Selasa, 21 Mei 2019


Enam Sekawan Penyuluh Millenial Dari BP3K Lembang

05 Peb 2019, 10:00 WIBEditor : Gesha

Inilah Penyuluh Millenial asal BP3K Lembang | Sumber Foto:Lely

Tidak bermaksud untuk menggurui petani yang telah menggeluti pertanian bertahun-tahun, mereka justru menjadikan petani rekan kerja.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang --- Siapa bilang jadi penyuluh pertanian itu kaku dan gak asyikKenalin nih Enam Sekawan Penyuluh Millenial dari BP3K Lembang!

Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Lembang merupakan satu dari beberapa lembaga penyuluhan  yang berada di Provinsi Jawa Barat.

Didukung oleh 6 orang  penyuluh pertanian dengan usia 30-35 tahun, BP3K Lembang mampu membawa petani binaannya meraih kesuksesan. 

Adalah W Darwin, Djamaludin, Diki Kurniawan, Efan Driyana,Ferry Ferdiansyah dan Ine Komalasari yang menjadi penyuluh millenial dan motor penggerak dari BP3K Lembang.

Generasi muda yang aktif,kreatif dan inovatif yang siap mengisi pembangunan pertanian melalui penyuluhan.

Tuntutan untuk meluangkan waktu melewati jam kerja pada umumnya tidak mereka jadikan keluhan, namun menjadi semangat tersendiri bagi mereka.

Kedekatan dengan para petani menjadi nilai lebih bagi mereka. Tidak bermaksud untuk menggurui petani yang telah menggeluti pertanian bertahun-tahun, mereka justru menjadikan petani rekan kerja. 

“Kami selalu berusaha untuk menjadi figur penyuluh millenial dengan menjadikan BP3K sebagai pusat informasi bagi petani. Tentunya kami ber 6 harus menguasai teknologi terlebih dahulu sebelum menularkan kepada para petani. Secara praktek, kami mencoba menjadikan BP3K lembang sebagai show window pembangunan pertanian serta tempat pendidikan dan pelatihan pemasaran hasil pertanian," ungkap W Darwin,penyuluh sekaligus koordinator penyuluh BP3K Lembang.

Lebih lanjut Darwin mengungkapkan sebagai agen perubahan, penyuluh pertanian hendaknya mampu untuk mengikuti perkembangan teknologi  yang ada.

Dalam upaya mengubah perilaku petani untuk meningkatkan hasil usaha dan tingkat kehidupannya, penyuluh tidak dapat berpegang pada cara konvensional saja, penggunaan alat mekanisasi pertanian pun perlu dikuasai.

Penyuluh harus menjelma menjadi penyuluh millenial yang tidak gagap teknologi dan memanfaatkan media sosial guna menyebarkan informasi kepada petani serta capaian sektor pertanian kepada masyarakat luas.

Tidak hanya terbatas pada teknologi informasi dan alat mekanisasi pertanian, penyuluh pun wajib untuk meningkatkan pendidikan dan pengetahuannya.

Penyuluh harus merubah pola fikirnya agar mau menerima perubahan dan kemajuan yang ada serta aktif terlibat didalamnya. 

Luasnya wilayah binaan yang tidak sebanding dengan jumlah penyuluh dapat diatasi dengan kemajuan teknologi, melalui media sosial interaksi dengan petani tetap bisa dilakukan. 

Bukan hanya sebatas kata-kata, BP3K Lembang telah mampu mewujudkan pelaku utama dan pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing. 

Ulus Pirnawan, dan Dodih merupakan bukti nyata pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing.

Mereka  telah mengekspor komoditas hortikultura hasil produksinya ke Singapura, Malaysia, Brunei dan Vietnam, hal ini tidak terlepas dari pendampingan penyuluh millenial dari BP3K Lembang.

"Kalau bukan kami, siapa lagi yang akan melanjutkan perjuangan penyuluh-penyuluh sebelumnya? Penyuluh,petani dan seluruh pihak terkait harus bersama-sama memajukan pertanian demi kesejahteraan petani dan amannya pangan nasional," tegas mereka dengan penuh keyakinan.

Reporter : Lely
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018