Wednesday, 30 September 2020


Mimpi Baru (23)

04 Sep 2020, 14:52 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Dia tidak menunggu nasib datang menghampirinya, tapi berusaha untuk menjemputnya kemudian menangkapnya di saat yang baik dan di tempat yang baik

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Junaedi, yang sedikit berjiwa petualang, tidak bisa dihalangi ketika dia ingin pergi ke Irian, diajak gurunya bekerja di Free Port.

Sejak masuk sekolah dia tidak mau dibantu oleh Wulan karena ingin berdiri sendiri sejak kecil. Oleh karena itu dia sengaja memilih sekolah perawat yang dibiayai negara dan memberikan ikatan dinas. Akhirnya Junaedi diajak salah seorang gurunya bekerja di rumah sakit di Timika.  Pihak rumah sakit di Timika mengganti biaya sekolah kepada negara karena Junaedi harus memutuskan hubungan kerja sesudah lulus sekolah. Setiap bulan Marbun menerima kiriman uang beberapa ratus ribu rupiah dari anaknya yang satu ini. 

“Anak yang paling tidak penurut itu sekarang sudah bisa memberi uang jajan kepada kita. Katanya gaji dia di Timika lumayan besar,” kata Marbun seakan sedang promosi.

“Alhamdulillah,” jawab Murniasih.

“Seringkali aku kangen sama si Junaedi ini. Dia anak yang paling susah diatur, tapi keinginannya betul-betul mantap dan dia berusaha untuk mengejarnya,” tambahnya.

BACA JUGA:

Mimpi Baru (22)

Batas Tipis (21)

Titik Imaginer (20)

Titik Imaginer (19)

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Kita semua seperti ditakdirkan untuk bekerja keras seperti orang gila. Itu karena Bapak dan Ema juga yang mengajarkannya kepada kami,” jawab Wulan sambil tertawa.

Gafur memperoleh keberuntungan karena sejak SMP mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan susu. Anak yang sejak SD selalu menjadi juara ini mulai dikenal ketika dia menjadi sepuluh murid terbaik sekabupaten. Perusahaan susu di Cigugur memberikan beasiswa kecil-kecilan waktu di SD dan beberapa botol susu setiap minggu sebagai upaya promosi bahwa minum susu itu membuat anak menjadi pandai. Kemudian perusahaan pengalengan susu di Jakarta memberikan beasiswa sejak dia masuk SMP dan diteruskan sampai lulus SMA. Anak yang agak pendiam dan pekerja keras ini akhirnya diterima di sebuah perguruan tinggi di Bogor tanpa ujian masuk. Tapi baru selesai semester kedua dia sudah diberangkatkan ke Melbourne University di Australia karena mendapat beasiswa dari universitas tersebut.

“Seharusnya begitulah cara mempromosikan produk makanan dan minuman. Jangan cuma dipromosikan oleh artis cantik dan olahragawan kuat di televisi. Produk itu harus langsung diberikan dan dikonsumsi oleh konsumen agar bermanfaat. Si Gofur sangat beruntung memperoleh beasiswa itu.”

“Alhamdulillah,” kata Murniasih dan Wulan hampir bersamaan. 

“Sekarang malah banyak promosi yang sedikit menipu dengan memberikan informasi yang salah dan cenderung membohongi. Itu harus ditindak. Pemerintah harus sangat berhati-hati,” kata Wulan.

“Itu foto Gafur di depan kampusnya saat winter. Gak menyangka anak orang miskin seperti dia bisa sekolah ke luar negeri,” kata Marbun sambil menunjuk foto berukuran sedang yang digantung di dinding.”

Di foto itu Gofur berdiri di depan kampusnya yang megah dan bertiang besar-besar seperti istana, dan Gofur, yang dibalut dengan jaket tebal berwarna hitam tersenyum.

“Dia kelihatan sehat dan gembira. Lebih ganteng lagi,” kata Murniasih sambil tertawa, diikuti tawa Marbun dan Wulan. 

“Kata si Bentang, Gofur mengirimkan fotonya lewat internet, terus dicetak dan diberi bingkai di sini,” kata Murniasih.

Wulan mengangguk. 

“Dia anak luar biasa. Tidak banyak omong tapi terus berusaha keras mengejar keinginannya. Bapak tahu, kan, dia tidak pernah beli buku. Hanya meminjam dan mendapat buku bekas kawan-kawannya. Asalkan mau, sekolah itu bisa kita jalani walaupun kita kekurangan. Ilmu bisa kita peroleh dengan biaya minimal,” kata Wulan.

“Kamu membantu memberikan kemudahan kepada mereka semua, Wulan. Mereka tak akan lupa berutang budi kepadamu,” potong Murniasih dengan suara agak serak.

“Dia anak hebat, Emak. Dia tidak menunggu nasibnya datang menghampirinya, tapi berusaha untuk menjemputnya kemudian menangkapnya di saat yang baik dan di tempat yang baik. Aku sangat kagum padanya.”

“Ya, tapi juga tak lepas dari peran kamu, Wulan. Perjalanan  si Gafur itu selalu atas bantuan dan bimbinganmu,” sambung bapaknya.

“Kita semua melawan arus yang sangat deras untuk mendapatkan yang terbaik, karena kita tidak mau dihanyutkan oleh keadaan dan berbagai kekurangan seperti yang kita alami. Kita selalu merasakan kesusahan sejak kecil. Bapak dan Emakmu bukan orangtua yang pantas dibanggakan, tetapi kalian memberikan kebanggaan kepada kami berdua,” kata Marbun sambil memegang pundak Wulan.

Wulan memeluk bapaknya dan menciumnya, lalu melakukan hal yang sama kepada  emaknya. Tak ada seucap pun kata selama beberapa saat, sampai akhirnya Wulan berkata tegar.

“Semua ini karena pelajaran terbaik yang kami terima dari Bapak dan Emak. Kami tidak hidup sendirian tanpa bimbingan. Bapak dan Emak pantas berbangga dengan mengajarkan kerja keras dan selalu percaya diri.”

“Bapak sudah banyak bicara dengan adikmu Sulaeman supaya meneruskan sekolahnya, tapi dia tetap dengan pendiriannya. Sesudah belajar berdagang burung dengan tetangga sebelah, dia merasa sudah kerasan dengan usahanya. Bapak biarkan dia meneruskan keinginannya,” kembali Marbun cerita satu-satu tentang anaknya.

Kembali suasana sunyi beberapa saat. Marbun mengangguk, pikirannya sedang terbang mengingat banyak hal. Dia pantas untuk kuatir menghadapi kenyataan usaha bengkelnya tersendat, sementara anak-anaknya mulai memerlukan biaya besar untuk sekolah. Beruntung Wulan mulai membantu biaya sekolah. Setelah Jamal selesai, dia pun berpatungan membantu adik-adiknya. Kini Rakhman dan Hakim sudah belajar di Pesantren Gontor. Mereka hidup prihatin dalam bimbingan para seniornya. Marbun bersyukur karena biaya sekolah di pesantren Gontor ternyata tidak besar sehingga tidak terlalu membebani kehidupan keluarganya.

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018