Wednesday, 21 October 2026


Bantuan Alsintan Kian Dibutuhkan

17 Dec 2018, 13:53 WIBEditor : Yul

Bantuan alsintan tetap diberikan kepada petani.

TABLOIDSINARTANI.COM -- Bergulirnya bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) sudah banyak membantu aktivitas petani dalam memperlancar usaha tani. Karenanya, diharapkan tahun 2019 bantuan alsintan tetap diberikan kepada petani.

Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan), Andi Nur Alam Syah menuturkan, program mekanisasi pertanian serta bantuan alsintan semakin dibutuhkan petani karena berpengaruh secara signifikan pada kesejahteraan petani.

“Alsintan mampu menekan biaya operasional 35 hingga 48 persen dalam produksi petani. Dulu tanpa kemajuan mekanisasi ini, petani bisa membajak sawahnya satu hektar berhari-hari, tapi kini cukup 2 hingga 3 jam saja,” ungkap Andi Nur Alam.

Andi Nur mencontohkan penggunaan combine harvester, panen bisa secara otomatis dalam sekali jalan karena alat dilengkapi penebas, perontok, kemudian keluar sudah bentuk gabah. Petani bisa langsung memasukkan gabah kedalam karung, sehingga waktu bisa terpangkas dengan efisien.

“Di beberapa tempat, luasan panen mencapai 3 ha bisa hanya dilakukan dalam waktu 3 jam saja asalkan cuaca bagus dan tanah tidak lembek,” ujarnya.

Keuntungan lain penggunaan alsintan dapat mengurangi penyusutan hasil panen (losses) sebesar 10% dan meningkatkan nilai tambah. Bahkan penanaman padi yang dulunya hanya satu kali setahun, kini bisa tiga kali karena proses pengolahan dan panen yang cepat. “Produksi yang dicapai petani lebih tinggi, pendapatan petani pun ikut naik,” ujarnya.

Solusi Tenaga Kerja

Andi Nur juga menuturkan alsintan menjadi solusi kelangkaan tenaga kerja yang sering terjadi di pedesaan. Apalagi jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani yang sudah berusia lebih kurang 60 tahun kemudian disusul usia antara 40-45 tahun.

Masalah yang muncul pada kegiatan tanam dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit padi. Mesin transplanter adalah sebagai solusi peningkatan kerja kegiatan tanam padi. Hemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. “Faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budidaya padi,” ujarnya.

Dampak nyata penggunaan mesin tanam padi ini, terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan bahwa rata-rata kinerja satu mesin transplanter dengan satu orang operator dan dua asistennya dapat menggantikan 15-27 hari orang kerja (HOK). Sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1-1,2 ha/hari.

Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementan sendiri telah menghasilkan mesin transplanter yang dinamai mesin Transplanter Jarwo 2:1. Secara umum rata-rata biaya tanam padi secara manual sekitar Rp 1,72 juta/ha, sedangkan dengan mesin transplanter jarwo 2:1 sekitar Rp 1,1 juta/ha.

 

Reporter : Gsh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018