
Palinrungi, pria bersahaja kelahiran Sidrap 1 Juni 1970 i
TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Diperlukan kemauan kuat, usaha dan kerja keras serta keuletan yang tinggi, selalu belajar dari kegagalan usaha budidaya yang ditekuni sampai ditemukan formulasi yang sesuai dengan harapan untuk meraih sukses sebagai petani.
Setidaknya itulah yang dilakukan Palinrungi, pria bersahaja kelahiran Sidrap 1 Juni 1970 ini. Ia tergabung dalam kelompok tani “Pesona Mansapa” Kecamatan Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimanatan Utara ini, merupakan seorang petani yang juga juragan buah kini memiliki lahan garapan untuk ditanami semangka dan melon seluas 8 hektar, selain itu juga ia sekarang mempunyai 3 toko buah untuk menjual hasil usahanya di Kota Nunukan.
Palinrungi yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD) ini, sekarang ia mampu mempekerjakan 10 orang karyawan, 3 orang merupakan penjaga toko buah dan 7 orang lagi bekerja di kebun semangka melon miliknya.
Ia menceritakan, awal mulanya pergi merantau dari kampung halamannya di Sidrap Sulawesi Selatan tahun 2002 untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Tawau Malaysia, di negeri seberang ia bekerja menjadi kuli di bagian tambak perikanan.
Merasa tidak cocok dan tidak ada perkembangan, tahun 2005 ia memutuskan berhenti bekerja di Malaysia lalu pulang ke Indonesia dan menetap tinggal di Nunukan.
“Di Nunukan saya dari nol dan tidak memiliki apa-apa, hanya keinginan kuat untuk bertani dan berkebun saja, saya bertemu dengan teman yang namanya Togo sorang petani, dia mengajak saya untuk berkebun dan meminjamkan lahannya di Nunukan Selatan.
“Kurun waktu tahun 2005 sampai 2007 saya mencoba bertani menanam berbagai sayuran seperti kacang panjang, timun dan sayuran daun, hasilnya pas-pasan, dan terkadang mengalami kerugian bahkan modal pun tidak kembali, kami nyaris putus asa” ujarnya.
Palinrungi yang terlahir dari pasangan Nendra dan Lana ini mengakui memang tidak memiliki dasar pengetahuan tentang pertanian tetapi dia pantang menyerah begitu saja.
Mulai Menanam Semangka
Sekitar tahun 2008 dia mencoba beralih menanam semangka, “waktu itu saya tanam semangka dan hasilnya gagal sampai 3 kali musim tanam, saya berfikir ternyata bertani di Nunukan tidak semudah yang dibayangkan, karena kita bertani di daerah tanah yang asam. Betul-betul kita harus pelajari cara menanamnya, dari kegagalan itu saya belajar, kemudian mulai juga sudah masuk PPL yang menyarankan kepada kami, agar tanahnya dilakukan pengapuran terlebih dahulu,” kenangnya.
Tanah di sini asam kita melakukan pengapuran pada musim tanam semangka berikutnya, sejak saat itu sudah mulai ada hasil yang baik, produksinya lumayan sekitar 2 ton, kemudian muncul informasi ada namanya jenis semangka tanpa biji, kami tertarik berusaha mencoba mengembangkannya.
BACA JUGA:
“Saya mencari benih semangka tanpa biji di toko pertanian Nunukan dan kami dapat benih semangka yang berasal dari Malaysia, isinya ada 90 biji harganya Rp 100.000. Ternyata menanam semangka tanpa biji bukan sekedar ditanam tapi harus dikasih kawin sendiri. Bingung kami caranya bagaimana, terpaksa kami pergi mencari informasi melalui buku ditoko buku. Akhirnya kami tanam yang 90 biji itu hasilnya dapat 300 kg, kemungkinan yang jadi hanya 50 biji saja, dengan 300 kg waktu itu saya dapat menjual dengan harga Rp 4000 per kg. Rasanya senang sekali karena harga segitu saat itu sudah lumayan,” ucapnya.
