Kamis, 18 Juli 2019


Bejo Supriyanto, Raup Untung Berlipat Berkat Budidaya Bawang Putih

09 Mei 2019, 11:16 WIBEditor : Gesha

Dengan bertanam bawang putih, petani merasakan untung berlipat | Sumber Foto:PRIBADI

Dengan produktivitas 18 ton/ha dan harga bawang putih (di tingkat petani,red) Rp 20 ribu/kg , petani bawang putih masih mendapatkan margin keuntungan sekitar Rp 360 juta/musim panen.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Tingginya harga bawang putih di tingkat konsumen pada bulan Ramadhan dan jelang Idul Fitri tahun ini, membuat petani makin bergairah untuk tanam bawang putih pada musim tanam tahun ini dan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani bawang putih di sejumlah daerah. Salah satu petani yang mendapat berkah berkat budidaya bawang putih adalah Bejo Supriyanto.

Petani bawang putih dari Desa Pancot, Kel. Kalisoro, Kec. Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar,  Jawa Tengah (Jateng) yang sudah budidaya bawang putih sejak 19 tahun silam tersebut juga meraup untuk hingga jutaan rupiah/musim tanam.

Menurut Bejo, bawang putih yang ditanam petani di lereng Gunung Lawu tersebut produktivitasnya antara 15-18 ton/ha. Sedangkan harga jual di tingkat petani Rp 20 ribu-Rp 25 ribu/kg (basah).  Kalau dikeringkan (sudah dijemur) harganya antara Rp 32 ribu-Rp 35 ribu/kg).

“Kami tanam bawang putih setahun sekali, bibitnya Tawangmangu Baru. Bawang putih yang kami tanam pada Mei bisa dipanen pada akhir September dan awal Oktober. Produktivitasnya rata-rata 15-18 ton/ha,” kata Bejo Supriyanto, di Jakarta, Rabu (8/5).

Bejo Supriyanto yang juga dipercaya sebagai KetuaKetua Gapoktan Mugi Rejeki, Kecamatan Tawangmangu, mengaku sangat beruntung bisa tanam bawang putih yang sudah dipanen pada awal Oktober tahun lalu.

Lantaran menguntungkan, luas lahan bawang putih di Kel. Kalisoro, Kec. Tawangmangu terus bertambah, dari 12 ha pada tahun 2018 menjadi 20-25 ha pada tahun ini.

Bapak dua anak ini juga mengungkapkan, tingginya harga bibit bawang putih yang saat ini mencapai Rp 65 ribu-Rp 70 ribu/kg  tidak menyurutkan niat petani untuk tanam bawang putih.

Mengapa demikian? Menurut Bejo, petani yang tanam bawang putih di lahan 1 ha hanya butuh bibit 600 kg. Apabila harga bibit Rp 70 ribu/kg, petani hanya butuh biaya Rp 42 juta untuk memulai tanam bawang putih.

Nah, kalau dikalkulasi, dengan  produktivitas 18 ton/ha dan harga bawang putih (di tingkat petani,red) Rp 20 ribu/kg , petani bawang putih masih mendapatkan margin keuntungan sekitar Rp 360 juta/musim panen. 

Taruhlah, kalau keuntungan kotor tersebut sudah dikurangi dengan biaya bibit dan sarana produksi (seperti pupuk) sekitar 50%-nya, petani bawang putih masih mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 159 juta/musim tanam.

“Tingginya harga bibit bagi kami memang tak masalah. Karena bibit yang kami tanam kualitasnya tinggi. Sehingga, dari bibit yang kami tanam produktivitasnya juga tinggi. Kalau produktivitasnya tinggi, kami masih dapat untung sekitar Rp 1.750/kg atau sekitar 50?ri biaya yang kami keluarkan,” papar Bejo.

Bejo mengatakan, pengembangan bawang putih di Kelurahan Kalisoro, Tawangmangu sampai saat ini cukup bagus. Umumnya petani di  Kelurahan Kalisoro memanfaatkan bibit bawang putih Tawangmangu Baru (TB).

“Memang masa panen bibit Tawangmangu Baru (TB) agak lama (150-130 hari), dibanding dengan bibit lainnya seperti Lumbu Ijo, Lumbu Kuning dan Sanggas Sembalun (110-115 hari). Meski lebih lama,produktivitas TB bisa mencapai 18 ton/ha,” papar Bejo.

Menurut Bejo, untuk mendapatkan tambahan hasil, petani Kelurahan Kalisoro, Kec. Tawangmangu melakukan tumpang sari antara bawang putih, bawang merah, bawang daun dan bawang pai.

“Untuk bawang merah haranya Rp 15 ribu/kg (basah). Sedangkan untuk bawang pai harganya Rp18 ribu/kg.  Setiap tanam 1 kg bawang merah kami bisa hasilkan minimal 4 kg bawang merah. Sehingga, sistem tumpang sari ini masih kami pertahankan,” papar Bejo.

Kerjasama dengan Importir

Bapak dua anak ini juga mengatakan,  saat ini sudah ada beberapa petani bawang putih di Kelurahan Kalisoro yang diajak bekerjasama dengan sejumlah importir bawang putih untuk tanam bawang putih.  “Ada sekitar 5 ha yang sudah bekerjasama tanam bawang putih dengan importir dari Semarang,” ujar Bejo.

Kerjasama dengan sejumlah importir ini, kata Bejo, juga menambah gairah petani untuk tanam bawang putih di sejumlah daerah di sekitar Kecamatan Tawangmangu. Sejumlah kawasan bawang putih tersebut diantaranya di Kecamatan Jatioso dan Jenawi.

“Kawasan yang dikerjasamakan dengan sejumlah importir itu sekitar 80 ha. Jadi, ke depan kami perkirakan, produksi bawang putih yang ada di lereng Gunung Lawu ini akan semakin banyak,” jelas Bejo.

Bejo juga mengatakan, dalam kerjasama tersebut petani mendapat bantuan bibit bawang putih sebanyak 500 kg/ha dan sarana produksi (saprodi) sekitar Rp 15 juta. Apabila sudah panen, hasil panennya sebanyak 30%-nya untuk importir dan sisanya sekitar 70% menjadi hal milik petani.  

“Kerjasama ini memang menarik bagi petani. Sebab, petani hanya menyediakan lahan dan tenaga kerja,” pungkas Bejo.

 

Reporter : INDARTO
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018