
Salah satu bendungan terbesar di NTB, Bendungan Bintang Bano
TABLOIDSINARTANI.COM, Lombok --- Dalam menghadapi tantangan musim kemarau yang mengancam ketersediaan pangan di NTB, Pj Bupati telah meluncurkan strategi inovatif dengan memanfaatkan sumber daya terbesar mereka: air bendungan.
Penjabat Gubernur NTB, Drs H Lalu Gita Ariadi, M.Si, telah mengeluarkan peringatan kepada jajarannya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak kekeringan yang diperkirakan akan terjadi seiring datangnya musim kemarau.
Ancaman kekeringan ini diprediksi akan memberikan dampak yang meluas, terutama bagi sektor pertanian. Penurunan produktivitas hasil pertanian dapat mengganggu ketersediaan stok pangan, terutama beras, yang menjadi perhatian utama dalam upaya menjaga ketahanan pangan wilayah tersebut.
Pj Gubernur NTB, Miq Gite, menggarisbawahi pentingnya optimalisasi penggunaan sumber daya air, seperti air bendungan, bendung, embung, dan sungai, untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian.
Hal ini dilontarkan dalam konteks arahan Presiden Joko Widodo pada rapat koordinasi pengendalian inflasi di Istana Negara, di mana pemerintah pusat dan daerah diperintahkan untuk bersama-sama mengatasi masalah kekeringan.
"Semua potensi sumber daya air, terutama air dari bendungan, harus dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk keperluan irigasi pertanian," tegas Miq Gite.
Presiden Joko Widodo secara langsung menyebutkan Bendungan Tiu Suntuk di NTB yang baru saja diresmikannya. Dia menegaskan pentingnya mengalirkan air dari bendungan tersebut ke sawah untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, terutama untuk produksi beras.
Selain itu, Miq Gite menyampaikan bahwa Presiden juga telah menjanjikan bantuan berupa pompa air untuk menyedot air dari sungai, yang nantinya akan dialirkan ke lahan pertanian. Bantuan ini akan ditangani oleh Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, dan TNI.
"Pemerintah pusat telah menyiapkan sekitar 20 ribu pompa air yang akan dipasang di daerah dengan produksi pangan, terutama beras. Pompa-pompa ini akan digunakan untuk mengambil air dari sungai dan mengalirkannya ke sawah," jelas Miq Gite.
Menurut Miq Gite, dampak dari kekeringan sangat luas, tidak hanya menyebabkan kekurangan air bersih tetapi juga mengganggu produktivitas pertanian karena kurangnya air untuk irigasi.
"Kekeringan dapat menyebabkan penurunan produksi pangan, terutama beras, yang berdampak luas pada seluruh sektor kehidupan masyarakat," ujarnya.
Mengenai strateginya, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Ibnu Salim S. H., M. Si, CGCAE, menambahkan NTB bersama pemerintah kabupaten/kota dan pihak terkait terus berkoordinasi untuk menyusun strategi penanganan dampak kekeringan yang matang.
Salah satu strategi yang disepakati untuk mengatasi kekeringan adalah pembuatan sumur bor, pemasangan pompa air, serta pemanfaatan air bendungan untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
Menurut Ibnu Salim, upaya strategis dalam penanganan kekeringan harus mencakup pencegahan. Dia menekankan pentingnya langkah-langkah permanen untuk mengatasi masalah kekeringan.
“Selain dukungan anggaran, pencegahan atau mitigasi harus dilakukan secara terus-menerus untuk mengurangi risiko bencana,” tegasnya.