Wednesday, 30 September 2020


Mimpi Baru (22)

03 Sep 2020, 11:30 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Buat seorang pejuang sejati, tak ada yang namanya akhir sebuah perjuangan. Selalu ada mimpi baru yang lebih besar dan keinginan untuk mewujudkannya

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Wulan masih duduk tak beranjak dari meja makan sesudah berbuka puasa. Kolak buatan  emaknya dia makan pelan-pelan seakan sedang merasakan kenikmatan makanan manis itu dari setiap sendok yang dia suapkan. Badannya disandarkan ke kursi dan kepalanya bergoyang-goyang. Muka Wulan kelihatan lelah. Jam di dinding sudah berdentang 8 kali. Bulan puasa sudah memasuki hari ke sepuluh, bulan di halaman sudah semakin membulat.

Lewat jam 9 Marbun datang dari mesjid beriringan dengan beberapa orang tetangga. Mereka mengobrol sambil berjalan.

“Assalamualaikum,” kata Marbun saat dia belok ke pekarangan rumahnya.

Tetangganya membalas salam. Pintu berderik ketika Marbun membuka pintu pagar. Wulan bangun berdiri dan mencium tangan bapaknya, lalu mereka duduk melingkar menghadapi semangkuk kolak dan wedang jahe. Bentang masih berada di mesjid bersama dengan kawan-kawannya.

BACA JUGA:

Batas Tipis (21)

Titik Imaginer (20)

Titik Imaginer (19)

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Kenapa kelihatan sayu begitu. Puasa gak boleh loyo, harus tetap bersemangat,” kata Marbun sambil tersenyum.

“Capek sekali hari ini, Pak,” katanya pelan.

Wulan sudah berubah. Dia sudah tidak lagi memikirkan kepentingan dirinya. Kelainan yang dirasakannya tidak pernah dipikirkan.

“Itu urusan Tuhan karena Dialah yang membuat aku seperti ini,” katanya.

Wulan tidak pernah menguatirkan dirinya tapi justru dikuatirkan orang lain sehingga pernah mengganggu kehidupannya. Sekarang berubah. Setelah sekian tahun berkiprah dalam pekerjaannya membantu orang lain, dunia tidak pernah lagi menggunjingkan dirinya. Beberapa helai rambut Wulan sudah memutih sehingga perempuan berumur 35 tahun itu kini kelihatan bijak dan dewasa.

Dalam pakaian kerja berwarna krem dia kelihatan matang ditempa pengalaman. Tapi begitu sampai di rumah orangtuanya Wulan kembali menjadi Wulan anak sulung yang banyak dinasehati bapak. Marbun suka memberi semangat, dan Wulan mau mendengarkan, seperti anak kecil yang manja, walau sambil telungkup di meja makan dan akhirnya dia akan tertidur di sana.

“Sampai di mana pekerjaan yang diminta orang kabupaten itu?”

“Sudah selesai beberapa hari yang lalu, tapi sudah datang lagi pekerjaan baru yang lebih sulit.”

 “Pak Sukandar bilang pekerjaan ini diberikan padaku karena aku orang sibuk.”

Marbun tertawa keras. Duduknya bergeser ke dekat Wulan. Kaki kursi berderit ketika dia tarik. Dia tidak mengerti mengapa kali ini dia merasa bahwa dirinya tidak lagi seorang yang keras seperti biasanya. Kali ini dia adalah seorang bapak yang dengan lembut memberi semangat buat anaknya yang sedang mengadu.

“Wulan, buat seorang pejuang sejati, tak ada yang namanya akhir sebuah perjuangan. Selalu saja ada mimpi baru yang lebih besar dan keinginan untuk mewujudkannya,” katanya berfalsafah.

“Tidak mudah mewujudkan mimpi, karena mimpi adalah sebuah keinginan besar yang benyak sekali lika-likunya. Perlu kesabaran, kerja keras dan ketawaqalan. Seperti yang selalu kita lakukan.”

“Bahkan aku melakukannya dengan bekerja seperti orang gila,” jawab Wulan sambil tertawa diikuti tawa Marbun dan Murniasih.

“Padahal sebetulnya mimpi kita tidak terlalu besar barangkali, Pak. Hanya ingin keluar dari kesulitan yang selama ini membelenggu kita. Tidak apa-apanya dibandingkan dengan keinginan orang lain. Ukuran mimpi mereka begitu besar tidak bisa kita bayangkan,” jawab Wulan.

Marbun tersenyum. Murniasih juga tersenyum dan mengangguk. Tapi kemudian Marbun menggelengkan kepalanya.

“Tapi kamu jangan melihat besarnya mimpi itu dari gundukannya. Lihatlah dari jauhnya jarak dari keadaan awal kita. Karena mimpi itu juga harus masuk akal, bukan seperti mimpi ingin jalan kaki ke bulan,” katanya sambil menunjuk ke bulan lewat langit-langit rumah.

