Tuesday, 16 June 2026


Dari Polyvalent menjadi Polytalenta

20 Apr 2026, 09:45 WIBEditor : Yulianto

Penyuluh pertanian ke depan harus bertransformasi

Dalam era digital, peran penyuluh pertanian berkembang menjadi lebih strategis. Mereka diharapkan menjadi “arsitek” yang mampu membentuk petani inovatif dan mandiri. Perubahan ini ditandai dengan evolusi dari penyuluh “polyvalent” menjadi “polytalenta”. Artinya, penyuluh tidak hanya memiliki banyak pengetahuan secara umum, tetapi juga mendalam pada satu bidang teknis serta luas dalam kemampuan manajerial.

“Di era digital, informasi bukan lagi barang langka. Tantangannya adalah bagaimana melakukan kurasi, memastikan informasi yang diterima petani benar, relevan, dan tidak menyesatkan,” jelas Dadang.

Selain itu, pola hubungan yang sebelumnya bersifat top-down kini bergeser menjadi kolaboratif. Penyuluh dan petani bersama-sama berdiskusi, memanfaatkan teknologi digital sebagai alat utama, serta tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga efisiensi dan nilai tambah.

Dalam ekosistem pertanian modern, penyuluh memiliki tiga peran kunci. Pertama, sebagai kurator dan penyaring informasi di tengah derasnya arus data digital. Kedua, sebagai arsitek rantai nilai yang mampu menghubungkan petani dengan pasar dan sektor hilir. Ketiga, sebagai fasilitator psikologis dan motivator yang mendampingi petani dalam proses perubahan.

Negara agraris modern seperti Vietnam dan Thailand juga telah lebih dulu mengadopsi pertanian presisi, termasuk kalibrasi input produksi yang spesifik terhadap kondisi lahan. Untuk mendukung transformasi ini, diperlukan penguatan kapasitas penyuluh melalui konsep exoskeleton, yakni dukungan teknologi dan alat yang mampu meningkatkan kinerja mereka di lapangan.

Penyuluh diharapkan memiliki kemampuan digital, mulai dari pemantauan real-time, analisis data, hingga penggunaan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI). Dengan demikian, mereka dapat memberikan solusi yang lebih cepat dan akurat kepada petani.

Salah satu strategi implementasi yang diusulkan adalah pembangunan BPP Digital Command Center, yaitu pusat kendali berbasis data dengan dashboard wilayah terintegrasi. Selain itu, diperlukan kurikulum literasi digital bagi petani, integrasi dengan rantai pasok, serta sistem monitoring yang kuat.

Jika diterapkan secara konsisten, transformasi ini diyakini memberikan dampak besar, mulai dari peningkatan akurasi produksi, efisiensi penggunaan input, deteksi dini hama dan penyakit, hingga terciptanya transparansi dan keadilan harga bagi petani.

Pada akhirnya, penyuluh pertanian di era digital bukan hanya pendamping, tetapi penggerak perubahan yang memegang kendali teknologi untuk membangun masa depan pertanian Indonesia yang lebih bermartabat dan berkelanjutan.

“Kunci utamanya sederhana: orang dewasa ingin dibantu mencapai tujuannya, bukan didoktrin. Di situlah peran penyuluh menjadi sangat penting,” kata Dadang

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018