Sunday, 17 January 2021


Subsidi Input Bagi Petani, Adakah Alternatif?

25 Dec 2020, 12:51 WIBEditor : Yulianto

Subsidi input bagi petani, apakah mungkin diganti? | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Selama beberapa dekade kita telah menentukan kebijakan insentif bagi petani dengan subsidi harga input (subsidi berbasis input), khususnya pupuk dan benih. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, benih diberikan dengan cuma-cuma.

                           

Kebijakan itu lalu diikuti dengan bantuan alsintan, berupa traktor, thresher, dryer, pompa air dan bahkan combine harvester dalam jumlah besar, seiring dengan meningkatnya anggaran kementerian terkait secara signifikan.

Banyak kajian mengenai dampak insentif atau subsidi itu terhadap produktivitas dan produksi serta pendapatan petani. Kesimpulannya beragam. Sebagian menyatakan berdampak positif pada produksi, tetapi berdampak sebaliknya pada kesejahteraan petani. Sebagian menyatakan subsidi berbasis input akan membantu petani kecil sedangkan subsidi berbasis output akan menguntungkan petani besar. Sebagian lagi mengatakan subsidi berdampak pada penurunan angka Gini Ratio.

Pada intinya dapat disimpulkan bahwa dampaknya pasti ada, tetapi tidaklah spektakuler seperti yang diharapkan. Pertanyaannya, sejauh mana program itu akan berdampak pada pemberdayaan masyarakat dan perkembangan ekonomi pedesaan?

Tak bisa diabaikan bahwa suara para penerima bantuan di bawah masih belum sepenuhnya menggembirakan. Persoalan distribusi, kualitas dan timing masih banyak mengemuka. Belum lagi dipertanyakan siapa yang akan memelihara alsintan bantuan dan dari mana biayanya?

Lalu siapa yang akan mengunakannya? Sebagian besar petani berlahan kecil, bahkan hanya berstatus penggarap, bukan pemililk sehingga subsidi sebenarnya jatuh pada pemilik lahan yang umumnya kehidupannya lebih baik dari penggarap.

Pada saat yang sama, penanganan peredaran input yang kualitasnya tidak jelas masih belum tuntas, sehingga merugikan masyarakat. Selain, belum sesuainya bantuan alsintan dengan yang diperlukan petani dan buruknya pemeliharaan bantuan alsintan di pedesaan, sehingga cepat rusakakibat ketidakjelasan pengelola bantuan tersebut.

Silang sengkarut itu tidak lepas dari masalah kelembagaan pedesaan yang hampir selalu tidak berhasil dibentuk tuntas. Berbagai bentuk kelembagaan yang berintikan kerjasama masyarakat seperti koperasi, simpan pinjam, kelompok usaha, usaha bersama dan gotongroyong tidak berkembang di pedesaan.

Untuk mempercepat pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi pedesaan tak disangkal lagi memerlukan keberadaan kelembagaan pedesaan yang kuat, yang mampu menangani kegiatan ekonomi dan apalagi program-program besar berbiaya besar. Jika subsidi berbasis input maupun output berulang terus setiap tahun tanpa ada dampak signifikan yang membesarkan kesejahteraan dan kemampuan petani untuk berkembang, maka dana  besar pendukung progran itu hanyalah dana yang hilang.

Sudah tiba saatnya dikaji ulang upaya-upaya pembangunan pertanian termasuk materi penyuluhan yang memprioritaskan pengembangan kelembagaan pedesaan agar petani bisa membesarkan dirinya sendiri dan memanfaatkan program pemerintah dengan efektif.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018