Tuesday, 03 August 2021


Miftahul Huda, sang Sutradara Kentang Nufid Dieng

26 May 2021, 08:47 WIBEditor : Yulianto

Miftahul Huda, milenial penggerak petani kentang Dieng | Sumber Foto:Dok. Miftahul Huda

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarnegara---Kentang Dieng menjadi salah satu komoditas unggul yang tak perlu diragukan lagi. Bahkan wilayah tersebut merupakan senttra kentang di Indonesia.

Salah satu sutradara di balik itu semua adalah seorang milenial dari Desa Batur, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Siapa dia? Namanya, Miftahul Huda yang memproduksi benih kentang unggul Nufid (Nusantara Farming).

Dengan keberhasilannya, Huda panggilang akrab Alumni IPB Angkatan 42 (2010) ini terpilih menjadi calon Duta Petani Milenial (DPM) Kementerian Pertanian tahun 2021. Dengan kentang Nufid, produksi kentang petani Dieng mampu terdongkrak.

Huda bercerita, awalnya Nufid bernama DHF (Dieng Horti Farm)Saat itu, petani merespon posiitif benih ini karena menghasilkan kentang berkualitas. Tandanya adalah daun tanaman masih berwarna hijau segar pada usia 90 hari setelah tanam. Hasil panenpun meningkat menjadi sekitar 17 ton/ha naik dari sebelumnya hanya 11 ton/ha. “Peningkatan produksi itu pun berimbas pada peningkatan pendapatan petani,” ujarnya.

Nufid kata Huda, sebagai solusi kesulitan petani mendapatkan benih kentang berkualitas. Sebagai petani muda berlatar belakang pendidikan pertanian, Ia tergerak untuk memecahkan permasalahan tersebut. Huda merasa menjadi petani adalah perwujudan dari praktik semua ilmu yang didapatkan selama menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.

Huda mengungkapkan, awal mula memproduksi Nufid saat dirinya memutuskan meninggalkan pekerjaan kantoran yang sudah digelutinya selama 1,5 tahun.  Jiwa petani memanggilnya kembali ke kampung halamannya untuk menekuni pekerjaan yang dihindari generasi muda.

Di kampung halamannya Huda menggarap lahan keluarga seluas 5 ha dan membudidayakan kentang dari benih yang sama dengan kebanyakan petani di desanya. Ketertarikan menjadi petani bermula dari hobi bertani, wirausaha dan ada potensi lahan dan hasil kentang yang ekonomis. Namun saya prihatin kondisi pertanian di sini,” tuturnya.

BACA JUGA:

Tinggalkan Dunia Garmen, Bastomi Mendulang Rupiah dari Florikultur

Pangan Sehat serba Kering dar Wiwik

Bentuk Kelompok Tani

Pada tahun 2013, Huda membentuk kelompok tani (Poktan) Dieng Horti Farm (DHF) beranggotakan enam petani muda. Untuk memulai produksi benih Huda membeli benih kentang terseleksi hasil kultur jaringan dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Jawa Barat dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur.

Selanjutnya, benih itu dikembangkan dan menghasilkan benih baru yang menjadi GO (benih penjenis) dan dinamai benih DHF. Huda dan rekannya menanam GO dan memperoleh G2 yang dijual ke petani.

Tak hanya benih berkualitas,  Iapun berhasil meramu dan memformulasikan zat perangsang akar berbahan organik yang bermerek Bio Root-X. Zat itu berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan akar dan vegetatif, serta memproduksi media tanam khusus setek dan aklimatisasi kentang bernama Cocogold.

Huda dan poktannya juga aktif memberdayakan petani kentang Dieng dengan berbagai pelatihan. Diantaranya mengajari petani mengidentifikasi pupuk, pestisida dan zat aktif lainnya, juga cara budidaya kentang yang baik dan benar serta cara membuat benih mandiri.

Selain itu Huda dan kelompoknyapun banyak melatih anak – anak dan remaja sekitar untuk mengenal pertanian. Huda “Saya khawatir minat generasi muda berkecimpung di pertanian semakin menurun. Karena itu, saya mengajak anak-anak dan generasi muda untuk mau bertani,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan sebanyak 2,5 juta petani milenial lahir dalam lima tahun ke depan. Hal ini guna mewujudkan pembangunan pertanian melalui regenerasi petani yang kini didominasi generasi usia tua.

Bahkan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menilai petani saat ini jangan dipandang sebelah mata. Bahkan petani adalah profesi yang menjanjikan yang menghasilkan pendapatan menggiurkan dan akan terus didorong. Artinya, stereotipe bahwa menjadi petani tidak akan kaya terbantahkan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi juga menekankan, jika ingin kaya maka jadilah petani yang berjiwa wirausahawan, professional dan penuh semangat. Kunci keberhasilan  pembangunan di sektor pertanian lima atau sepuluh tahun yang akan datang itu semuanya tergantung dari petani milenial.

Kalau petani milenial semua hebat dan semangat, serta disiplin dan kerja keras, saya yakin pembangunan pertanian kita sukses dan maju,” kata Dedi.

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018