Minggu, 18 Januari 2026


What?

27 Jan 2021, 08:53 WIBEditor : Yulianto

Pertanian kota, kecil tapi menguntungkan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---“What?” ini muncul sebagai ungkapan keheranan ketika peserta diskusi  mendengar bahwa rata-rata penguasaan lahan petani di Indonesia adalah sekitar 0.5 hektar. Di negara maju, ini adalah halaman atau kebun belakang. Bukan lahan pertanian untuk usaha, tetapi hanya untuk hobi. Biasanya dilakukan oleh pensiunan untuk beraktivitas dan berolahraga. Pertanian mereka adalah usaha komersial yang lahannya puluhan atau ratusan hektar.

Tetapi siapa sangka, luas usaha kecil ini dampaknya luar biasa. Pertanian kecil ini bisa memberi makan seluruh negeri walaupun diselang-seling impor. Petaninya tidak cengeng minta ini-itu, mereka tekun bekerja sepanjang hari walaupun penghasilannya kecil.

Itu adalah sekelumit cerita yang kuingat ketika mengikuti diskusi tentang “Pertanian Tanpa Subsidi” pada tahun 1997 (?) di Christchurch, New Zealand. Christchurch merupakan kota yang indah dan damai yang pernah diguncang gempa, sehingga meluluhlantakan kota tersebut pada tahun 2010.

Pertanian Indonesia memang pertanian rakyat, skala usaha kecil, bahkan sangat kecil. Orang terperangah kalau mendengan kang Sarta, petani di Desa Ciporang mempunyai sawah 2 hektar. Dia sudah masuk kategori orang kaya desa.

Demikian juga perkebunan rakyat termasuk skala kecil, kebanyakan luasnya di bawah 5 hektar. Tetapi hebatnya pertanian rakyat tidak pernah mati. Tahan banting betapa parah pun resesi ekonomi, tetap hidup, bahkan menjadi alternatif, serta tetap menempati porsi penting dalam perekonomian nasional.

Pertanian itu seperti John McClane yang diperankan Bruce Willis dalam film Die Hard, yang tetap bertahan, tetap hidup dan akhirnya jadi penyelamat. Film yang selalu menjadi box office itu berkembang terus menjadi beberapa seri.

Demikian juga pertanian kita. Bisa jadi menderita, tetapi tetap bangkit dan bertahan menjadi tumpuan. Pertanian dan pedesaan selalu jadi tumpuan saat terjadi kesulitan, walaupun kadang terlupakan pada saat hingar bingar gemerlap keberhasilan industri moderen,

Urban Farming

Ketika kita bicara usaha kecil, ada fenomena baru. Gerakan masyarakat untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan penggunaan lahan justru menguat pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan produktif memanfaatkan lahan pekarangan dan lahan sempit menjamur dan dampaknya luar biasa.

Kehausan akan pengetahuan tentang pertanian, baik yang berbasis lahan maupun tanpa lahan terlihat dari kegiatan rumah tangga, masyarakat dalam komunitas, program pemerintah daerah, dan peningkatan arus informasi yang tertangkap di medsos dan iklan.

Urban farming lahir di banyak kota, wisata dalam paket pertanian, pelatihan, dan program yang dikelola pemerintah daerah menggeliat. Keberhasilan ini mengundang perusahaan-perusahaan besar memberikan dana CSR.

Wajar memang, bantuan biasanya diberikan pada usaha yang mempunyai peluang keberhasilannya tinggi. Khususnya usaha sayuran dan tanaman semusim, manfaatnya berlipatganda. Tidak hanya bermanfaat dilihat dari sisi konsumsi dan pendapatan keluarga, tetapi juga dari segi estetika dan pemeliharaan lingkungan. Tanpa disadari, perhatian masyarakat akan lingkungan terbangun melalui kegiatan tersebut.

Gerakan pengelolaan sampah, penggunaan pupuk hayati, pemanfaatan black soldier fly (BSF) ramai di mana-mana. Pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) yang diprakarsai Dr. Kamir R Brata dari IPB juga dilakukan di mana-mana. Di sekolah-sekolah, komunitas, sampai di markas TNI dan lembaga terhormat.

Iklan produk dan input terkait dengan pertanian hobi dan skala rumahtangga juga meningkat dan menyebar di pasar becek sampai penjualan online.  Ini berita yang menggembirakan. Minat masyarakat, terutama generasi muda terhadap pertanian dan terutama apresiasi terhadap lingkungan meningkat jauh dari masa sebelumnya.

Bukan Fenomena Sementara

Kita tidak boleh melihat fenomena ini hanya fenomena sementara saja, tetapi harus dilihat sebagai satu perubahan baru yang harus terus dipupuk dan dibesarkan. Perlu ada perhatian khusus dari pemerintah untuk memasilitasi, memberi semangat dan kemudahan, untuk memperoleh benih, pupuk dan peralatan yang diperlukan.

Mereka tidak memerlukan subsidi, yang penting adalah kemudahan dan kepastian akan kualitas. Demikian juga pemasaran produknya. Ini adalah segmen pasar baru. Pada umumnya kualitas produknya berada di atas produk yang lain, berkualitas baik, segar dan terbebas dari penggunaan zat berbahaya. Usaha kecil berbasis hobi ini akan berdampak luar biasa, sehingga harus terus dikembangkan.

Walaupun demikian, terlepas dari keberhasilan usaha kecil ini, bagi Indonesia ancaman kelangkaan lahan pertanian sudah pada tahap menghawatirkan. Sengketa lahan semakin sering terjadi, luas usaha terus menurun karena sebagian lahan terus dikonversi untuk tujuan lain seperti industri dan fasilitas sosial dan perumahan.

Harga tanah di Indonesia sudah sangat mahal dibandingkan dengan di negara-negara lain, khususnya negara yang berbasis ekonomi pertanian. Lahan hutan sudah mulai digunakan untuk pertanian dan lahan negara dalam pengeloaan perusahaan BUMN sudah direlakan untuk digunakan usaha pertanian dengan sistem dan aturan tertentu.  Pertanyaannya adalah sampai kapan lahan baru akan dapat dibuka untuk diolah oleh petani? Mungkin 10 atau 20 tahun ke depan? Ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018