Wednesday, 21 October 2026


Ramadhan, Prof Bugaran Saragih: Stok Pangan Pengusaha Jangan Dipersoalkan

14 Apr 2021, 16:53 WIBEditor : Ahmad Soim

Ketersediaan dan harga daging ayam ras selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri juga terkendali, sehingga berdampak terhadap rendahnya andil angka inflasi dari komoditas tersebut.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta –  Guru Besar IPB University Prof Bungaran Saragih meminta kepada pemerintah untuk tidak mempersoalkan stok pangan pengusaha berapun jumlahnya, selama dilaporkan dan transparan untuk menjaga stok dan harga pangan di Bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2021.

Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian telah mendata stok pangan, mempersiapkan produksi, distribusi dan kemungkinan impornya sejak 6 bulan yang lalu. Kementan menggunakan Sistem Monitoring Stok (Simontok) untuk mendeteksi daerah daerah yang defisit pangan.

Sistem monitoring stok pangan seperti itu kata Guru Besar IPB University Prof. Bungaran Saragih lazim ada di negera negara maju. “Sehingga tidak ada gejolak stok maupun harga pangan meski ada momentum pergantian tahun atau hari keagamaan,” kata Prof Bungaran Saragih kepada Tabloid Sinar Tani (Rabu, 14/04/2021).

“Yang paling penting, manajemen stok pangan dan harga ini dilakukan bukan hanya saat Ramadhan, tetapi sudah dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Dewan Ketahanan Pangan diperankan disini, punya data stok, lalu dibuat antisipadi produksi, impor atau cukup dipasok dari daerah lain,” tambahnya.  

 Jadi dalam 6 bulan sebelumnya, pemerintah sudah tahu stok dan kebutuhan cabai, jagung, melon, beras, minyak, daging, telur dan lain lain, sehingga tidak ada gejolak stok maupun harga. Kalau daging perlu impor disiapkan impor, diusahakan jangan sampai ada yang ribut.

BACA JUGA:

Perlu diperhatikan benar benar tentang stok yang benar yang ada di tingkat grosir, subgrosir, retail  atas bermacam kebutuhan lebaran dan hari raya. Stok harus diketahui, dan kemungkinan akan terjadinya penumpukan atau kosong, dengan model sistem informasi pangan online atau memanfaatkan Teknologi Informasi.

Stok yang didata bukan hanya yang  dimiliki pemerintah, tetapi juga stok yang dimiliki para pengusaha, harus didata, dilaporkan dan bisa dilihat atau diakses semua orang. Kalau ada kekurangan apa diisi dari daerah lain atau dari luar negeri. Di tempat tempat  yang stoknya tinggi, pemerintah bisa menggerakkan ke wilayah yang kurang.

Selanjutnya harus dijamin transportasinya, jangan dihambat hambat. Diajari juga membangun jaringan, punya kontak satu sama yang lain.

Dengan adanya sistem informasi pangan dan jaminan trasportasi, menurut Prof Bungaran pengusaha boleh punya stok berapapun, tapi diinfokan, diberitahukan, transparan. Stok pengusaha jangan dikriminalkan, itu hak pengusaha, itu resiko yang diambil pengusaha.

--+

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018