Wednesday, 21 October 2026


Korporasi Petani, Mengubah Pola Pikir Petani dari Tradisional ke Modern

26 Oct 2018, 15:42 WIBEditor : Yulianto

Petani Desa Medang Asem, Jayakerta, Karawang saat mengikuti bimtek Korporasi Petani di Balitsa, Lembang

Menjadi seorang wirausaha, petani harus kreatif dan inovatif

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang---Salah satu upaya pemberdayaan petani adalah melalui pengembangan korporasi. Syarat utama korporasi petani bisa berjalan adalah mengubah pola pikir petani menjadi seorang wirausaha.

“Agar bisa berkembang, petani saat ini tidak lagi dengan pola sekadar gapoktan (gabungan kelompok tani), tapi sudah harus berpikir bisnis,”  kata Peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Hermanto saat memberikan motivasi kepada peserta Bimtek Demfarm Pertanian Modern Berbasis Korporasi di Balai Penelitian Sayuran, Lembang, Kamis (25/10).

Dengan berpikir bisnis, menurut Hermanto, petani akan mengubah prilaku menjadi seorang wirausaha. “Jadi cara berpikir petani beda dengan umumnya. Kalau masih berpikir bantuan belum menjadi wirausaha,” ujarnya.

Wirausaha adalah kemampuan atau keberanian yang dimiliki seseorang untuk melihat dan menilai peluang bisnis. Kemudian mengambil tindakan yang tepat untuk meraih kesuksesan. Karena itu, untuk menjadi seorang wirausaha, petani harus kreatif dan inovatif. “Petani harus kreatif mengembangkan ide dan cara baru menemukan peluang, dan inovatif menerapkan kreatifitas tersebut,” katanya.

Hermanto meminta kepada petani membedakan pengeloaan koperasi dengan korporasi. Koperasi hanyalah kumpulan orang dan akan sulit berkembang. Sedangkan korporasi adalah kumpulan orang dan modal. “Di dalam korporasi, sistem produksi harus memenuhi skala ekonomi dan menggunakan teknik modern dalam berproduksi,” tuturnya seraya menambahkan, pengembangan agribisnisnya nantinya dari hulu ke hilir.

Menurutnya, banyak manfaat ketika petani mengembangan korporasi. Bagi petani akan meningkatkan pendapatan dan pelayanan, kuantitas dan kualitas produk juga meningkat, serta mendongkrak daya saing. Sedangkan bagi masyarakat sekitar akan menambah pendapatan masyarakat, memperkuat ekonomi, serta tersedianya berbagai jenis barang. “Bagi konsumen juga akan diuntungkan, karena akan tersedia berbagai produk baru dan biaya pemasaran menjadi lebih murah,” ujarnya.

Nantinya dalam pengembangan korporasi, petani bisa bekerjasama dengan swasta. Dengan kerjasama ini, petani tidak akan kesulitan untuk mendapatkan permodalan. Namun demikian Hermanto menegaskan, keberhasilan korporasi petani tergantung SDM-nya. Jadi sebaik apapun aturan atau sistem, tanpa ada keinginan dari petani menjadi lebih baik, akan sulit terbentuk korporasi.

 

 

Reporter : Yulianto
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018