Friday, 07 May 2021


Elvrida Rosa, Perempuan Aceh dalam Inovasi Pertanian

10 Apr 2021, 17:53 WIBEditor : Ahmad Soim

Elvrida | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Memasuki halaman rumahnya yang luasnya 400 m2, kita langsung dimanjakan dengan rak rak hidroponik dengan berbagai ukuran dan model. Selain terdapat enam instalasi hidroponik, ada juga  teknologi budidaya ikan dalam ember  (Budikdamber).  Ia hanya ingin memberi contoh kepada masyarakat.

Budidaya sayuran hidroponik bertujuan untuk mendukung program ketahanan pangan, juga dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat melalui sayur sehat. Sehingga bisa menghemat belanja rumah tangga, dan menambah pendapatan keluarga. 

Dalam teknologi hidroponik kata Elvrida Rosa, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh, kita dapat menanam berbagai jenis sayuran, seperti Pakchoy, Selada merah/hijau, Bayam merah/hijau, Kangkung, Kailan dan Samhong, Sawi Pagoda juga Seledri. "Bahkan salah satu mahasiswanya Marzukri, yang kini tengah ikut pelatihan program magang ke Jepang, pernah menanam Melon secara hidroponik", kenangnya.

Dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, Fakultas Pertanian, Universitas Abulyatama melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tetap concern dan konsisten. Tak pelak lagi, beberapa waktu lalu desa binaannya yang telah berhasil mandiri, disambangi tamu jiran dari University Putra Malaysia (UPM).

Kegigihannya dalam menggembleng mahasiswa untuk menjadi enterpreneur, kini telah membuahkan hasil, dengan diikutsertakan tiga alumninya akhir 2019 lalu, sebagai peserta magang ke Shongkla Negeri Gajah Putih, Thailand.

Banda Aceh, sebagai daerah paling Barat di Indonesia, juga melaksanakan program dengan menerapkan konsep pertanian kota (Urban Farming), karena lahan pertanian yang sangat terbatas. "Sangat cocok untuk menerapkan dan mengembangkan teknologi hidroponik", sambung Elvrida yang juga pengurus Maporina Aceh.

Selama ini lanjutnya, untuk memenuhi kebutuhan akan sayur, sebagian besar terpaksa memasok dari Brastagi, Sumatera Utara.

Namun sejak terjadi bencana meletusnya Gunung Sinabung, pasokan sayur mayur pun semakin berkurang dan hampir tidak ada lagi.

Untuk itulah, semangat dan antusiasnya kian merasuk sukma dan berkobar membara dalam mengembangkan teknologi hidroponik. Teknologi ini tidak hanya digemari oleh ibu-ibu saja, tapi juga para kaum Bapak.

Untuk kota Banda Aceh, ada tiga kelompok wanita tani binaannya, yang berlokasi di desa Pango, Lamteh, dan Lambhuk. Dalam mensukseskan kegiatan, dirinya mengaku tak mungkin mampu bekerja sendiri. Namun semua ini karena adanya kerjasama dengan Distanbun Aceh, Dinas Pangan dan BPTP Aceh serta TP-PKK dengan melibatkan dosen dan para mahasiswa", bebernya. 

Kebutuhan teknologi hidroponik saat ini, menunjukkan minat dan antusias masyarakat yang semakin  meningkat. Terbukti memang, tidak hanya di beberapa kantor pemerintahan dan rumah sakit saja, namun juga ada di rumah pejabat, masyarakat biasa dan ibu-ibu Bhayangkari, Polda Aceh serta di beberapa pesantren.

Pihaknya selain tampil berkala dalam kegiatan Pasar Tani Aceh, dan mengisi acara talkshow Haba Ureueng Inong:  bertajuk PEREMPUAN DALAM INOVASI PERTANIAN program Aceh TV, juga pernah mendapat apresiasi dari Ketua TP-PKK Aceh, Dr. Dyah Erti Idawati saat ikut di ajang berskala nasional, Aceh Agro Expo yang diselenggarakan Distanbun Aceh, di Blang Padang, Banda Aceh 15-17 November 2019 lalu.