Sejak itu semangat muncul harapan membuncah, kemudian kami tanam lagi 2 bungkus, dapat panen 700 kg. berikutnya kami tanam 5 bungkus dapat 2 ton lebih, “hidup sudah kami pak, ada sudah modal kami,” ungkapnya.
Palinrungi mulai mengembangkan semangka tanpa biji lebih luas lagi dengan mencari tambahan pekerja, menurutnya hasil yang 2 ton itu tidak habis dijual di Nunukan, Ia terpaksa turun sendiri mencari tempat atau toko yang bisa disewa untuk menjual semangkanya.
Itulah pertama kali dia membuka toko buah bertempat di jalan pelabuhan Nunukan, dan pada tahun 2011 toko buahnya bertambah menjadi 3 unit.
Ia menambahkan sebenarnya toko buahnya selain menjual semangka dan melon juga menawarkan berbagai macam jenis buah-buahan lainnya seperti anggur, berbagai macam jenis apel, jeruk mandarin, buah naga, alpukat dll.
Karena jumlah toko buahnya bertambah kemudian luas kebunnya pun dikembangkan lagi sampai akhirnya menjadi 8 hektar, tanamannya tidak hanya semangka tetapi ada juga melon, ia menanam secara rutin dan kontinu.
“Kalau hasil semangka melon tidak tertampung lagi di Nunukan, kami kirim ke Tarakan, biasanya kami kirim 2 ton sampai 7 ton, di Tarakan sudah ada pembeli untuk diecerkan kembali, ada juga yang dijual ke perusahaan biasanya permintaannya 500–600 kg/minggu seperti perusahaan di Seruyung dan sampai sekarang masih dikirim per bulan sekitar 2 ton, kemudian perusahaan di Sei Manggaris sekitar 300 kg per minggu.” terangnya.
Menurut Palinrungi produksi semangka miliknya kalau lagi bagus bisa mencapai 20 ton lebih per hektar sementara melon produksinya sampai 15 ton per hektar.
“Di Nunukan kita harus pandai-pandai mencari pasarannya dan harus memahami kapan waktunya kita tanam banyak, kapan waktunya kita tanam sedikit, saat musim buah tahunan seperti durian dan rambutan, kita harus tanam melon semangka sedikit karena otomatis orang cenderung mengonsumsi buah tahunan, kalau tiba bulan puasa seperti sekarang ini kita boleh menanam melon semangka tidak terbatas,” paparnya.
Selain itu juga Palinrungi mengemukakan untuk menjaga kepercayaan konsumen dia telah memiliki sertifikat produk prima 3 yang menjamin keamanan buah dengan level residu pestisda di bawah ambang batas yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Utara.
“Ada 3 komoditi miliknya yang sudah memperoleh sertifikat produk prima 3 yakni semangka kuning, melon dan semangka tanpa biji,” tukasnya.
Palinrungi menyebutkan, dia juga membeli secara borongan hasil petani Nunakan yang menanam semangka melon, kalau ada tersisa buahnya kita juga akan membantu mencarikan pasarnya sehingga bisa semua laku terjual.
Harga semangka di pasaran Nunukan, tanpa biji dijual Rp 10.000 per kg, semangka berbiji Rp 8000 per kg sementara buah melon dibanderol dengan harga Rp 12.000-14.000 per kg.
Palinrungi merasa bersyukur dari hasil usahanya dia sudah mampu membangun 3 unit rumah, memilki 1 unit mobil dan sebuah pick up yang ia gunakan untuk transportasi mengangkut buah semangka dan melon.
“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada DPKP Kabupaten Nunukan dan DPKP Provinsi Kaltara serta bapak ibu PPL yang sudah senantiasa mendampingi, memotivasi sehingga diharapkan kedepannya kami menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.
--+
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/