Friday, 15 May 2026


Di Era Digital, Penyuluh Pertanian 'Wajib' Bertransformasi

20 Apr 2026, 09:45 WIBEditor : Yulianto

Penyuluh pertanian ke depan harus bertransformasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan besar dalam berbagai sektor, termasuk pertanian. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah transformasi sistem penyuluhan pertanian, yang dituntut untuk beradaptasi dengan kebutuhan zaman sekaligus menjawab tantangan petani modern.

Menurut praktisi pertanian Dadang Syamsul Munir, penyuluhan pertanian tidak lagi cukup dipahami sebagai “suluh” atau obor yang memberi arah secara satu arah. Ke depan, pendekatan tersebut harus bergeser menjadi pemberdayaan yang menempatkan petani sebagai subjek utama.

“Penyuluh bukan lagi sekadar pemberi instruksi, tetapi fasilitator yang mampu menggali potensi petani dan mendorong mereka berkembang secara mandiri,” ujarnya saat webinar Mengembalikan Marwah Penyuluh Pertanian yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani di Jakarta, Rabu (15/4).

Transformasi ini menuntut perubahan paradigma mendasar, yakni dari pendekatan pedagogi menuju andragogi. Dalam konsep ini, petani dipandang sebagai individu dewasa yang mandiri, memiliki pengalaman, serta berhak menentukan keputusan terbaik bagi dirinya.

Pendekatan andragogi menekankan bahwa motivasi petani tidak lagi sekadar mendapatkan pengetahuan, melainkan bagaimana ilmu tersebut mampu meningkatkan kualitas hidup dan memberikan keuntungan nyata.

Dengan demikian, hubungan antara penyuluh dan petani pun berubah menjadi kemitraan dialogis. “Penyuluh hadir sebagai “teman ahli” yang setara, bukan sebagai atasan,” ujarnya.

Meski konsep ini menjanjikan, Dadang mengakui, implementasinya tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu yang utama adalah persoalan ego, baik dari sisi penyuluh maupun petani, yang masih terbiasa dengan pola hubungan hierarkis.

Selain itu, kebiasaan lama dalam praktik budidaya yang telah berlangsung puluhan tahun juga menjadi hambatan tersendiri. Proses perubahan membutuhkan pendekatan unlearning, yakni membuka ruang bagi cara berpikir baru tanpa sepenuhnya meniadakan pengalaman lama.

Tantangan lain adalah relevansi materi penyuluhan dengan kondisi nyata di lapangan. “Tidak jarang, informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan petani saat ini,” kata Dadang yang juga Direktur Botani Seed Indonesia.

Di sisi lain, faktor risiko juga menjadi pertimbangan penting. Menurut Dadang, banyak petani enggan mengadopsi teknologi baru karena khawatir akan dampaknya terhadap hasil produksi. Karena itu, demonstrasi lapangan (demplot) dinilai penting untuk membangun kepercayaan.

Dalam era digital, peran penyuluh pertanian berkembang menjadi lebih strategis. Mereka diharapkan menjadi “arsitek” yang mampu membentuk petani inovatif dan mandiri. Perubahan ini ditandai dengan evolusi dari penyuluh “polyvalent” menjadi “polytalenta”. Apa maksudnya? Baca halaman selanjutnya. 

 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018