Friday, 07 May 2021


Topnya Kicauan Burung Aceh, Mampu Menggerakkan Ekonomi Daerah

18 Apr 2021, 08:17 WIBEditor : Ahmad Soim

Kontes burung di Aceh | Sumber Foto:Abda

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Kontes kicauan burung, bagi sebagian komunitas pencinta burung di Aceh, bukan hanya sekedar hobi, tapi juga memiliki nilai tambah ekonomi dan peluang bisnis bagi penghobi dan Aceh. Burung Aceh sangat terkenal, pernah meraih Juara 1 Piala Presiden.

Reporter Sinar Tani sedang duduk menikmati secangkir kopi di Cafe Romen, Lampineung, Banda Aceh yang lumayan ramai. Rupanya penikmat kopi waktu itu adalah peserta dan penonton kontes kicauan burung. Usai kontes, saya langsung mendekati Agus Syahputra. Dia adalah pencinta burung yang sudah termasuk legend, yang kini beralih profesi menjadi juri.

Sejak tahun 1996 hingga 2010,  dirinya telah menggeluti hobi dan mengenal berbagai jenis burung peliharaan yang memiliki nilai ekonomi.  Sejak tahun 1999 ia juga berprofesi menjadi juri. Waktu itu hanya juri untuk even even lokal Banda Aceh saja. Namun sejak 2004 pasca tsunami dioercaya menjadi juri tingkat nasional. Waktu itu, memperebutkan piala Gubernur Aceh melalui wadah Persatuan Burung Indonesia (PBI).

Sebelum menjadi juri dia juga suka memelihara burung. "Harga burung Murai Batu waktu itu masih seharga Rp 25.000 per ekor. Kalau sekarang yang baru dapat dari hutan harganya Rp 2,5 juta", katanya. Umumnya burung burung yang sering diperlombakan antara lain Murai Batu, Love bird, Kenari, Kacer, Kapas Tembak, Kaiju dan Kolibri ninja. 

Rusmanto (50) yang juga hobi burung menerangkan, untuk kota Banda Aceh ada beberapa lokasi yang secara berkala diselenggarakan kontes burung, seperti di Ulee Kareng, Ketapang, Lamdingin dan ada di Kuta Alam. Hobi memelihara burung digelutinya sejak tahun 1992. Malahan waktu itu, untuk menguji kicauan dan ketangkasan burung diselenggarakan setiap hari hingga malam di beberapa lokasi antara lain Peunayong, Neusu, Peuniti dan juga di Kuta Alam.

Bagi pemula, ajang kontes dimulai dari Latihan Berhadiah (Latber) yang dilaksanakan setiap seminggu sekali. Sementara untuk per bulannya dilakukan yang agak bergengsi yaitu kontes eklusif dan itu dilaksanakan hampir disemua titik sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Hal yang paling menyenangkan katanya, ketika ada kontes, panitia dan dewan juri mendapat insentif yang lumayan jumlahnya, sehingga menambah pendapatan keluarga.

"Penghasilan tambahan tersebut diperoleh dari klas pendaftaran peserta", ucapnya. Setiap peserta Latber dipungut biaya pendaftaran Rp 50.000, dan kalau untuk klas eklusif biaya pendaftaran Rp 100.000. Rata-tata jumlah pesertanya kadang melebihi 100 orang.

Sementara kalau untuk even Provinsi atau klas nasional berbeda lagi. Kalau even provinsi biasanya melibatkan peserta dari berbagai daerah di Aceh dan even tersebut dibuka oleh Walikota. Kalau even Nasional pesertanya diundang dari seluruh Indonesia dan dibuka oleh Gubernur dan pernah terlaksana  Ada beberapa versi dalam even tersebut seperti versi Ronggolawe, PBI dan versi Independen.

BACA JUGA:

Biasanya untuk Ronggolawe yang bersifat nasional banyak sponsornya yang sekaligus memperkenalkan produk yang dijual mulai dari kandang, makanan dan sampai tempat minum burung pun ada. Namun kalau even PBI dan Independen jarang ada sponsornya apalagi menjual produk.

Diakatakannya untuk ketua Persatuan Burung Indonesia (PBI) saat ini masih vakum. Di era tahun 1990an jumlah peserta yang ikut kontes masih terbatas. Dengan adanya kontes yang dilaksanakan secara berkala seperti ini, diharapkan menjadi ajang sosialisasi dan promosi bagi pencinta burung.

Untuk memudahkan informasi dan komunikasi, bagi pencinta burung selain ada grupnya  sendiri mereka juga sudah tergabung dalam grup whatsapp. "Namun dimasa Covid sekarang ini, diakuinya memang agak dibatasi jumlah pesertanya, walaupun tidak signifikan", sambungnya. 

