
Penyuluhan pertanian tak lagi cuma mengandalkan tatap muka. Polbangtan Bogor meneliti transformasi digital untuk memperkuat layanan penyuluh di Jawa Barat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang – Penyuluhan pertanian tak lagi cuma mengandalkan tatap muka. Polbangtan Bogor meneliti transformasi digital untuk memperkuat layanan penyuluh di Jawa Barat.
Penyuluhan pertanian selama ini lekat dengan pertemuan langsung antara penyuluh dan petani.
Namun, perkembangan teknologi mulai mengubah cara pengetahuan dan inovasi pertanian disebarkan ke lapangan.
Perubahan inilah yang tengah dibedah Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor melalui penelitian “Transformasi Digital Penyuluhan Pertanian di Jawa Barat.”
Bukan sekadar melihat teknologi apa yang digunakan, tim peneliti ingin mengetahui lebih jauh bagaimana digitalisasi benar-benar dimanfaatkan dalam kegiatan penyuluhan, termasuk peluang, tantangan, hingga kebutuhan penyuluh di lapangan.
Untuk menggali kondisi tersebut secara langsung, Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto bersama Tim Peneliti Polbangtan Bogor melakukan kunjungan ke UPTD Pengelolaan Pertanian Kecamatan Cikampek, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karawang, Kamis (24/9).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari koordinasi sekaligus pengumpulan informasi terkait pelaksanaan penyuluhan pertanian di Kecamatan Cikampek.
Ada sejumlah hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut.
Tim peneliti menggali informasi mengenai pelaksanaan penyuluhan, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi, serta kebutuhan digitalisasi yang berpotensi mendukung pekerjaan penyuluh.
Teknologi digital dinilai membuka peluang baru dalam memperluas akses pengetahuan dan mempercepat transfer inovasi kepada pelaku utama pertanian.
Artinya, penyuluhan ke depan tidak hanya berbicara soal pertemuan tatap muka. Platform digital, sumber informasi berbasis teknologi, komunikasi digital, hingga pengelolaan data juga berpotensi menjadi bagian dari aktivitas penyuluhan.
Tapi, ada satu hal yang nggak kalah penting yaitu teknologi saja tidak cukup.
Kemampuan penyuluh dalam mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi, ketersediaan infrastruktur, serta kesesuaian teknologi dengan kebutuhan pengguna di lapangan turut menentukan efektivitas transformasi digital.
Penelitian ini menjadi bagian dari upaya Polbangtan Bogor mengembangkan kajian dan inovasi di bidang penyuluhan pertanian.
Tim peneliti berupaya mendapatkan gambaran aktual mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam penyuluhan pertanian di Jawa Barat.
Karena itu, informasi dari lapangan menjadi bagian penting dalam penelitian tersebut.
Melalui kunjungan ke Kecamatan Cikampek, tim tidak hanya melakukan koordinasi, tetapi juga menggali pengalaman dan praktik pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan penyuluhan.
Data dan informasi tersebut diharapkan membantu tim memahami kondisi penyuluhan secara lebih utuh, termasuk persoalan yang masih dihadapi penyuluh ketika berhadapan dengan tuntutan digitalisasi.
Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto mengatakan penelitian perguruan tinggi vokasi perlu berangkat dari persoalan dan kebutuhan nyata di lapangan.
'Polbangtan Bogor berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian yang berangkat dari persoalan dan kebutuhan nyata di lapangan. Transformasi digital dalam penyuluhan menjadi isu yang penting untuk dikaji karena teknologi dapat menjadi instrumen untuk memperkuat efektivitas penyuluhan dan mempercepat transfer informasi kepada petani,” ujar Yoyon.
Menurutnya, keterlibatan langsung dengan unit pengelola pertanian dan penyuluh di daerah penting untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi penyuluhan saat ini.
“Kami ingin mendengar langsung pengalaman dan kebutuhan para pelaksana penyuluhan. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai peluang, tantangan, sekaligus kebutuhan penguatan kapasitas SDM dalam menghadapi transformasi digital,” tambahnya.
Transformasi digital penyuluhan pertanian ternyata punya cakupan yang lebih luas daripada sekadar menggunakan aplikasi atau perangkat digital.
Pemanfaatan teknologi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi penyuluh dan petani.
Teknologi diharapkan membantu penyuluh menjalankan fungsi pendampingan, menyampaikan informasi, sekaligus mempercepat penyebaran pengetahuan dan inovasi pertanian.
Di sisi lain, kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi penyuluh seiring perkembangan teknologi.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Muhammad Amin menilai penelitian yang berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan penting bagi pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan pertanian.
Persoalannya, seberapa jauh penyuluhan pertanian di Jawa Barat sudah siap masuk lebih dalam ke era digital?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui penelitian Polbangtan Bogor.
Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat mendukung pengembangan penyuluhan pertanian yang lebih efektif, berbasis data, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu mempercepat transfer pengetahuan dan inovasi kepada petani.
Dengan begitu, transformasi digital bukan sekadar memindahkan penyuluhan ke layar perangkat, tetapi menjadi upaya untuk membuat proses pendampingan pertanian semakin relevan dengan kebutuhan zaman.