yang modern. Unit usaha atau divisi pembelian gabah petani juga telah siap beroperasi.

Rice Milling Unit (RMU) Gapoktan Tani Subur kini berdiri di lahan milik sendiri seluas 2.000 m⊃2;, yang mencakup gudang, kantor, dan bangunan penggilingan padi. Sebelumnya, usaha ini beroperasi di lahan sewa.

Gapoktan Tani Subur sendiri merupakan gabungan dari delapan kelompok tani di Tambakboyo, yaitu Sidomakmur, Margorejo, Sebaung Makmur, Sidodadi, Margo Mulyo I, Margo Mulyo II, Margo Rukun I, dan Margo Rukun II.

Menurut Manajer apangan RMU, Ari Widianto, usaha pengolahan padi ini telah berjalan selama 12 tahun. Tujuan awalnya adalah menghindari praktik ijon dan tebasan yang merugikan petani. "Sekarang tidak ada lagi petani anggota yang menjual padi secara ijon atau tebasan. Semua hasil panen mereka kami beli dengan harga pantas," ujar Ari.

Peralatan rice milling di RMU Tani Subur telah mengalami perkembangan pesat. "Kami kini memiliki unit mesin pengering gabah vertikal dengan silo berkapasitas 10 ton," jelas Ari.

Mesin ini mampu mengeringkan 10 ton Gabah Kering Panen (GKP) dari kadar air 25% menjadi 13?lam waktu 18 jam. Dryer vertikal ini adalah produk karya anak bangsa dari Kudus, Jawa Tengah. Selain itu, mesin penggiling beras (RMU) juga telah menggunakan teknologi otomatis dengan kapasitas 5 kuintal per jam.

Beralih ke Energi Listrik untuk Efisiensi

Pada Agustus-September 2024, RMU Tani Subur mengambil langkah besar dengan mengganti seluruh mesin diesel dengan dinamo penggerak listrik. Dengan bantuan konsultan ahli dari CV. ST Sragen, kini semua mesin dryer dan RMU telah beroperasi menggunakan listrik. Beberapa unit mesin diesel pun tak lagi digunakan.

"Dengan tenaga listrik, biaya operasional kami jauh lebih hemat. Biasanya, untuk mengeringkan 10 ton gabah dengan diesel, kami menghabiskan Rp 450.000 karena membutuhkan 3 liter solar per jam. Sekarang, dengan listrik, biaya hanya Rp 250.000." Kata Ari.

Jika dibandingkan dengan metode pengeringan manual yang menggunakan tenaga kerja manusia, perbedaannya cukup signifikan. Pada musim hujan, biaya borongan mencapai Rp 150.000 per ton, sementara di musim kemarau Rp 100.000 per ton. Proses manual ini memerlukan dua pekerja selama tiga hari untuk mengeringkan satu ton gabah.

Upgrade peralatan listrik ini mendapat dukungan dari CSR Bank Indonesia, yang memberikan bantuan peralatan senilai Rp 80 juta. "Kami juga mengeluarkan dana Rp 10 juta untuk instalasi," ungkap Erlita, manajer produksi. Selain peralatan listrik, Bank Indonesia juga menyumbang satu unit Combine Harvester. "Mesin ini baru kami pakai dua kali, lalu lahan panen di gapoktan kami habis," tambah Aris.

Ketika ditanya soal kesiapan mengikuti program penyerapan gabah dan beras oleh Dolog, Ari dan Erlita mengaku masih menunggu kejelasan tata laksananya. "Kami baru saja mengikuti sosialisasi dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Semarang," ujar mereka.

Mitra kerja seperti RMU Tani Subur masih mempertanyakan skema pembelian gabah oleh Dolog. Menurut data BPS 2018, angka konversi Gabah Kering Panen menjadi Gabah Kering Giling adalah 82,6%, sementara konversi Gabah Kering Giling menjadi beras adalah 63,84%.

Dengan harga pembelian GKP Rp 6.500 per kilogram, konversi ini menghasilkan beras senilai Rp 12.328 per kilogram. Sementara itu, HPP gabah di tingkat petani adalah Rp 6.500 per kg, dan HPP beras di gudang Dolog adalah Rp 12.000 per kg.

"Kami tetap berupaya menjaga ketersediaan gabah untuk penggilingan agar terus beroperasi. Jika pasokan dari petani lokal menipis, kami membeli gabah dari Purworejo dengan bekerja sama dengan rekan-rekan di usaha serupa," pungkas Ari Widianto.

Reporter : Djoko W
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018