
Pedagang bunga di Desa Sidomulyo
TABLOIDSINARTANI.COM, Batu -- Apabila anda senang ke tempat-tempat pertanian, tidak lengkap bila tidak mengunjungi Kota Batu. Mampirlah ke pertanian bunga yang merupakan kebun yang berada di lingkungan perkampungan warga.
Berada di antara lereng Gunung Panderman, gunung Arjuna dan Welirang, Kota Batu laksana surga bagi pertanian holtikultura. Dengan ketinggian sekitar 1500 meter di atas permukaan laut, suhu udara rata-rata berkisar 21 derajat celsius sampai 23 derajat celsius. Pada masa kolonial, kota ini dijuluki De Klein Switzerland atau Swiss kecil di pulau Jawa.
Masuk Kawasan Wisata Bunga Sidomulyo, hilir mudik kendaraan mengangkut bibit tanaman melintas di jalan desa. Letak Sidomulyo tak jauh dari pusat Kota Batu, ini merupakan salah satu sentra budi daya pertanian holtikultura, khususnya tanaman hias.
Kota Batu memang memiliki banyak obyek wisata buatan maupun wisata alam. Semuanya menjadi tujuan favorit wisatawan. Tapi Desa Sidomulyo tak kalah memikat untuk disinggahi. Hamparan tanaman hias beraneka jenis akan tampak sejauh mata memandang.
Budidaya bunga tak hanya di kebun, tapi juga di pekarangan rumah dengan media polibag atau pot berbahan kantong plastik, serta di dalam green house atau bangunan berbahan plastik di dekat rumah maupun di perkebunan. Salah satu aktivitas paling sibuk ada di Pasar Bunga Sekarmulyo seluas 2,5 hektar dan Gelora Bunga seluas 4 hektar. Jadi tempat budi daya sekaligus sentra perdagangan bunga yang dikelola Kelompok Tani Bunga.
BACA JUGA:
Abdul Syukur salah seorang pedagang megatakan, “saat pandemik Covid 19 penjualan bunga meningkat, karena masyarakat cenderung dirumah dan merawat tanaman untuk menghilangkan kejenuhan,”katanya.
Saat akhir pekan, banyak pelancong datang ke kebun maupun ke rumah–rumah warga. Sekedar berfoto maupun membeli beberapa pot bunga sebagai buah tangan. Bagi petani, kedatangan wisatawan sudah biasa. Mereka memang bukan pembeli utama hasil pertanian bunga para petani.
Kios Bunga “Barokah” menjual banyak sekali jenis tanaman tanaman, kios ini ramai dikunjungi pembeli terutama saat weakend atau hari libur, hamparan bunga yang sejuk dipandang mata dan sangat memanjakan setiap orang yang dating mengunjunginya.
Mulai bertambah angka kunjungan wisatawan, tak berdampak langsung ke penjualan bunga para petani. Sebab hasil panen tanaman hias, lebih banyak untuk memenuhi permintaan ke luar daerah. Seperti ke Bali, Jakarta, Surabaya, Kalimantan, Bandung, Semarang dan kota besar lainnya.
Pendapatan utama para petani bunga di Desa Sidomulyo memang bukan dari transaksi langsung dengan para wisatawan, demikian juga dengan desa lainnya yang banyak warganya membudidayakan tanaman hias.
Riwayat panjang Desa Sidomulyo budi daya tanaman hias bisa terus menggeliat dan berkembang di desa ini. Dulu, sayuran lebih banyak mendominasi lahan pertanian warga. Jangan harap menemukan pohon apel atau jeruk di kebun–kebun warga. Sebab pertanian buah itu sudah bergeser di kawasan yang lebih atas. Bunga yang paling banyak dibudidayakan adalah Mawar, Krisan, Anggrek dan Anthurium,
Pemerintah Desa Sidomulyo mengakui tak ada dampak langsung ke pertanian bunga dengan tingginya kunjungan wisatawan ke Kota Batu. Apalagi potensi sebagai desa wisata belum maksimal .
Meski demikian, warga tetap terbuka dengan kedatangan para wisatawan. Walau hanya untuk berswafoto maupun belajar bercocok tanam bunga. Atau pun bekerjasama dengan pola kemitraan dengan para petani bunga. Desa ini juga tetap layak disinggahi, sebagai wisata alternatif jika bosan bermain di berbagai obyek wisata buatan yang ada di Kota Batu.
--+
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/