
Januardi, Ketua Kelompok Tani Agribisnis Atsiri Kota Solok yang juga pengurus Koperasi P3MA Provinsi Sumbar.
Untuk mendorong pengembangan serai wangi, Edy pun mengajak generasi muda. Ia pun membentuk kelompok tani yang melibatkan milenial. Seperti di Kota Solok ada sebanyak 5 poktan, di Kabupaten Solok sebanyak 3 poktan dan Kabupaten Lima Puluh Kota sebanyak 11 poktan.
"Kini sudah saatnya petani kolonial memotivasi dan mengajak petani milenial atau generasi muda agar melirik dan tertarik untuk mau terjun menggeluti dunia pertanian maupun perkebunan, khususnya melanjutkan mengembangkan serai wangi. Apalagi hasil serai wangi ini sangat menjanjikan, dan turut membantu melestarikan lingkungan,” tuturnya.
Dalam mengembangkan usaha serai wangi, Edy mengakui dihadapkan berbagai tantangan, baik terkait pengurusan BPOM skala UMKM, harga maupun tantangan lainnya. Karena itu ia berharap pemerintah membantu mencari solusi tepat guna bagi petani agar dapat menghadapi tantangan di lapangan. Salah satunya melalui program dan kebijakan atau regulasi.
Edy mengakui, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian telah memfasilitasi atau membantu petani baik dari penyuling maupun UMKM. Misalnya, bantuan benih unggul dan bermutu, alat-alat suling yang standar sesuai kebutuhan, mesin-mesin alat panen, traktor pengolah lahan, pelatihan-pelatihan Budidaya, produksi dan produksi produk hilir, serta fasilitasi perizinan (BPOM).
Ia pun berharap agar program pemerintah maupun bantuan pusat tepat sasaran pada petani maupun penyuling, bukan sepihak atau pihak tertentu. Selain itu, pemerintah perlu membangun kebun benih di daerah agar memudahkan petani dan jarak transportasi benih lebih dekat, serta meminimalisir kematian tanaman.
“Harapan kita kedepan karena mengingat serai wangi bernilai ekspor tinggi semoga pemerintah pusat maupun daerah lebih banyak memberikan perhatian dan memfasilitasi para petani di bidang serai wangi, serta memanfaatkan lahan kosong dengan penanaman serai wangi,” tuturnya