Friday, 16 April 2021


Di Tangan Wawan, Kawista Karawang tetap Lestari

23 Mar 2021, 11:32 WIBEditor : Yulianto

Wawan bersama pohon kawista | Sumber Foto:Wawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Karawang---Kawista buah Langka yang saat ini cukup Susah ditemui di kota besar Indonesia, tapi ternyata banyak dikembangkan di daerah Karawang. Adalah Wawan Kustiawan Syarif, S.IP atau kerap dipanggil Wawan Kawista yang konsisten mengembangkan buah langka ini menjadi lebih bernilai.

“Saya bangga jadi petani kawista dari sini saja diakui sebagai pelestari tanaman pertanian sampai saya mendapatkan Sertifikat SDG dari Komisi Nasional Sumber Daya Genetik beberapa tahun lalu,” kata Wawan yang mendapatkan Piagam Penghargaan Ketahanan Pangan dari Gubernur Jawa Barat saat di hubungi Sinartani.

Pengembangan kawista bagi Wawan merupakan upaya melestarikan tanaman tersebut agar banyak dikenal kalangan luas. Saat ini dirinya telah mempunyai kebun mini kawista dengan jumlah tanaman sebanyak 250 pohon. Tiap tahun ia memproduksi bibit kawista sebanyak 3.000 pohon biji dan 1.000 pohon okulasi.

Wawan yang tinggal di Jalan Pramuka 67 Krajan 1, Desa Talagasari, Kecamatan Talagasari Karawang, Jawa Barat ini menambahkan, dirinya juga membina petani milenial di Karawang agar ikut melestarikan pohon kawista. “Kini makin banyak anak anak muda yang mau membudidayakan tanaman tersebut,” kata pemilik PT. Axar Qiara Nursery ini.

Wawan mengaku menggeluti budidaya pembibitan dan penanaman pohon kawista ini sejak tahun 1993. Dirinya bercita-cita besar menjadikan kawista sebagai buah khas Karawang. Pasalnya kota lainnya sudah banyak memiliki identitas tersendiri seperti Subang dengan nanas dan Bogor dengan talas. Karena itu, dirinya tergerak untuk terus berupaya mengembangkan kawista. 

Menurut Wawan, bibit kawista dapat berbuah setelah tumbuh sekitar 50 meter. Kawista genjah lanjutnya, bisa cepat berbuah tanpa menunggu waktu puluhan tahun. Jenisnya sendiri terdapat kawista batu dengan ciri daun besar dan buah, sebaliknya yang kecil disebut kawista kerikil.

Perbedaan kawista secara umum jarang diketahui masyarakat, sehingga mengundang inspirasi sejumlah mahasiswa IPB meneliti beragam varietas kawista yang ada di Indonesia,” tuturnya. Wawan berharap kawista menjadi tanaman wajib untuk ditanam di perkantoran pemerintah dan perusahaan.

   

Budidaya Kawista

Buah yang berasal dari India ini memiliki beberapa keistimewaan, seperti dapat mengurangi panas dalam, meriang, menguatkan jantung, dan dapat diolah menjadi tonikum. Dalam pembudidayaannya, menurut Wawan juga tidak ribet dan tidak memakan biaya besar. Cukup disirami dua kali seminggu saat musim kemarau, serta diberi pupuk kandang dan pupuk NPK.

Sebagai tanaman, kawista juga termasuk bandel alias tidak mempan dari serangan hama, virus, dan penyakit tanaman lain. Bahkan, lalat buah pun tidak mau menyentuhnya. Lantaran, buah yang mengeluarkan aroma wangi yang menyengat itu mempunyai kulit buah yang sangat keras. “Kecuali, ulat daun. Meski, sebenarnya, kehadiran ulat-ulat tersebut justru menambah subur setelah daun-daun tanaman ini mereka lahap habis,” katanya.

Namun, sayangnya menurut Wawan, tanaman yang banyak tumbuh secara alamiah di pesisir utara Pulau Jawa ini baru berbuah untuk pertama kalinya sekitar 7−10 tahun setelah ditanam. Mengingat, dalam perbanyakan, harus dimulai dari menebar biji atau tidak dapat dicangkok.

Kondisi inilah, yang membuat orang-orang yang menanamnya yang notabene bukan orang-orang yang sabar menanti, memutuskan untuk menebang atau mengambil kayunya yang memang terkenal kuat dan keras. Sedangkan biji buahnya, dimakan begitu saja. Imbasnya, tanaman yang telah dibudidayakan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan itu pun mendekati kepunahan.

Lalu Wawan mencoba melakukan inovasi atau lebih tepatnya pemuliaan dengan menyemai bijinya. Setelah tumbuh sebesar sebatang rokok, ia melakukan okulasi dengan kawista yang sudah berbuah. Tapi, ternyata, tumbuh buahnya masih cukup lama.

Akhirnya, Wawan melakukan inovasi dengan teknik yang digunakan dalam budidaya Durian Bawor. Tapi, berbeda dengan durian yang ditopang oleh akar berbagai jenis durian, kawista hanya menggunakan satu jenis akar kawista. Hasilnya, usaha keras Wawan berbuah hasil.

Tanaman yang terbagi menjadi Kawista Kerikil dan Kawista Batu itu sudah berbuah untuk pertama kalinya maksimal dua tahun setelah ditanam di tanah. Sedangkan bila ditanam dalam pot sebagai tabulampot, dalam waktu 1,5 tahun sudah dapat panen untuk pertama kalinya, dengan syarat medianya bagus dan nutrisinya cukup.

Sama halnya dengan Durian Bawor, menurut Wawan, teknik kaki ini juga membuat akarnya lebih kuat, lebih tahan penyakit, tahan hembusan angin kencang, umurnya lebih panjang, dan produktivitasnya lebih tinggi. Kawista yang semula hanya berbuah setahun sekali, kini, sepanjang tahun berbuah. “Untuk membantunya agar terus berbuah, tambahkanlah nutrisi dan vitamin untuk tanaman,” sarannya.

Bila nanti daun-daunnya luruh, Wawan mengingatkan tidak perlu panik. Karena, hal itu menandakan tanaman ingin istirahat sejenak, sebelum kemudian mengeluarkan tunas dan bunga baru. Kerontokan pada daun-daun tanaman yang berkerabat dekat dengan buah Maja ini, biasanya terjadi kala masih tersisa 20 buah di atas pohon.

Pohon Kawista yang dipanen untuk pertama kalinya hanya akan menghasilkan 20−25 buah/pohon. Dalam perkembangannya, jumlah buah akan bertambah 3−5 kali lipat. Sementara pohon Kawista akan terus berbuah sampai berumur 15−20 tahun. Yang kami miliki saat ini, sudah berumur lebih dari 15 tahun dan di sana masih tergantung sekitar 1.500 buah,” imbuhnya.

 

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018