Tuesday, 29 September 2020


Batas Tipis (21)

02 Sep 2020, 15:56 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Gila dan Hebat itu ternyata saudara kembar yang terpisah hanya karena keadaan. Kalau dibina dengan baik dua-duanya akan jadi pahlawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Marbun dan Murniasih se-akan tinggal di dunia beradab yang tak pernah sepi dari aturan dan tata cara.

Tapi ketika mereka terdampar di lautan masalah yang begitu besar, keduanya seakan kehilangan pegangan. Akhirnya yang muncul adalah keberanian yang tiada tanding. Itulah yang barangkali mereka anggap sebuah kenekatan. Mereka tidak yakin apakah itu perasaan, tindakan, niat atau hanya impian, tetapi kenyataannya kenekatan ini diwujudkan dalam bentuk kerja keras yang hampir tidak ada batas waktu dan batas lelah. 

“Hidup kita banyak diwarnai dengan sikap nekat, Muy,” kata Marbun sambil tertawa.

Murniasih tertawa. Berdua mereka tertawa terbahak-bahak. Enak sekali..

BACA JUGA:

Titik Imaginer (20)

Titik Imaginer (19)

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Kita nekat karena kita tak punya apa-apa. Kita tak akan kehilangan apa pun walaupun kita tak berhasil meraih yang diinginkan. Kita tidak pernah rugi walaupun tidak berhasil, malahan untung karena mendapatkan pengalaman.”

“Kita seperti tak takut kehilangan nyawa. Dan kehilangan nyawa tak dipersoalkan kalau hidup juga tidak lebih berarti,” kata Marbun lagi.

“Kita nekat, Kang. Aku gak mau kehilangan nyawa, karena kita nekat dengan penuh perhitungan. Kita tidak putus asa. Nekat dengan putus asa itu berbeda. Kita nekat karena kita mempertaruhkan kehidupan dengan perhitungan hasil pemikiran yang lama dan hati-hati. Kalau berhasil kita menang, kalau tidak berhasil barangkali hancur. Tapi kita tidak kalah. Kita pertaruhkan seluruh milik kita, tetapi tidak harga diri dan masa depan. Dengan begitu kita tidak akan kalah.”

“Tadinya kita pertaruhan nyawa. Aku berani mati.”

“Nggak, Kang. Kehancuran belum tentu kematian. Mungkin kita kehilangan segalanya tetapi kita masih punya waktu untuk mengulang kembali dari awal dengan modal nol,” jawab Murniasih.  

“Barangkali aku boleh sebut usaha gila. Karena masalah yang kita hadapi juga masalah gila, maka upayanya juga harus gila-gilaan, ha ha…”

“Muy, kawanku bilang gila dengan hebat itu beda tipis saja. Cara gila itu bisa berujung hebat.”

“Mungkin maksudnya gila dalam arti usaha habis-habisan dan melakukannya tidak melalui pola yang biasa dan rutin tetapi di luar kebiasaan, ya,” kata Murniasih.

“Kayaknya itulah yang kita lakukan. Karena kita terdesak oleh keadaan dan keterbatasan. Tak ada modal lain kecuali keberanian dan kerja keras.”

“Itu justru modal yang utama bagi siapa pun yang akan memulai satu usaha. Kita sudah sepakat bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah pengalaman yang berharga. Yang kita lakukan hanyalah mencoba dan mencoba karena keberhasilan sebenarnya bukan milik kita,” kata Marbun mengulang kata-katanya sambil menyandarkan badannya di kursi rotan panjang.

Inilah pelajaran sepanjang hayat yang dirasakan Marbun dan Murniasih. Mereka berpengalaman merasakan bahwa keberhasilan, karya besar, kerja keras dan kesulitan selalu berjalan berdampingan. Semuanya adalah bekal penting untuk menapaki masa depan. Seakan satu paket modal yang selalu diberikan orang bijak.

