Minggu, 20 Oktober 2019


Ternyata Begini Cara Menjadi Penyuluh Milenial !

13 Sep 2019, 13:31 WIBEditor : Gesha

Penyuluh Milenial asal Kabupaten Bogor, Evrina Budiastuti bersama petani binaannya | Sumber Foto:EVRINA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Menjadi seorang penyuluh, era 4.0 harus dihadapi dengan optimis dan kesiapan yang tinggi. Apa sajakah yang harus dilakukan penyuluh?Intip yuk !

"Penyuluh milenial sekarang memiliki perbedaan dengan penyuluh generasi sebelumnya. Dalam melakukan penyuluhan, selain face to face, bisa teleconference, melalui media social, aplikasi messenger sehingga tidak memiliki ruang batas waktu antara petani dan penyuluh," ungkap salah satu penyuluh milenial dari Dinas Pertanian Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Evrina Budiastuti kepada tabloidsinartani.com.

Tanggung jawab mendukung pembangunan pertanian juga tidak hanya di wilayah binaan saja, tetapi meluas hingga ke level masyarakat di luar wilayah binaan melalui blog dan komunikasi digital lainnya."Selain bukti fisik untuk penilaian kinerja, jejak digital juga menjadi salah satu bukti kinerja dari penyuluh milenial. Bahkan penyuluh juga dituntut untuk bisa menjadi seorang enterpreneur," lanjut Evrina.

Lantas bagaimana cara agar penyuluh siap menghadapi era 4.0? Dimulai dari upgrade kompetensi diri, dengan cara meningkatkan ilmu pengetahuan lewat seminar, bimtek dan sebagainya, kemudian mengupdate informasi dan terakhir dengan melanjutkan pendidikan.

Kemudian cara kedua mengoptimalkan sarana dan alat bantu penyuluhan. Dengan menggunakan audio visual hingga smartphone untuk membantu penyuluhan. Lalu, maksimalkan penggunaan internet untuk mempromosikan kegiatan petani maupun kelompok, memasarkan produk petani dan kelompok melalui media sosial. Termasuk membantu petani agar open minded dengan perubahan teknologi informasi dan komunikasi.

Delapan Ciri Utama

Evrina yang juga menjadi penyuluh Berprestasi 2019 ini membeberkan setidaknya ada delapan ciri utama dari penyuluh milenial. Dimulai dari adaptif terhadap perubahan dan masuknya arus teknologi (open minded), dimana penyuluh bisa menggunakan dan mengelola media sosial untuk menyebarluaskan kinerjanya. Bahkan secara tidak langsung juga menjadi bentuk media penyuluhan kepada masyarakat awam diluar wilayah binaan.

Kemudian ada karakter creative dan innovative serta selalu mencari tahu dari ilmu yang ingin didapatkan oleh penyuluh. Bagaimana mau mendampingi petani kalau di jiwa penyuluh sendiri tidak kreatif, inovatif dan ilmunya sedikit?.

Kemudian karakter gadget minded, bukan berarti main hp terus-terusan tetapi bagaimana meningkatkan skill dan kemampuan dengan sarana gadget yang juga terus diupgrade. Misalnya awalnya hanya punya hp dan kamera pocket kemudian belajar infografis pastinya membutuhkan laptop dan kemampuan diri mengolah gambar. Lalu meningkat kepada video, cara mengambil video dan mengolahnya sehingga menjadi bentuk tayangan.

Lalu ada karakter meningkatkan kemampuan dan skill serta tidak menunggu selalu mencari dimana penyuluh harus senantiasa meningkatkan kemampuan diri sendiri dan tidak menunggu pelatihan dari pemerintah. Perluas jejaring diri dengan peneliti dari balai penelitian setempat.

Kemudian karakter selanjutnya adalah mampu menyebarkan teknologi tersebut langsung ke petani. Memang agak sulit untuk membahasakan bahasa teknologi menjadi bahasa penyuluhan, tetapi secara bertahap. "Karakter terakhir adalah berjiwa enterpreneur seperti yang dipesankan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman bahwa jika ingin petani kaya, penyuluhnya harus kaya dahulu. Punga wawasan agribisnis," tutup Evrina.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018