
Pengembangan budidaya padi sehat

Oleh: Ahmad Soim - Pemimpin Redaksi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tantangan untuk meningkatkan produksi pangan nasional semakin kompleks. Selain dihadapkan pada terus menyusutnya lahan pertanian subur yang dialihkan untuk perumahan, infrastruktur dan industry, juga terjadinya penurunan kesuburan lahan dan kerusakan lingkungan, serta mandegnya tingkat produktivitas pangan khususnya padi nasional pada kisaran angka 5-6 ton per ha.
Pada sisi lain, pengembangan produksi pangan juga dihadapkan pada sulitnya meningkatkan kesejahteraan petani produsen padi, karena rata-rata kepemilikan lahannya yang semakin sempit. Petani padi dengan penguasaan lahan di kisaran 0,3 - 0,5 ha, pendapatannya hanya sekitar Rp 1,3 – 2 juta per bulan, bila menerapkan teknologi anjuran.
Seringkali petani tidak bisa menerapkan teknologi anjuran, seperti dalam pengolahan lahan, penggunaan benih, pemupukan, penyemprotan pestisida, pemanenan dan lain-lain karena keterbatasan sumberdaya modal dan infrastruktur yang ada. Hal ini membuat pendapatan petani padi semakin minim.
Memecahkan kendala permodalan petani, sarana produksi (saprodi) pertanian dan infrastrukturnya tidaklah mudah, karena tidak bisa dilakukan sendiri oleh Kementerian Pertanian, melainkan ada kewenangan kementerian lain. Untuk permodalan petani misalnya, terkait dengan Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. Untuk infrastruktur terkait dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Pengadaan saprodi terkait dengan dunia usaha dan inovasi yang dilakukan Lembaga riset dan pengembangan pemerintah maupun swasta.
Melihat begitu kompleks tantangan dalam meningkatkan produksi pangan nasional, maka upaya yang dilakukan tidaklah bisa hanya dengan satu upaya atau satu strategi saja. Bahkan, diperlukan langkah dan strategi yang jitu dan tepat. Terutama karena pemerintah dan dunia swasta harus menentukan atau memilih upaya dan strategi dari sekian banyak kemungkinan upaya dan strategi yang ada.
BACA JUGA:
Setidaknya ada tiga pilihan upaya atau stretagi upaya yang sudah dipilih pemerintah, yakni peningkatan produktivitas, peningkatan kesuburan lahan dengan menggunakan pupuk organic dan pupuk hayati, dan mengembangkan food estate berbasis korporasi petani.
Agar hasil peningkatan produksi pangan lebih terlihat nyata diperlukan kombinasi kebijkan teknologi/inovasi dan target dari ketiga pilihan upaya itu. Misalnya untuk peningkatan produktivitas teknologi apa yang dipakai dan bagaimana targetnya, lalu dukungan sumberdaya dana dan SDM yang menggerakkannya seperti apa. Keberadaan dan peran penyuluh harus diperhitungkan dengan baik.
Peluang peningkatan produktivitas dengan menggunakan benih bermutu unggul dan berproduktivitas tinggi, serta penerapan pemupukan yang baik, benar dan berwawasan lingkungan masih sangat besar, apalagi bila dikalikan dengan luasan yang ada. Hasilnya akan lebih instan dan lebih besar dibanding pengembangan food estate berbasis korporasi. Maka ekspose peningkatan produktivitas (intensifikasi) pangan yang ramah lingkungan perlu lebih dimasifkan upaya dan publikasinya.
--+
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/