Tuesday, 03 August 2021


Modal Rp 1,5 Juta, Penjual Kelapa Muda di Aceh Bangun Rumah

19 Apr 2021, 09:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Bank Jack menjual kelapa muda di Aceh | Sumber Foto:Abda

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Banda Aceh -- Kalau anda saat ini berada di kota Banda Aceh, tentu tidak asing lagi dengan warung kopi dan kulinernya. Ada yang berbeda pada bulan Ramadhan ini. Di sepanjang jalan P. Nyak Makam muncul banyak berjejer penjual makanan khas Aceh untuk berbuka puasa, termasuk Air tebu dan juga Kelapa Muda.

Zakaria alias bang Jack (56 th), warga Bireuen sudah sepuluh tahun lalu berkutat dan memeras keringat di tempat itu menjual air tebu dan kelapa muda. Bang Jack mengajak lima anak muda milenial untuk membantu usahanya.

Perjuangan hidupnya merantau ke Banda Aceh, bermula dengan membuka usaha kelontong di daerah Kajhu. Namun pada tahun 2004 seluruh harta dan usahanya hancur luluh berantakan serta musnah diterjang gelombang, akibat tragedi tsunami yang melanda Aceh saat itu. Hilang entah kemana...dan yang tersisa hanya puing - puing bangunannya saja... 

Semangatnya tak pernah lekang oleh waktu. Dia mulai bangkit kembali setelah enam tahun pasca tsunami. Pada tahun 2010 mencoba merintis usaha barunya dengan menjual air tebu dan kelapa muda demi sesuap nasi untuk menafkahi hidup keluarganya. 

Sejak itu pula ia mulai dikenal banyak kalangan, karena selain baik hati, ramah dan murah senyum dia juga pandai bergaul. Tak pelak lagi, jumlah pelanggaran pun semakin bertambah banyak. "Pelanggan saya selain mahasiswa, masyarakat umum dan juga ada pegawai kantoran", imbuhnya.

"Dulu waktu awal buka usaha ini, saya diberikan mesin penggiling tebu oleh kerabat dekat, dan hanya memiliki modal Rp 1,5 juta. Uangnya saya belikan tebu dan kelapa serta peralatan seadanya saja", kenangnya haru.

Dari kegigihan dan semangatnya yang pantang menyerah itu, kini mendatangkan rezeki yang mengalir secara perlahan-lahan, bak air tebu menetes dari penggilingannya.

Dihari - hari biasa dia membuka lapak mulai jam 11 siang hingga pukul 18.30 wib sore. "Namun di bulan suci Ramadhan kita mulai buka pukul 15.00 wib hingga tutup jelang azan maghrib", sebutnya. 

BACA JUGA:

Sebenarnya tidak jauh beda sambungnya, kalau bulan Ramadhan waktunya singkat sehingga pembelinya padat berantrian. Sedangkan diluar bulan Ramadhan waktunya tidak mepet dan jumlah pembelinya juga banyak, karena waktu mulai jualannya lebih awal.

Menurutnya, kelapa muda dipasok dari beberapa daerah, mulai dari Aceh Barat, Aceh Besar dan ada juga yang dari Kabupaten Pidie. Sementara kalau Tebu khusus didatangkan dari Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Jumlah kebutuhan kelapa selama bulan Ramadhan meningkat hingga 500 buah per hari. Kalau hari biasa hanya berkisar 300 -  350 buah. Harga beli Rp 4.000 per buah sampai ditempat. Kalau yang original dijual Rp 7.000, jika tambah sirup atau gula menjadi Rp 8.000 per buah.

Permintaan Tebu juga meningkat sebelum nya hanya lima ikat (10 batang per ikat). Untuk bulan Ramadhan meningkat hingga delapan ikat per hari. Modal per ikat dibeli dengan harga Rp 32.000.

Biasanya kata dia, satu batang Tebu menghasilkan 1 - 2 gelas, kami jual Rp 5.000 per gelas.

Pada tahun 2018, dirinya juga pernah mengalami musibah, yang mengakibatkan pergelangan tangan kirinya patah. Untuk meringankan tugasnya dia merekrut tenaga kerja yang masih berusia milenial dan dibayar upah Rp 70.000 per hari.

Dari semenjak berjualan kelapa muda kini dia sudah bisa membangun rumah semi permanen di lahan seluas 200 m2. Kini buah hasil usaha dan kerja kerasnya dapat menyekolahkan ketiga putri kesayangannya.

"Anak saya yang bungsu sekolah di SMPN 6, nomor dua di SMAN 4 dan yang sulung saat ini sedang melanjutkan kuliah di UIN Ar Raniry, Banda Aceh", bebernya.

Rata rata kalau hari biasa, omzet penjualan hanya Rp 1,5 - 2 juta dan kalau bulan Ramadhan bisa mencapai Rp 2 - 2,5 juta.  "Pembeli umumnya pelanggan tetap, ada yang suka air nya saja dan daging kelapanya yang tipis, namun ada juga yang suka isinya tebal, tergantung selera", paparnya. 

Kalau hari biasa lanjutnya, air kelapa pakai es, jadi satu gelas satu buah kelapa.Tapi kalau bulan puasa, kelapanya dikupas terlebih dahulu, air dan isinya dituangkan ke dalam gayung/cangkir dan dibungkus dalam plastik serta es nya dibungkus terpisah. Sehingga untuk satu bungkus biasanya memerlukan 1,5 buah kelapa.

Sementara berjarak 100 meter dari tempat itu, ada Abdul Gani (47) yang juga berjualan air tebu dan kelapa muda sejak tahun 2006.

Pemuda asal Matang Geulumpang Dua, Bireuen yang kala itu masih berusia 32 tahun, dalam merintis usahanya sempat jatuh bangun dan bahkan hampir gulung tikar.

Dia juga pernah menawarkan tanah rumahnya ke Reporter Sinar Tani, alasannya kala itu hanya untuk menyambung hidup dan menambah modal usahanya.

Namun karena kesabaran dan keuletennya, seiring dengan berjalannya waktu, kini usahanya pun mulai tumbuh dan berkembang. "Ini isteri saya Bang, yang saya nikahi tiga tahun lalu", ungkapnya, sambil menunjuk ke arah sosok perempuan yang selalu setia mendampinginya.

Sehari-hari ia menghabiskan 100 - 150 buah kelapa, kalau bulan Ramadhan Alhamdulillah meningkat hingga 200 buah per hari.

"Begitu juga Tebu, biasanya hanya 5 ikat sehari, tapi sekarang bertambah menjadi 8 - 10 ikat perhari", ujarnya.

Dia juga melibatkan isteri dan empat orang pekerja muda untuk mendukung usahanya. Berdasarkan pantauan Sinar Tani, mereka mulai bekerja membersihkan tebu malam hari setelah Taraweh, namun kalau hari biasa, pagi buta usai sholat Shubuh.

 --+

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018