Rabu, 22 Mei 2019


Berawal dari PWMP, Kini jadi Duta Petani ASEAN

08 Jan 2019, 18:25 WIBEditor : Gesha

Rizal Fahreza (berbaju merah) sukses menjadi enterpreneur muda dari Garut | Sumber Foto:ISTIMEWA

Rizal Fahreza kini dikenal sebagai The Raising Garut Young Entrepreneur

 

TABLOIDSINARTANILCOM, Jakarta --- Program Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) kian menunjukkan hasil yang positif dalam pencetakan wirausahawan pertanian yang mandiri di daerah.

Kepala Pusat Pendidikan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti mencontohkan seorang entrepreneur muda sukses, yang dimulai dari rintisan usahatani yang dibina melalui Program PWMP yang berasal dari Cikajang, Garut, Jawa Barat.

“Pemuda ini berasal dari petani sayur dan buah biasa dan saat ini sudah menjadi Duta Petani Asean,” sebutnya. Gelar tersebut direbut Rizal pada acara  “THE ASEAN YOUNG SUCCESS FARMER” pada tahun 2018 yang diselenggarakan di Philipina.

Bisnisnya awal adalah petani sayur dan buah yang terus dibangun dan saat ini menjadi “Agrowisata Garut” dengan nama “Eptilu”. Dan, dalam mempertajam ilmu pengetahuan sebagai petani milenial, Rizal juga memanfaatkan kesempatan sekolah di Amerika dengan fokus pendidikan Bisnis Pertanian.

“Usaha ini berkorporasi dengan Asosiasi Petani, Lembaga pemerintahan dan Instansi Bisnis lainnya. Agrowisata sebenarnya adalah upaya Rizal untuk mengenalkan betapa indahnya wirausaha di bidang pertanian dan betapa menariknya proses bisnis pertanian,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Rizal Fahreza merupakan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dirinya merintis kebun jeruk sejak dirinya masih kuliah di tahun 2013. Dirinya mengebunkan 1.400 pohon jeruk jenis siam asal Garut di lahan 1,2 hektare dan panen perdana dilakukannya di tahun 2016. Kini Rizal bisa memanen rata-rata 5---10 kg jeruk dari setiap pohon per tahun.

Sejak Februari 2017, Rizal membuka kebun untuk dikunjungi masyarakat umum dengan konsep kebun edukasi dan agrowisata. Di kebun yang berlokasi di Kampung Leuwiereng, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, itu para pengunjung dapat memetik sendiri buah jeruk yang sudah matang.

Setelah dipetik, pengunjung menimbang hasil petik lalu membayarnya di kasir. Rizal membandrol harga jual jeruk Rp20.000 per kg. Dengan konsep kebun edukasi dan agrowisata itu mampu menyerap hasil panen hingga 600 kg jeruk per bulan.

“Rizal sudah mendobrak image petani itu kotor , kumuh, dan penghasilan yang tidak menjanjikan menjadi Petani milenial yang menjadi champion  di daerahnya,“ pungkas Santi.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018