Saturday, 17 October 2026


6,5 Tahun Kuliah Doktor di IPB, Wamentan Sudaryono: Sulit, Jelimet, tapi Bikin Bangga

15 Dec 2025, 15:50 WIBEditor : Gesha

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkap perjalanan 6,5 tahun menempuh doktor di IPB University. Kampusnya sulit, jelimet, penuh tekanan, tapi justru itu yang membuatnya bangga bisa bertahan hingga tuntas.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkap perjalanan 6,5 tahun menempuh doktor di IPB University. Kampusnya sulit, jelimet, penuh tekanan, tapi justru itu yang membuatnya bangga bisa bertahan hingga tuntas.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono akhirnya menuntaskan satu perjalanan panjang yang tak banyak orang lihat dari dekat.

Program doktor di IPB University ia selesaikan dalam waktu 6,5 tahun, sebuah proses yang jauh dari kata instan. Di balik gelar itu, ada tekanan, kelelahan, dan godaan menyerah yang datang berkali-kali.

Masuk Sekolah Bisnis IPB pada Juli 2019 atas rekomendasi Prof. Rachmat Pambudy, Sudaryono mengaku awalnya hanya ingin belajar.

Namun sejak awal, ia langsung berhadapan dengan karakter IPB yang menurutnya berbeda. “Kesan saya terhadap IPB itu satu kata: jelimet. Detail, teliti, kritis, dan sulit,” ujarnya.

Kalimat itu bukan sekadar kesan sesaat. Di tengah padatnya tugas negara dan dinamika politik yang menyita energi, perkuliahan doktoral di IPB menjadi tantangan tersendiri. Sudaryono bahkan mengakui, di satu titik ia sempat hampir menyerah.

“Saya pernah bilang, saya sempat mau menyerah. Waktu kampanye di Jawa Tengah, sempat terpikir pindah kampus,” katanya terus terang.

Namun niat itu tak pernah benar-benar diwujudkan. Ada dorongan untuk bertahan, sekalipun jalannya terasa berat. Sudaryono mengaitkan pengalamannya di IPB dengan satu pesan yang selalu ia pegang dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

“Kalau kita ingin jadi berlian, kita harus siap ditekan. Kalau tidak pernah ditekan, kita jadi lumpur yang tidak ada gunanya,” ucapnya.

IPB, baginya, adalah tekanan itu. Sulit di awal, menyakitkan di tengah, tapi membentuk di akhir. Ia menyebut, menghadapi kampus yang sulit memang menghadirkan penderitaan.

Namun di balik penderitaan itu, ada kepuasan yang lebih tinggi. “Karena kita pernah menderita yang lebih berat dibandingkan kampus lain,” katanya.

Menariknya, Sudaryono justru berharap IPB tidak berubah. Menurutnya, kesulitan yang ada saat ini adalah kekuatan. “Saya tidak berharap yang sulit jadi mudah. Saya berharap IPB tetap seperti ini, tetap dengan kesulitannya, dengan kejelimetannya,” ujarnya.

Pandangan itu datang dari sosok dengan latar pendidikan internasional. Sudaryono menamatkan S1 di National Defense Academy of Japan pada 2009 dan melanjutkan S2 (MBA) di Universitas Swiss German.

Meski pernah ditempa di lingkungan akademik luar negeri, ia menilai IPB tetap memberi tantangan yang khas dan mendewasakan.

Selain soal kampus, Sudaryono juga menyinggung para lulusan IPB yang banyak mengisi posisi strategis di Kementerian Pertanian. Ia melihat satu kesamaan yang kuat. “Orangnya pintar-pintar, ilmunya kuat, tapi kurang pamer,” katanya sambil tersenyum.

Menurutnya, sikap humble memang nilai yang luar biasa. Namun di era sekarang, hal itu juga bisa menjadi tantangan. “Jangan sampai yang pintar, yang benar, yang sesuai sains, justru kalah dengan opini-opini yang dasar keilmuannya tidak terlalu kuat, hanya karena dia pintar bicara,” tegas Sudaryono.

Ia menilai IPB dan para alumninya punya tanggung jawab moral untuk lebih berani tampil ke ruang publik. Bukan untuk gagah-gagahan, melainkan untuk memastikan sains dan data tetap menjadi rujukan. “Ilmunya sudah tinggi, tinggal keberanian untuk menunjukkan ke luar,” ujarnya.

Bagi Sudaryono, IPB adalah kampus yang bekerja dalam diam. Tidak banyak bicara, tapi menghasilkan banyak hal. Dan setelah 6,5 tahun bergulat dengan tekanan akademik, ia mengaku bangga pernah menjadi bagian dari proses itu.

“Sulit, jelimet, tapi justru di situlah kebanggaannya,” katanya menutup. 

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018