Tuesday, 16 June 2026


Tahan Penyakit dan Rendah Kolesterol, Ayam IPB Dilirik Kementan untuk Skala Besar

27 Apr 2026, 07:59 WIBEditor : Gesha

Ayam IPB kian dilirik Kementan sebagai solusi protein nasional, unggul karena tahan penyakit, rendah kolesterol, dan siap dikembangkan skala besar.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ayam IPB kian dilirik Kementan sebagai solusi protein nasional, unggul karena tahan penyakit, rendah kolesterol, dan siap dikembangkan skala besar.

Di tengah tantangan pemenuhan kebutuhan protein hewani nasional yang masih jadi pekerjaan rumah, inovasi ayam lokal unggul dari IPB University mulai mencuri perhatian pemerintah. Kementerian Pertanian (Kementan) kini melirik serius pengembangan ayam IPB sebagai solusi alternatif yang dinilai lebih sehat sekaligus adaptif bagi peternak rakyat.

Sinyal kuat itu terlihat dari komunikasi intens antara peneliti IPB dan Kementan. Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Cece Sumantri, mengungkapkan dirinya telah diminta menyiapkan program produksi indukan dalam skala besar.

“Saya diminta untuk membuat program untuk menghasilkan 5.000 indukan di akhir tahun,” ujarnya.

Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Ayam IPB, khususnya tipe D1, dinilai punya keunggulan yang cukup komplet—mulai dari performa produksi hingga kualitas daging yang lebih sehat dibanding ayam konvensional.

Pengembangan ayam IPB sendiri bukan proyek instan. Inovasi ini telah dirintis sejak 2010 melalui pendekatan pemuliaan genetika. Ayam ini merupakan hasil persilangan empat rumpun, yakni Pelung dengan Sentul serta ayam kampung dengan parent stock Cobb. Hasilnya adalah ayam lokal komposit dengan karakter unggul yang lebih stabil.

Dari sisi performa, ayam IPB mampu tumbuh relatif cepat. Dalam umur 10 hingga 12 minggu, bobotnya bisa menembus lebih dari 1 kilogram, bahkan mencapai sekitar 1,8 kilogram jika didukung pakan optimal. Angka ini membuatnya cukup kompetitif di pasar ayam pedaging.

Namun yang bikin menarik perhatian bukan cuma soal pertumbuhan. Ayam IPB juga dikenal lebih tahan terhadap beberapa penyakit penting, seperti Newcastle disease dan salmonella. Ketahanan ini jadi nilai tambah, terutama bagi peternak kecil yang sering menghadapi risiko kerugian akibat serangan penyakit.

Selain itu, aspek kesehatan daging juga jadi selling point utama. Berdasarkan hasil penelitian yang didukung program LPDP, daging ayam IPB mengandung protein tinggi sekitar 19,1 persen, asam amino esensial 4,58 persen, serta omega-3 mencapai 2,34 persen. Menariknya lagi, kadar kolesterolnya relatif rendah, sekitar 66,12 mg per 100 gram.

Kandungan mineral seperti zat besi dan seng juga cukup tinggi, sehingga ayam ini berpotensi masuk kategori pangan fungsional—bukan sekadar sumber protein, tapi juga mendukung kesehatan.

Dalam rencana pengembangan bersama Kementan, fokus utama diarahkan pada percepatan produksi indukan. Dukungan pemerintah disebut lebih banyak menyasar aspek operasional, seperti penyediaan pakan dan manajemen pemeliharaan, ketimbang pembangunan infrastruktur baru.

Di sisi lain, ekosistem pengembangan ayam IPB sebenarnya sudah mulai terbentuk. Sejumlah mitra telah terlibat dalam rantai produksi, mulai dari pembibitan hingga hilirisasi produk.

Beberapa di antaranya adalah UMKM UD Citra Lestari Farm di Bekasi yang mengembangkan ayam dari DOC hingga produk olahan dan restoran, Kelompok Peternak Sinar Harapan Farm di Sukabumi, hingga Plasma Nutfah Unggul Indonesia di Boyolali.

Tak berhenti di situ, inovasi juga terus berjalan di sektor pakan. Salah satu riset yang dikembangkan oleh Sumiati memanfaatkan minyak ikan lemuru untuk meningkatkan kandungan omega-3 pada daging ayam IPB. Langkah ini sekaligus memperkuat positioning ayam IPB sebagai produk unggulan yang lebih sehat.

Sementara itu, dari sisi hilir, pengembangan produk olahan juga sudah dilakukan. Penelitian oleh Irma Isnafia Arief menghasilkan berbagai produk siap saji berbahan ayam IPB yang punya nilai tambah lebih tinggi dan siap bersaing di pasar modern.

Saat ini, ayam IPB bahkan sudah mulai diposisikan sebagai produk premium dengan pasar spesifik, termasuk rumah sakit yang membutuhkan pasokan daging sehat dengan standar tertentu.

“Secara komersial sebenarnya sudah layak. Kita sudah punya merek dan pasar,” kata Cece.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa fokus utama saat ini sebaiknya tetap pada penguatan produksi bibit. Pasalnya, kebutuhan indukan masih tinggi untuk mendukung ekspansi skala nasional.

“Sayang kalau bibit dijual untuk dipotong. Harusnya diperbanyak dulu untuk mendukung industri,” ujarnya.

Ke depan, kolaborasi antara IPB dan Kementan diharapkan bisa mempercepat pengembangan ayam IPB sebagai bagian dari strategi besar memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan keunggulan tahan penyakit, rendah kolesterol, dan nilai gizi tinggi, ayam lokal ini berpotensi jadi game changer di sektor peternakan Indonesia.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018