Kamis, 12 Desember 2019


Suhendro, Warnai Pasar Sayur di Bumi Tambun Bungai dengan Hidroponik

01 Apr 2019, 15:34 WIBEditor : Yulianto

Suhendro, petani hidroponik dari Palangka Raya | Sumber Foto:Astri Anto

Bermula dari sekedar hobi, dua tahun lalu saat masih menjadi karyawan di perkebunan kelapa sawit, Suhendro mencoba menanam pakcoi dan selada dalam skala kecil

TABLOIDSINARTANI.COM, Palangka Raya---Senja mulai redup, tangan cekatan Suhendro masih merapikan bungkusan selada yang siap untuk dikirimkan ke konsumen. Begitulah aktivitas petani muda ini setiap pekan memanen hasil selada hidroponik.

Pemuda berusia 29 tahun ini dengan rajin setiap hari selalu menyambangi kebun hidroponik yang berukuran 8x 6 meter yang berlokasi tak jauh dari rumahnya di Jalan G. Obos, Palangka Raya. Dikebun tersebut terdapat populasi tanaman selada dan pakcoi sejumlah 600 tanaman serta perlengkapan hidroponik lainnya.

Bermula dari sekedar hobi, dua tahun lalu saat masih menjadi karyawan di perkebunan kelapa sawit, Suhendro mencoba menanam pakcoi dan selada dalam skala kecil. Awal mulanya hanya melihat temannya yang sudah menerapkan pola tanam hidroponik. Saat itu ia sering mencoba merasakan hasil panen sayuran yang segar dan bebas dari pestisida.

Tertarik untuk mengikuti jejak temannya, Suhendro mengikuti pelatihan penumbuhan wirausaha muda pertanian serta mendapatkan bantuan modal dari Borneo Hidroponik. Mulailah Suhendro menggeluti usaha tani hidroponik dengan sistem Deep Flow Technique (DTF).

Hasil panen pertama masih saya konsumsi sendiri dan dibagikan kepada tetangga,” ujarnya. Namun seiring berjalannya waktu, Suhendro mengakui berani memanfaatkan media online seperti facebook, instagram dan WA untuk memasarkan sayuran hidroponiknya.

Pesanan mulai datang baik dari ibu-ibu rumah tangga dan pedagang burger dan café yang ada di Kota Palangka Raya. Saat ini terdapat 20 outlet yang siap menampung hasil panen selada produksi Suhendro.

Setiap bulannya Suhendro memanen sekitar 270 bungkus selada hidroponik dengan harga tiap bungkus Rp 6.500. Hitungannya, total penerimaan sejumlah mencapai Rp 1,755 juta. Setelah dikurangi biaya produksi sejumlah Rp 385 ribu, keuntungan yang diperoleh setiap bulannya mencapai Rp 1,37 juta.

Suhendro mengatakan, selada hidroponiknya juga mulai merambah pasar di luar Kota Palangka Raya, seperti Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur dan Gunung Mas. Untuk pengirimannya saya menggunakan jasa travel yang sudah disepakati,” ujarnya.

Pasar Terbuka Lebar

Menurut pemuda lulusan sarjana pertanian Universitas Palangkaraya ini, usaha sayuran hidroponik selada sangat layak dikembangakan karena pasar masih terbuka lebar. Bahkan Suhendro mengaku kadang untuk memenuhi pesanan yang ada, stoknya tidak mencukupi. “Saya kadang meminta orderan dari teman lainnya yang juga membudidayakan selada secara hidroponik,” katanya.

Dari usaha inilah ambisi Suhendro memberikan motivasi kepada orang lain agar memberdayakan lingkungan dan pekarangan yang ada. Apalagi potensi, baik produksi maupun pemasaran dari sayuran hidroponik di Kalimantan Tengah masih sangat tinggi.

Suhendro mengingatkan bahwa kunci dari usaha tani ini adalah ketelatenan. Hal ini karena kendala terbesar dalam budidaya hidroponik adalah saat pembibitan. Kalau tidak telaten merawatnya, bisa jadi bibit akan etiolasi dan bahkan tidak tumbuh,” ujarnya.

Budidaya sayuran hidroponik yang digunakan Suhendro adalah sitsem Deep Flow Technique (DFT). Prinsip dari budidaya hidroponik system DFT ini adalah penggunaan air yang terus mengalir setiap saat dengan mensirkulasikan larutan nutrisi ke tanaman. Air dialirkan melalui pipa 2.5 inchi dengan menggunakan pompa air dari tenaga listrik. 

Mengapa memilih sistem DFT? Suhendro beralasan, karena sistem ini sangat simpel, tidak perlu banyak peralatan, biayanya juga terjangkau, perawatan terhadap tanaman gampang, serta hasil panen yang cepat dan seragam. Namun sistem DFT menurutnya, memerlukan kejelian dan ketepatan dalam pemberian nutrisi yang sesuai kebutuhan tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan optimal. “Agar perakaran tanaman tidak tergenang di air, maka diatur ketinggian muka air sampai setengah paralon saja,” ujarnya mengingatkan.

Untuk mengembangkan usahanya, pemuda yang mempunyai motto hidup harus lebih baik ini selalu menyisihkan laba hasil panennya untuk menambah modal. Selain itu komunikasi yang baik dengan pelanggan, memberikan diskon harga serta menjaga kualitas hasil panen selalu diupayakan agar pelanggan semakin senang. “Syukur-syukur bisa menambah pelanggan lagi,” ujarnya bergurau.

Reporter : Astri Anto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018