
Januardi, Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok yang juga pengurus Koperasi P3MA Provinsi Sumbar.
TABLOIDSINARTANI.COM, Padang---Peluang serai wangi semakin terbuka lebar di pasar global, dengan pemeliharaan yang mudah, terbukti bisa memperoleh keuntungan yang signifikan. Aroma wangi bisnis serai wangi dinikmati Januardi, Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok yang juga pengurus Koperasi P3MA Provinsi Sumbar.
"Usaha serai wangi ini sangat menjanjikan. Dari hasil kebun yang saya kelola, pendapatan yang diraih, dari rata-rata perbulan sebanyak 200 kg atau bisa mencapai sekitar Rp 64 juta per 3 bulan," ujarnya di sela-sela gelaran Pekan Nasional (PENAS) XVI Petani Nelayan di Padang, beberapa waktu lalu..
Januardi yang kerap disapa Edy ini berbagi kisahnya dalam mengembangkan serai wangi. Berawal dari pria kelahiran asal kota Payakumbuh ini mengalami cidera tangan, kemudian dirinya dikenalkan dengan minyak serai wangi dan ternyata berhasil membantu memulihkan kesehatannya.
“Sejak itu saya kian yakin dan bertekad untuk mengembangakn serai wangi pada tahun 2012. Saya pun beralih dari petani padi, dan mulai mengembangkan usaha atsiri, khususnya serai wangi hingga sekarang,” katanya.
Alasan lain yang membuat Edy tertarik mengembangkan serai wangi karena belum banyak petani yang mengembangkan komoditas tersebut. Budidaya maupun pemeliharaan tanaman serai wangi juga lebih mudah dan tidak perlu perlakuan khusus. Misalnya, tidak perlu menggunakan pupuk atau anti hama, tidak memerlukan biaya banyak dan masa panen panjang sebanyak 4 kali pertahun.
“Saya melihat produk minyak berpeluang besar, bernilai ekspor, dan dibutuhkan dunia serta tidak ada batas kadaluarsanya," ujarnya. Melihat potensi serai wangi kian menarik bila dijadikan produk hilir, Edy pun terus berkomitmen dan tekun berupaya mengembangkan serai wangi dari hulu hingga hilir, baik dari produksi, budidaya, produksi hilir bahkan sampai pemanfaatan limbah.
Di tahun 2015, Januaru mulai menghasilkan beragam produk turunan. Bahkan kerja kerasnya membuahkan hasil beragam produk berbahan baku serai wangi. Saat ini produk turunan serai wangi yang dihasilkan seperti minyak aromatherapy, minyak urut, sabun mandi padat dan cair, balsem, karbol, Disinfektan, dan Anti Hama Organik (AHO).
Edy menambahkan, secara kontinyu dirinya juga mengolah obat tradisional dengan memproduksi bahan inti atau biang obat batuk dari serai wangi. Selain itu, ia juga telah menciptakan anti hama organik dari serai wangi.
“Dengan memproduksi anti hama organik ini, saya berharao bisa membantu petani mengurangi pemakaian pestisida atau bahan kimia yang dapat merusak lingkungan dan kesehatan konsumen,” katanya.
Dalam menghasilkan produk, Edy mendapatkan serai wangi, selain dari kebun sendiri, juga milik Kelompok Tani Agribisnis Atsiri. Saat ini dirinya memiliki lahan pengembangan tanaman atsiri sekitar 10,5 ha dengan satu kali panen sebanyak 50 ton daun per 3 bulan.
Harga jual daun serai wangi Rp.700/kg sedangkan harga minyak serai wangi Rp140 ribu/kg. Dalam satu tahun, Edy bisa panen sebanyak 4 kali. Sedangkan untuk penjualan, Edy mengungkapkan, 40 persen ke eksportir langsung dan 30 persen ke UMKM lain, sedangkan 30 persen diolah menjadi produk hilir.
“Dalam penjualan, kami promosi menggunakan media online, whastapp grup, melakukan diskusi langsung dan mengikuti pameran-pameran, salah satunya pameran Penas ini,” katanya.