Terkait even skala provinsi, pihaknya juga telah menemui walikota untuk membuat kontes burung bersamaan ulang tahun kota Banda Aceh, namun karena masa Covid maka rencana tersebut dibatalkan. "Kegiatan kontes burung ini sebenarnya sangat bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan kami pernah berkolaborasi dengan dinas terkait dan merekapun sangat mendukung", imbuhnya.

Apalagi even ini juga dapat bersinergi dengan dinas pariwisata dalam mengangkat jumlah wisatawan dan peekonomian masyarakat melalui kontes burung. Bagi yang hobi permanen, burung yang menang dalam kontes baik tingkat provinsi dan nasional, walaupun ditawar dengan harga selangit, namun tidak untuk dijual.

Ada juga sebagian peserta yang menjalani bisnis dan memoerjualbelikan burung burung untuk menambah pendapatan mereka. Malah ada yang beternak dan melakukan breeding untuk jenis jenis burung tertentu. Apabila ada jenis burung yang dilindungi dan termasuk langka, maka tidak boleh diikutsertakan sebagai peserta kontes.

Pendapatan Meningkat, Sampai Presiden RI

Pendapatan ekonomi bagi penggemar dan pencinta burung diakuinya meningkat drastis, penghasilannya mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah. Begitu juga pedagang burung dengan adanya even seperti ini dapat meningkatkan jumlah pendapatannya. Kalau tidak ada pencinta burung, maka banyak toko toko burung dan segala macam asesorisnya akan tutup.

Peningkatan ekonomi juga mengalir sampai ke peternak jangkrik yang dijadikan sebagai makanan tambahan/suplemen bagi burung burung tertentu. Rusmanto menambahkan, burung Murai Batu dari Aceh itu nomor satu. Burung Murai Batu (Aceh red: Cempala Rimueng) diakui burung yang berkualitas baik.

Kalau harganya tergantung dan sangat bervariasi, harga pemula mulai Rp 2 juta  hingga tiga jutaan (umur 3 - 4 bulan). Tidak selamanya hutan akan memproduksi burung kata dia, suatu saat nanti burung burung itu akan semakin langka, dan penghobi juga akan hilang.

Maka sebagian masyarakat ada yang beternak burung burung tersebut. Kenyataannya burung hutan memang lebih unggul karena kelebihannya yang hidup di alam bebas, berbeda dengan yang dibudidayakan. Hal itu tampak dari mental dan psikologis burung itu sendiri. 

Di Banda Aceh, "harga burung Murai Batu tidak dipengaruhi berdasarkan umur,  karena kualitas/cerdas, gaya dan kicauannya yang mempesona bahkan ada yang menawar dengan harga Rp 250 - 450 juta", tuturnya.

Harga sangat dipengaruhi oleh kualitas (kecerdasan) dan prestasinya, ketika dimasukkan dengan isian suara dia dapat meniru bermacam macam jenis dan volume suaranya juga kuat, termasuk gaya (performancenya) menarik.

"Jika burung sudah teruji di beberapa even unggul baik di Aceh, Sumatera, pulau Jawa bahkan sampai Kalimantan, maka harganya akan semakin tinggi", bebernya. 

Bahkan waktu even di Jakarta, Pak Jokowi pernah menawar burung yang unggul tersebut dengan harga selangit, namun tidak dijual. Keunggulan burung Aceh baik Murai maupun Kacer selalu tampil menarik dan seringkali mendapat juara di tingkat nasional. Pada tahun 2017 burung Aceh juga pernah meraih juara 1 piala Presiden. 

"Sayapun ada mengkoleksi burung dan pernah terjual dengan harga Rp 25 dan 70 juta", ujarnya bangga. Waktu itu yang membeli Dr Khadafi Rektor Universitas Malahayati Lampung yang juga putra dari pendiri yayasan Abulyatama Aceh. 

Harapannya kedepan, agar pemerintah dalam even even tertentu hendaknya melibatkan juga pencinta burung. Hal ini penting dalam upaya menumbuhkan hobi juga berdampak pada pendapatan ekonomi.

Terkait tempatnya di Cafe Romen, ini memang atas kesepakatan bersama. Pihak Cafe menyediakan tempat dan para hobi juga bisa menikmati berbagai menu yang disajikan. Jadi kedua belah pihak saling menguntungkan.

Bahkan dengan adanya even semacam ini para pengunjung merasa nyaman. "Sambil menyeruput secangir kopi nikmat juga dapat mendengarkan merdunya kicauan burung", pungkasnya.

--+

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Abda
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018