Jumat, 14 Juni 2024


Di Tangan Yogi, Lada Purbalingga Naik Pamor

10 Jun 2024, 16:31 WIBEditor : Yulianto

Yogi Dwi Sungkowo, dari penangkar benih bawa lada Purbalingga melanglang buana | Sumber Foto:Hendra Sipayung

TABLOIDSINARTANI.COM, Purbalingga---Generasi milenial memiliki daya ledak untuk menciptakan pengembangan kawasan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Purbalingga. Di tangan  Yogi Dwi Sungkowo, daerah yang sebelumnya bukan sentra lada, kini justru berkembang menjadi pengekspor komoditas perkebunan tersebut.

Sebagai seorang milenial, Yogi tak ingin bertani secara tradisional. Ia pun mengembangan ekosistem lada di daerahnya. Sebelumnya Yogi hanya menekuni perbenihan. Namun pada tahun 2010, Ketua Kelompok Tani Margo Utomo mengembangkan usaha pembibitan menjadi kebun sumber benih

“Pada awalnya  saya menangkarkan dan jual benih tidak bersertifikat. Namun berkat adanya pembinaan dari pemerintah saya memutuskan menjadi produsen benih resmi,” kata Yogi yang berdomisili di Desa Kedarpan, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Pada tahun 2016, Yogi membangun kebun yang luasnya 0,775 hektar (ha) dengan menanami kurang lebih 1.900 tanaman di empat lokasi. Lahan tersebut kemudian ditetapkan sebagai kebun sumber benih dengan Varietas Natar 1.

Sejak saat itu Kelompok Tani Margo Utomo menjadi menjadi salah satu produsen resmi benih lada di Jawa Tengah. Bibit lada dari penangkarannya pun merambah hingga ke sentra lada di Indonesia, seperti Aceh, Bengkulu, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Apa yang dilakukan Yogi, mengukuhkan dirinya sebagai produsen lada terbesar di Pulau Jawa dengan potensi produksi benih mencapai 200 ribu benih pertahun. Lalu tahun 2018 ia membina Kelompok Tani Margo Lestari di Desa Kedrapan yang mendapatkan bantuan menjadi Desa Mandiri Benih Lada dari Kementerian Pertanian. Pembinaan tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi lada dari Kabupaten Purbalingga.

Selain memasarkan ke luar provinsi, lada yang berasal dari penangkaran Yogi juga untuk mengembangkan perkebunan lada di Kabupaten Purbalingga, baik secara swadaya atau melalui dukungan dari Kementerian Pertanian. Petani yang menggunakan benihnya juga dibina agar dapat menghasilkan produk turunan bernilai tambah. Alhasil, saat ini lahan petani binaan mencapai 200 ha.

Bahkan pada tahun 2022, Yogi mendapatkan pesanan lada putih ke Jepang melalui kerjasama dengan perusahaan dari Negeri Matahari Terbit tersebut sebanyak 3 kali, masing-masing 25 ton, 25 ton dan 40 ton.  Ekspor dilakukan lewat KUB Mitra Tani Sejahtera, Desa Kedarpan Kecamatan Kejobong Purbalingga.

Selain memproduksi produk mentah, petani binaan Yogi juga mampu menghasilkan produk turunan seperti lada bubuk dalam kemasan yang dijual di pasar lokal.

Terkait pengembanga lada, Yogi berharap agar pemerintah tetap mengalokasi pengembangan lada. Selain untuk meningkatan pasokan bahan baku lada yang nantinya dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, juga dapat menghidupkan usaha pembibitan.

Pasalnya, selama ini pasar utama dari produsen lada adalah pengadaan pemerintah, baik melalui skema APBN ataupun APBD. “Selama ini keberlangsungan usaha perbenihan berasal dari anggaran pemerintah. Jadi kalau pemerintah berhenti belanja, maka usaha perbenihan lada akan mati perlahan. Ketika produsen benih sudah gulung tikar susah untuk kembali bangkit,” tuturnya.

Melalui usaha perbenihan Yogi tidak saja berkontribusi pada penumbuhan usaha penyediaan benih di Kabupaten Purbalingga, namun juga menjadikan desanya menjadi salah satu cluster pengembangan lada. Kawasan tersebut bukan hanya usaha perbenihan, tapi juga pengolahan lada yang berkontribusi pada penumbuhan ekonomi wilayah pedesaan.

Keberhasilan Yogi mengangkat pamor lada Purbalingga membuat tanaman lada kembali menjadi primadona yang sangat menguntungkan bagi petani di wilayah Kecamatan Kejobong Purbalingga. Hampir semua desa di Kecamatan Kejobong terdapat tanaman lada.

Pj Kepala Desa Langgar, Kejobong Purbalingga Sudiro mengatakan, kebanyakan warga desanya kini bertani lada. Biasanya petani menjual lada putih atau lada yang sudah jadi, sehingga membutuhkan perlakukan khusus paska panen. Sebelumnya mereka menjual lada hitam dalam arti habis petik langsung dijemur dan dijual.

“Karena secara ekonomi kurang menguntungkan, saat ini petani lada lebih suka menjual lada putih, dengan perlakuan direndam 10-15 hari paska panen, kemudian dikupas atau dihilangkan kulitnya baru dijemur sampai kering dan dijual,” katanya. Saat ini harga lada mencapai Rp. 140 – 150 ribu/kg.

Reporter : Hendra Sipayung
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018