***

Jamal dan adik-adiknya mulai memasuki sekolah dengan dukungan dari kakaknya, Wulan. Wulan juga sudah melakukan pekerjaan gilanya, belajar dengan segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dia tidak didukung oleh biaya dan fasilitas apa pun. Hanya tekadnya yang menjadi modal untuk sekolah. Waktu yang hanya 24 jam sehari itu digunakan untuk segala macam kegiatan yang menghasilkan tanpa terlalu memikirkan berapa pun imbalannya. Tapi imbalan yang paling besar adalah pengalaman yang selanjutnya jadi modal perjalanan. Imbalan berupa uang itu adalah bagian yang paling kecil. Gaji Wulan sangat kecil sampai dia tak bisa mengatakannya. Kalau dipakai untuk makan sedikit enak saja, maka uang itu akan habis melayang. Untung dia dapat makan walaupun sederhana. Penghasilannya yang sedikit itu digunakannya untuk menolong orang lain memulai kegiatan usaha. 

Wulan melewati jejeran pedagang kecil yang duduk sepanjang jalan ke rumahnya. Mereka munjual makanan dan sayuran segar di bakul-bakul bambu. Kepada merekalah uang Wulan dipinjamkan yang nantinya akan dikembalian mingguan. Pikirannya dia gunakan untuk menciptakan kegiatan yang bisa dilakukan orang lain yang membutuhkan. Ada kenikmatan yang tidak bisa diukur ketika Wulan melihat perempuan penjual bakulan itu duduk menghitung uang dan memisahkan keuntungan. Mukanya cerah dan senyumnya mengembang. Dan saat mereka bertemu, semuanya datang menjemputnya, berbondong-bondong berebut cerita tentang jualannya hari itu. Wulan pun mendengarkannya dengan penuh antusias, seolah dia ikut berjualan di sana.

Marbun dan isterinya mengamati kebahagiaan Wulan. Anak yang sebelumnya dikuatirkan akan punya masalah itu mampu membalikkan perkiraan orang. Wulan mampu menciptakan dunianya sendiri dan menikmati pekerjaannya.

“Tak perlu malu untuk melakukan pekerjaan gila, Muy. Kita telah melakukannya dan berhasil. Wulan sudah melakukannya dan juga berhasil. Bentang memang punya keterbatasan tapi kita telah membesarkannya dengan kebanggaan dan berhasil menjadikannya orang yang berguna bagi orang lain.”   

“Selalu ada manusia gila, dan tak perlu merasa resah untuk menjadi orang  gila.”

Marbun meneguk kopi pekat di mug besar bertuliskan “Koperasi Mandiri”. Mug itu pemberian Wulan waktu koperasi itu diresmikan oleh bupati. Marbun dan Murniasih mendapat kehormatan duduk di jajaran depan di samping pejabat kabupaten. Mereka kikuk, tapi juga bangga. Anaknya yang dia kuatirkan karena dianggap berbeda itu telah menjadi seorang yang dikenal dan dipercaya. Dan yang penting dicintai oleh para pedagang kecil yang mendapat pinjaman modal dari koperasi binaan Wulan.

“Benar sekali seperti yang selalu kita katakan. Gila dan Hebat itu ternyata saudara kembar yang terpisah karena keadaan. Kalau dibina dengan baik dua-duanya akan jadi pahlawan.”

“Terima kasih, Wulan,” ucap Murniasih dalam hatinya ketika Wulan dipanggil ke panggung untuk menerima penghargaan dari bupati.

“Kita hanya ikan rucah, tetapi anak kita telah mengangkat nasib kita menjadi ikan yang berharga, Muy.”

“Tak ada yang bisa dibanggakan melekat di diri kita, tetapi buah cinta kita pada anak-anak kita telah memberikan pelajaran bahwa cinta bisa mengalahkan apa pun termasuk kekerasan. Agama kita mengajarkan itu,” bisik Marbun.

 (Bersambung ke: Mimpi Baru)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018