Wednesday, 27 January 2021


Mimpi Baru (24 - TAMAT)

05 Sep 2020, 07:10 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Kita semua melawan arus yang sangat deras untuk mendapatkan yang terbaik, karena kita tidak mau dihanyutkan oleh keadaan dan berbagai kekurangan seperti yang kita alami. Kita selalu merasakan kesusahan sejak kecil.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Yang tetap menjadi ganjalan bagi Marbun dan Murniasih adalah Bentang.

Dia memang anak yang genius, tapi tidak bisa mengontrol dirinya dengan baik. Wulan memberikan perhatian khusus pada adiknya yang satu ini. Pada umurnya yang ke 18 tahun, Bentang sudah duduk di kelas 3 SMA. Perjalanannya sampai ke SMA dirasakan begitu berat. Bentang memerlukan bantuan untuk bisa menjaganya dan mengawasinya agar fokus pada pekerjaan dan pelajarannya. Dan mereka berhasil mengangkat Bentang menjadi bintang. Yang paling memegang peranan adalah Wulan yang tidak pernah bosan untuk mengajari, membantu dan merangsang kegiatan khusus buat adiknya yang satu ini. Murniasih juga terus menyediakan waktu khusus untuk menjaga anaknya. 

Setelah kejadian Bentang mengacak-acak situs SMP tempatnya sekolah, Bentang beberapa kali melepas virus yang merusak komputer. Dia sendiri yang membuat antinya sampai kemudian Mr Albert datang ingin menemuinya.   Sesudah itu Bentang diajak untuk bekerja secara paruh waktu membantu perusahaan security. Tetapi Bentang tetap memerlukan bimbingan karena tidak mampu fokus pada pekerjaannya dalam waktu yang lama.  Harus ada yang mengingatkan dan mengarahkan jika dia mulai melenceng mengerjakan hal yang lain.

BACA JUGA:

Mimpi Baru (23)

Mimpi Baru (22)

Batas Tipis (21)

Titik Imaginer (20)

Titik Imaginer (19)

“Ada yang memerlukan kehebatan si Bentang, dan tidak main-main. Itu perusahaan multinasional yang tahu akan kehebatan anak kita,” kata Marbun.

“Alhamdulillah…” sambut Murniasih dan Wulan hampir berbarengan.

“Dia tidak menyadari kehebatan dirinya tapi seluruh dunia mengakuinya. Kita bangga dengan anak-anak kita. Kamu adalah salah satu yang paling duluan muncul menjadi bulan pemberi cahaya dan inspirasi, Wulan,” kata Marbun.

Wulan tersenyum dan sekali lagi dia peluk bapaknya.

***

Ketika ronda melewati rumahnya dan memukul calung membangunkan sahur, Wulan dan orangtuanya masih mengobrol sambil sekali-sekali beralih ke layar TV. Suara orang mengaji di TV membuat mereka berhenti ngobrol sementara. Murniasih membereskan makanan di bawah tudung saji untuk dipanaskan. Jam sudah menunjuk ke angka 3 lewat sedikit. Kopi susu yang dibuat untuk Marbun sudah mengepul. Marbun tidak makan banyak kalau sahur, tapi dia banyak minum, khususnya kopi susu kesukaannya. Susu segar yang diproduksi di desa Cigugur sudah menyebar penjualannya ke beberapa desa termasuk desanya sendiri. Murniasih membeli beberapa botol dan memasukannya di lemari es. Itulah yang membuat Marbun selalu segar dan badannya tegap tidak bungkuk karena kekurangan kalsium.

Pagi menjemput hati yang tak henti bermimpi. Tak berhenti. Mimpi baru datang akibat olah pikir yang tak pernah reda karena mereka hidup, dan terutama didera oleh keharusan agar dirinya tetap ada. Kini keberadaan dirinya sudah nyata, maka mimpi berikutnya dipicu tidak hanya oleh suara hati sendiri tetapi juga oleh dorongan manusia lain. Keresahan bisa saja berbuah mimpi, dan mimpi yang terindah adalah mimpi untuk mengabdi tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk mengabdi pada sesama manusia. 

BACA JUGA:

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Datanglah mimpi baru. Datanglah keresahan. Karena keresahan bisa juga berbuah indah. Goncangan kegaduhan yang membuat manusia belajar dan melahirkan pemikiran luar biasa. 

 

Dipersembahkan kepada mereka yang tak lelah berjuang untuk kehidupan dan kemanusiaan

SELESAI

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018