“Dan alangkah salahnya kalau mimpi itu diukur dari benda fisik dan harta kekayaan. Emak pikir keinginan kamu untuk membantu orang kecil mempertahankan hidupnya adalah mimpi yang sangat luhur,” tambah Murniasih.

“Benar sekali kata Emakmu.”

“Mimpiku hanya untuk diri sendiri, tapi sekarang tidak hanya keinginan sendiri yang harus dicapai. Sudah bermacam-macam pekerjaan baru dibebankan kepadaku oleh pak Sukandar dan pak Bupati. Sebenarnya itu bukan mimpiku, Ma,” keluh Wulan.

Kembali Marbun dan Murniasih tersenyum. Mereka bangga sekali pada anaknya.

“Orang lain telah melihat kamu melakukan pekerjaan itu dengan baik. Mereka tidak memberikan pekerjaan kepada orang yang tidak mampu mengerjakannya, oleh karena itu dia bilang akan memberikan pekerjaan kepada orang sibuk. Ini adalah buah pekerjaanmu, Wulan. Mimpimu telah jadi kenyataan dan sekarang mimpi itu sedang dibesarkan oleh orang lain karena mereka percaya akan kemampuanmu. Itu harus kamu syukuri,” kata Marbun.

“Dan harus kamu lakukan,” tambah  emaknya.

“Lakukanlah kalau itu sesuai dengan keinginan hatimu. Ingat kata Bapak, tidak ada perjalanan terakhir buat seorang pahlawan sejati. Dia akan terus berjuang dan melahirkan mimpi-mimpi baru. Karena apa? Karena bagi seorang pemenang, hanya kematian yang menghentikan mereka dari berpikir, bermimpi dan berkarya. Mungkin mimpi itu bukan untuk mereka sendiri, tetapi untuk orang lain.”

Wulan terdiam. Dipandangnya bapaknya lama-lama. Dia melihat bapaknya tersenyum memberi semangat, dan Wulan juga tersenyum mengiyakan. Malam merayap pelan. Anak-anak tidak banyak bermain di jalanan. Mereka kekenyangan sesudah berbuka puasa. Tak lama kemudian Bentang masuk dengan gontai.

“Kebanyakan makan kue-kue di mesjid sesudah tarawih,” katanya menjawab pertanyaan bapaknya mengapa dia terlihat lelah.

Bentang langsung masuk ke kamarnya. Tiga kamar yang dulu penuh sesak diisi tujuh anak itu sekarang kosong. Tinggal Bentang yang tersisa, karena kakak-kakaknya sudah pergi bekerja atau sekolah di luar kota. Khusus buat Bentang, Wulan agak banyak menyediakan macam-macam kebutuhannya, terutama komputer dan peralatannya. Setiap malam Bentang sibuk dengan caranya sendiri mengembara di dunia maya. Di sanalah dia membenamkan dirinya untuk belajar lebih terkonsentrasi, tanpa terganggu oleh kegiatan lain. Dengan begitu Bentang bisa lebih fokus bekerja, tidak mudah mengalihkan perhatian pada yang lain.

Malam terus bergerak kian larut tapi bertiga mereka seakan lupa akan kantuk. Akhirnya mereka pindah ke kursi rendah supaya lebih nyaman beristirahat. Sesudah Wulan mendapat pekerjaan sebagai ketua koperasi, dia tinggal terpisah dari orangtuanya. Dia tinggal di paviliun yang satu atap dengan bangunan Koperasi Mandiri yang dia kelola lebih dari delapan tahun yang lalu. Sekali-sekali dia pulang ke rumah orangtuanya, menengok adik-adiknya yang sudah mulai dewasa. Sekarang hanya Bentang yang tertinggal karena yang lain sudah berpencar mencari pengalamannya sendiri-sendiri.

Jamal sudah bekerja di pabrik perakitan mobil di Bekasi selepas lulus dari STM. Dia mewarisi keahlian bapaknya menekuni mesin dan mobil. Pada umur 27 tahun dia kawin dengan gadis anak kostnya di Bekasi dan sudah mempunyai seorang anak perempuan. Dia tidak pernah melupakan kebaikan kakaknya yang mendorongnya untuk belajar dan membiayai sekolahnya sampai dia lulus. Jamal mendekap erat kakaknya sambil menangis sesudah sungkem kepada orangtuanya pada perkawinannya di Bekasi. Wulan adalah orang yang berjasa sampai dia bisa menyelesaikan sekolahnya di STM. Wulan pula yang membelanya ketika dia berkelahi dengan si Wirjan, kakak kelasnya yang berlaku kurang ajar sama Wulan. Jamal menderita biru lebam di mukanya tetapi merasa puas sudah melempar anak kurang ajar itu dengan batu bata.

(bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018