Menurut pengakuannya, dia telah mengembangkan budidaya sayuran hidroponik sejak tahun 2016 hingga saat ini. Waktu itu dalam memasarkan sayur hidroponik, bekerjasama dengan Distanbun melalui Pasar Tani yang digelar berkala dua mingguan. Namun di saat Covid-19 sekarang ini, melibatkan mahasiswanya untuk memasarkan sayuran secara online.

Pada tahun 2020, pihaknya juga pernah bekerjasama dengan Dinas Pangan Pertanian, Kelautan dan Perikanan kota Banda Aceh. Kegiatannya membina sepuluh desa, per desa 10 KK, 1 KK mendapat tiga unit ember. Total 300 unit teknologi budikdamber.

Dirinya mengucapkan terima kasih atas dukungan ibu-ibu RT, rektor, dosen dan mahasiswa FP Unaya, dan semua yang terlibat. Semoga apa yang dilakukan mendapat berkah dan menjadi pembelajaran (edukasi), mendukung agroekowisata.

Kedepan, dia menghimbau agar kegiatan ini dapat dikembangkan secara kontinyu dan konsisten. Sehingga selain dapat mengasah keterampilan/skill, juga menambah wawasan dan pendapatan.

BACA JUGA:

Diharapkannya ajang "Pasar Tani" dapat dibuka kembali oleh Distanbun Aceh, sehingga pemasaran produk hasil pertanian serta UMKM dapat tumbuh berkembang lebih maju lagi.

Dia juga mengajak para petani milenial, untuk terus mengembangkan budidaya sayuran hidroponik, yang merupakan kegiatan urban farming, cocok untuk daerah perkotaan melalui pemanfaatan lahan atau pekarangan yang sempit dan terbatas.

 

Perjalanan Karir dan Keluarga

Elvrida Rosa lahir di Meulaboh, Aceh Barat, 14 April 1978 merupakan anak kedua dari lima bersaudara, pasangan dari Syamsuar (Ayah) dan Ibu (almh.) Dra.Cut Ellidarmedi.

Isteri dari T. Rafliansyah asli Aceh ini, memiliki dua orang putri cantik. Anak pertamanya bernama Cut Keisha Zhavira duduk di kelas 1 MTsN Model Banda Aceh, sedangkan putri kedua diberi nama Cut Khanza Aliqa sekarang duduk dibangku kelas IV SDIK Nurul Qur'an Aceh Besar. 

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, tahun 1996, dia melanjutkan kuliah S1, Prodi Ilmu Tanah selesai 2002, dan masuk S2 tahun 2004, Prodi Konservasi Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala (USK) selesai tahun 2009.

Untuk menambah wawasan dan keilmuannya di bidang pertanian, kini dirinya  tengah melanjutkan S3 Program studi Doktor Ilmu Pertanian USK Banda Aceh.

Pengalamannya pasca tsunami melanda Aceh, tahun 2015 pernah terlibat dalam kegiatan NGO, Satker ADB-BRR (Perikanan) Aceh.

Selanjutnya melalui BPTP Aceh tahun 2006, bergabung memperbaiki lahan-lahan yang rusak akibat tsunami kerjasama dengan ACIAR Australia. 

Sebelumnya saat ia selesai pendidikan S1, sempat memulai karirnya sebagai laboran di Laboratorium FP USK selama hampir 13 tahun lamanya.

Pada tahun 2013 dia mendedikasikan dirinya sebagai dosen tetap Yayasan Abulyatama Aceh dan diangkat menjadi ketua Prodi Agroteknologi FP Unaya tahun 2014.

Selain menjalin kerjasama dengan berbagai pihak (swasta dan pemerintah), ia juga aktif dalam berbagai kepengurusan organisasi profesi. Mulai dari organisasi alumni, IKA-KSDL USK, Masyarakat Konservasi Tanah dan Air, Maporina Aceh dan PISPI Aceh, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Cabang Aceh termasuk juga dengan Forum Kakao Aceh.

Pantaslah kalau Rektor Unaya R. Agung Efriyo Hadi, Ph.D, melantik dirinya sebagai Dekan FP Unaya selama dua periode. Jabatan dekan ia mulai sejak tahun 2016 sampai sekarang (Periode ke-2).

Motto hidupnya: Sesuatu pekerjaan, kalau dilakukan sendiri itu biasa..namun kalau dilakukan dengan bekerjasama Insyaa Allah hasilnya akan luar biasa.

--+

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018