Saturday, 29 January 2022


Mengapa Kodok Memanggil Hujan?

04 Jan 2022, 21:20 WIBEditor : Yulianto

Kodok di sawah | Sumber Foto:dok.Hobimancing

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ada yang masih ingat lagu Sang Kodok memanggil Hujan? Lagunya begini.

Sang bango eh eh sang bango mengapa ente delak delok aje? /Mangekenye aye delak-delok aje, eh sang hujan turun aje /Sang hujan eh eh sang hujan mengapa ente turun aje? /Mangkenye aye turun aje, sang kodok memanggil aye. /Sang kodok eh eh sang kodok mengape ente panggil hujan? /Mangkenye aye panggil hujan, sang bango mau makan aye. /Sang bango eh eh sang bango mengape ente mau makan kodok? /Mangkenye aye mau makan kodok, sang kodok makanan aye. Titik!

Inti cerita adalah, kalau soal makanan memang ceritanya bisa panjang. Ada rantai pasok. Karena kentang diminta di Jakarta, tapi diproduksi di Wonosobo. Beras diminta di Samarinda, tapi diproduksi di Indramayu. Ssayuran diproduksi di dataran tinggi, tapi diminta di dataran rendah. Maka perdagangan terjadi dan semua pihak yang terlibat mengambil untung. Rantai pasok bekerja! Seperti kata hukum alam, keseimbangan atau keadilan adalah kunci bagi berlangsungnya satu sistem supaya berkelanjutan.

Informasi berperan, kang Sarta, petani kecil di lereng Gunung Ciremai, yang menanam cabe menjelang hari raya ternyata kecele, karena saat panen tiba harganya jatuh karena pasokan melimpah. Bisa jadi petani berpikiran sama, permintaan pada hari raya akan melonjak, sehingga ramai-ramai tanam cabe, atau ada kejadian mendadak, misalnya cabai impor menggelontor pada saat  panen tiba.

Nah, dunia digital, otomasi, big data dan internet of thing telah datang. Semua bisa dipetakan dengan baik sehingga distribusi bisa cepat akurat dan tentu saja harus adil. Semua pelaku memperoleh imbalan sesuai dengan peran, pengorbanan, dan risikonya. Jangan ada yang dikecewakan. Data harus akurat, standar produk harus jelas, infrastruktur harus mendukung dan kelembagaan produksi dan pemasaran bersinergi. Siapa yang harus memulai?

Sistem yang moderen ini sudah berlangsung. Yang muda, yang pandai, yang kreatif dan yang jujur mau berbagi telah berhasil. Milenial. Cerita perjalanannya panjang, berpengalaman ditipu dan merugi tetapi dia bangkit dan berusaha lagi.

Tidak mudah karena bekerjasama dengan sekian banyak pihak. Mereka bahkan tidak mempunyai apa-apa kecuali kehebatan tekad di dalam dadanya. Merekalah yang harus dibantu dan dikembangkan, termasuk permodalan dan fasilitas. Lagipula terbukti, mereka berbekal kejujuran, kreativitas dan kecerdasan. Mengapa kita harus tidak percaya dan berburuk sangka. Dunia moderen sudah tiba dan kita tidak mungkin mengelak apalagi berpura-pura.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018